Mas Dito and the GanK

  • 0

Mas Dito and the GanK

Category : KISAH

Baru kali ini aku hanya mengajar ikhwan-ikhwan kecil. Biasanya santri akhwat dan santri ikhwan diajar bersama. Ini aji mumpung. Mumpung ukhty yang bisa datang mengajar TPA cukup banyak. Jadi kita bisa membentuk kelompok-kelompok kecil. Jauh lebih efektif untuk ukuran amatiran seperti kita. Apalagi tanpa bu Narti yang biasanya “mengontrol” mereka. Beliau sedang ada pengajian.

Hari ini pengajaran TPA  full by akhwat SKI.

Biasanya aku sibuk dengan adik-adik santri akhwat yang manja-manjanya bukan main. Kadang menggelayut seenaknya. Atau ceriwis bercerita saat temannya sedang baca iqro’. Biasa, anak kecil memang suka cari perhatian

Nah kali ini lain. Mas Ilham, putranya Bu Yanti yang biasanya ngajari santri putra sedang sibuk membantu ibunya menyiapkan buka. Anak-anak putra mulai resah karena tidak ada yang ngajar. Bahkan mulai ada yang kelihatan terlibat baku hantam. Wah,wah.

Seorang ukhty mengingatkan mereka. Tapi tak digubris.

Aku mendekat.

“Assalamu’alaykum. Halo mas-mas  ganteng. Siapa yang belum baca iqro’”

“Udah bu, udah baca kok dengan Mbak itu”

Wah mereka memanggilku ibu.

“Eh itu siapa kok main pukul-pukulan?”

“Dito bu . . .” sahut teman-temannya yang lain.

Aku perhatikan dia sejenak. Dito, wajahnya terlihat keras dan penuh kemarahan.

Teringat pembicaraan dengan mbak Way kemarin tentang menangani anak bermasalah. Beliau mahasiswi Psikologi.

“Jadi dek, kalau menangani anak harus disesuaikan dengan umurnya. Seingat mbak, usia di bawah 7 tahun itu jangan dilarang-larang. Jangan begini, jangan begitu. Mereka belum mengerti betul dengan apa yang mereka lakukan. Kalau anak sering dilarang-larang dampaknya bisa terbawa ke yang lain-lain, bahkan saat dia udah besar. Jadi serba takut kalau melakukan apa-apa.”

“Terus gimana kalau anak melakukan sesuatu yang nggak bagus? Cara melarangnya?”tanyaku penasaran.

“Nah, misal anak bicaranya nggak bagus, jangan langsung dimarahi. Anak kecil itu kadang suka bicara seperti itu karena suka aja. Atau meniru seseorang. Tapi dia belum mudeng kalau itu jelek. Yang bisa kita lakukan adalah mengalihkannya dengan kata-kata atau perbuatan yang baik. Dislemur bahasa jawanya. Lakukan itu berulang-ulang sehingga yang dia hafal kata-kata atau perbuatan yang bagus”jelas mb Way

“Oh . . . gitu mbak. Kalau dia udah 7 tahun lebih gimana?”

“Kalau tidak salah umur 7-12, anak sudah bisa diperkenalkan dengan aturan-aturan. Sedangkan seumuran SMP dan SMA mereka sudah bisa diajak diskusi, jadi tempatkan diri kita sebagai kawan mereka”

Hem. Belajar psikologi manusia memang menyenangkan dan sangat berguna. Seperti sekarang ini.

“Eh Mas Dito, tahu syetan nggak?”tanyaku ke Mas Dito yang sedang memukuli temannya. Mas Dito ini ternyata kelas 3 SD.

“Tahu!”jawab Mas Dito sambil melihat ke arahku.

“Syetan itu kaya apa? Mukanya bagus atau jelek?”

“Jelek” jawab ikhwan-ikhwan kecil itu.

Tiba-tiba saja Mas Dito bercerita. Dia sudah tidak lagi sibuk memukul.

“Aku udah pernah lihat film-film syetan mbak”

“Oh ya. Mas Dito nggak takut?”

“Nggak! Ada kuntilanak, tali pocong perawan, . . .”

Mas Dito menyebutkan sederetan film horror lain. Astaghfirullah! Bukannya itu film dewasa?

“Lihat sama siapa Mas Dito?”

“Lihat sendiri”

Aku miris mendengar ceritanya. Seorang anak, kira-kira 9 tahun menonton film macam itu! Dimana orang tuanya?

Belum sempat kuselidiki lebih jauh, adik-adik yang lain sudah sibuk berceloteh tentang syetan.

Ada . . . saja yang diceritakan.

“Mbak-mbak, katanya kalau bulan puasa syetan-syetan dikrangkeng, kok Dto masih bertengkar sama Angga . . .”

“Ho . . . jangan salah. Syetan itu meski udah dikrangkeng masih nggak menyerah menggoda manusia. Dia suka banget kalau ada yang marah-marahan. Orang yang lagi marah dibisik-bisiki, ayo, ayo pukul aja temenmu. Tahu nggak, kalau kita menuruti mereka, berarti kita jadi teman mereka…Syetan itu tempatnya dimana?”

“Neraka . . .”teriak mereka bareng-bareng

Rupanya pancinganku semula agak berhasil. Mereka jadi sibuk bercerita atau bertanya.

“Bu, crita tentang hari kiamat”

Ini sedikit kisah, tentang Mas Dito, Mas Angga, Mas Yoga, Mas Bagas, dan beberapa yang lain yang belum kutahu namanya.

Oh ya, tiba-tiba aku teringat. Betapa wajah Mas Dito perlahan berubah. Apalagi saat kubilang,”Mas Dito coba deh senyum pasti tambah ganteng!” Teman-temannya tertawa.

*Catatan kecil:

Perlakuan kasar, kata-kata negatif, memang tidak seharusnya diperuntukkan untuk anak-anak.

Mendidik dengan kasih sayang berarti mendidik mereka untuk menyayangi.

Mendidik dengan bentakan berarti Anda menyiapkan anak-anak untuk menjadi pribadi yang kasar.

Tegas itu beda dengan kasar.

Ayo mengajar TPA! Disini kita belajar memahami berbagai karakter, dan mencoba menjadi guru yang baik.


Leave a Reply