Mahasiswa Kehilangan Wajah, Pemuda Sibuk Mencari Topeng

Oleh: Ardi Amsir Amran

Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak hanya berbunyi ketika terhempas di pantai Tetapi jadilah kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu

Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk Sinarilah zaman dengan nur imanmu Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu Patrikan segala dengan nama Muhammad

(M. Natsir ) Bismillah… dengan segala kerendahan hati saya harus berbicara jujur. Jika kita melihat bangsa kita, Indonesia. Boleh jadi kita mengambil satu kesimpulan yang sama, bahwa bangsa ini memili prestise dan prestasi yang terpaut jauh dari bangsa-bangsa lainnya. Ya, walaupun dibeberapa aspeknya cukup membanggakan juga. Kita tidak dapat mengingkari kenyataan ini, bukan ? namun sejatinya saya tidak akan mengajak pembaca untuk melegitamasi diri sebagai juri disini. Ada yang lebih menarik untuk kita bicarakan, pembaca yang budiman. Barangkali saya boleh menyarankan, sudah saatnya kita mengalihkan paradigma kita mengenai indikator kejayaan dan ketinggian derajat sebuah bangsa. Karena kita sepakat bersama bahwa berawal dari paradigma yang akan menjadi motivasi terealisasinya segala cita-cita dan impian besar terbangunnya bangsa yang memiliki jati diri, kharisma dan derajat yang disegani oleh bangsa-bangsa lainnya. Maka disinilah kita perlu memberikan jawaban pasti bagi statement diatas. Dan biarlah saya menyediakan jawaban itu, bahwa jati diri, ketinggian derajat dan kharisma agung yang dimiliki oleh sebuah bangsa adalah out put dari jati diri, kemuliaan dan kharisma yang didedikasikan oleh individu dari masyarakat bangsa itu sendiri sebagai kolektor sumber daya yang terjalin secara tepat dan sempurna. Sehingga dari sisi inilah kita dapat menemukan biang-biang pembangun masyarakat itu yang tak lain ialah “pemuda”. Dalam kaitannya saat ini, golongan pemuda yang memilki peluang paling besar dan berpotensi melahirkan karya-karya mutakhir itu sebut saja mahasiswa. Yang menakjubkan adalah justru kalangan mahasiswa yang sangat kita elu-elukan sebagai promotor malah sangat jauh dari anggapan kita sebelunnya. Dari kutipan yang dimuat di http://www.majalahpotretindonesia.com dapat dijelaskan,

Hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sebanyak 60,5% pemuda usia 16 tahun hingga 20 tahun di seluruh provinsi di Indonesia tidak memiliki pekerjaan tetap, atau pengangguran.

Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemudan dan Olahraga Zubarkhum Tjereng menjelaskan data tingginya angka pengangguran tersebut merupakan hasil servei BPS tahun 2008, dan masih berlaku hingga 2010.

“Itu hasil pendataan BPS terhadap pemuda usia 16 hingga 20. Sedangkan Jika pendataan juga dilakukan terhadap pemuda hingga usia 30 tahun, angkanya bisa lebih dari 60,5%. Untuk itu perlu segera dilakukan langkah-langkah tepat, agar tidak menjadi persoalan di masyarakat,” jelas Zubarkhum usai menggelar Rapat Koordinasi Lintas Sektor Provinsi Bidang Pengembangan Pemuda di Bandung, Jabar, Kamis (7/4).

Menurutnya, persoalan pengangguran di kalangan pemuda merupakan satu dari sekian banyak permasalahan yang ada. “Selain pengangguran, juga terbatasnya sumber daya pembiayaan bagi kegiatan pemuda. Sehingga bisa berdampak pada kemerosotan karakter, pergaulan bebas, narkoba dan masalah lainnya,” ujarnya.

Ia menambahkan untuk mengatasi persoalan tersebut pihaknya memiliki sedikitnya ada lima program, antara lain kepramukaan, kepemimpinan, kewirausahaan, kepeloporan, dan tenaga kepemudaan.

Ditambahkan pula dengan fenomena empiris lainnya seperti yang dilansir dibawah ini,

Dari 8,32 juta orang pengangguran di Indonesia sampai Agustus 2010, ternyata paling banyak didominasi para lulusan sarjana dan diploma.

Badan Pusat Statistik (BPS) menguraikan, jumlah lulusan sarjana dan diploma yang menganggur masing-masing berjumlah 11,92% dan 12,78%. Sementara pengangguran lulusan hanya 3,81%

Jumlah pengangguran pada Agustus 2010 mencapai 8,3 juta orang atau 7,14% dari total angkatan kerja,” bunyi data BPS yang dirilis, Rabu (1/12/2010).

Secara umum Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) cenderung menurun, di mana TPT Agustus 2010 sebesar 7,14% turun dari TPT Februari 2010 sebesar 7,41% dan TPT Agustus 2009 sebesar 7,87%.

Seperti diketahui, jumlah penduduk Indonesia yang bekerja sampai Agustus 2010 tercatat berjumlah 108,21 juta orang. Dari jumlah tersebut, ternyata sebanyak 54,5 juta (50,38%) merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah.

Dari 08,21 juta orang tersebut, mayoritasnya yaitu 66,94% atau 72,4 juta orang cuma bekerja di sektor informal. Sementara sisanya 44,06% atau 35,8 juta orang bekerja di sektor formal. (dnl/qom) http://www.detikfinance.com

lalu kemanakah sebenarnya bangsa ini harus berharap ? jikalau tajuk kebanggan (red : mahasiswa) pun rapuh tak menjanjikan. Satu hal yang menjadi refleksi kita disini, sebenarnya mahasiswa memang memiliki potensi yang sangat unggul dan tepat untuk dibanggakan memang. Tapi sayangnya potensi itu tidak cukup ter-up grade dan terwadahi. Mengapa demikian ? sebab mahasiswa sejak dini telah “terkondisikan” dan “terdoktrinasi” dengan angan-angan yang menghadirkan sebuah “kotak” dalam kerangka berpikirnya bahwa peranan serta kesuksesan mereka semata-mata mengacu pada seberapa gemilang prestasi akademik mereka yang dinominalkan melalui IPK ( Indeks Prestasi Kumulatif ), sehingga mahasiswa dengan berbagai cara berlomba-berlomba merebut nilai akademik tertinggi, IPK oriented. Padahal sekian banyak fakta secara alamiah pun telah membuktikan bahwa IPK saja tidak cukup ! Para mahasiswa mestinya memiliki kemampuan lainnya diluar kemampuan akademik yang seringkali menjebak dalam dunia realita. Fenomena yang nampak mestinya semakin menyadarkan Mahasiswa bahwa mereka harus memacu dan memicu diri agar terlibat aktif dalam sarana-sarana kemahasiswaan seperti unit-unit kegiatan mahasiswa dalam rangka mengembangkan multipotensi sebagai modal skill yang menjadi tawaran tertinggi untuk peranan dan kesuksesan masa depannya.

Tidak cukup sampai disitu, data lainnya yang tersedia dari http://www.okezone.com mengungkapkan,

Kasus narkoba di kalangan anak muda ternyata sangat memprihatinkan. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat sebanyak 89 persen atau 800 ribu anak muda menjadi pengguna Narkoba.

Kepala Bidang Pengendalian Operasi Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jawa Barat Muhammad Nizar menjelaskan dalam survei Badan Narkotika Nasional (BNN) 2008, kalangan muda yang dimaksud masa usia produktif yakni umur 19-30 tahun.

Yang lebih ironis lagi adalah warta yang disebutkan dalam http://kesehatan.kompasiana.com dibawah ini,

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pernah merilis data bahwa 62,7 persen remaja SMP di Indonesia sudah tidak perawan. Survei Komnas PA dilakukan terhadap 4.500 remaja pada 12 kota besar seluruh Indonesia. Artinya seks bebas telah menjadi “idiologi” baru dikalangan remaja dan pemuda. Terlepas dari metodologi penelitian yang digunakan dalam survey Komnas Perlindungan Anak, data tersebut bisa menjadi cermin betapa pemuda sekarang ini begitu permisif terhadap hubungan seksual. Apalagi bila melihat hasil survey tersebut lebih dalam seperti data bahwa 93,7 persen siswa SMP dan SMA pernah melakukan ciuman, 21,2 persen remaja SMP mengaku pernah aborsi, dan 97 persen remaja SMP dan SMA pernah melihat film forno. Ternyata remaja SMP tergolong memiliki banyak pengetahuan seksual lebih banyak daripada remaja SMA. Sebelumnya, pada tahun 2003 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) melakukan survey pada lima kota, di antaranya Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Hasil survei PKBI menyatakan bahwa mampir 50 persen remaja perempuan Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah (Republika, 01/03/2007). Sementara penelitian pada 2005 dilakukan terhadap 2.488 responden di Tasikmalaya, Cirebon, Singkawang, Palembang, dan Kupang menemukan bahwa sebanyak 85 persen remaja berusia 13-15 tahun mengaku telah berhubungan seks dengan pacar mereka, 52 persen yang memahami bagaimana kehamilan bisa terjadi, 50 persen dari remaja itu mengaku menonton media pornografi, di antaranya VCD dan hubungan seks itu dilakukan di rumah sendiri. BPS pernah melakukan Survei Kesehatan Remaja Indonesia (SKRRI) pada tahun 2002-2003 menyebutkan bahwa sebanyak 57,5 persen laki-laki berusia 20-24 tahun yang belum menikah memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual dan sebanyak 43,8 persen yang berusia 15-19 tahun. Sedangkan sebanyak 63 persen perempuan berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual, perempuan berusia 15-19 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 42,3 persen. Kesimpulan hasil SKRRI 2002-2003 menunjukkan bahwa hubungan seksual sebelum menikah umumnya masih ditolak. Namun dalam kondisi tertentu penduduk usia 15-24 tahun belum menikah memberikan toleransi yang cukup besar bagi seseorang melakukan seks pra nikah, terutama jika telah merencanakan untuk menikah. Sekitar 29,6 persen diantara laki-laki berusia 15-24 tahun belum menikah yang setuju dengan seks pra nikah menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut akan menikah dan 26,5 persen menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut saling mencintai. Sementara itu beberapa penelitian perilaku seksual remaja/pemuda untuk tingkat lokal dengan hasil yang hampir sama. Misalnya penelitian yang dilakukan sebuah LSM lokal Cianjur, Annisa Foundation pada Juli-Desember 2006 terhadap 412 responden, yang berasal dari 13 SMP dan SMA negeri serta swasta : 42,3 persen pelajar SMP dan SMA di Cianjur telah melakukan hubungan seksual, hubungan seks itu dilakukan suka sama suka, dan bahkan ada yang berganti-ganti pasangan, sebanyak 90 persen menyatakan paham nilai-nilai agama, dan mereka tahu itu dosa, sebagian besar mereka menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas, sebanyak 12 persen menggunakan metode coitus interuptus. KISARA PKBI Bali pernah melakukan sebuah survey pada bulan Agustus 2002 hingga Agustus 2003 mengenai sikap dan prilaku pacaran dan aktivitas seksual pada siswa SMP kelas 3 hingga SMA kelas 1 (di bawah 17 tahun) di sekolah di daerah Denpasar, Badung,Tabanan dan Gianyar. Tercatat bahwa yang pernah pacaran adalah sejumlah 526 atau 23,75 persen dari total 2215 responden. Tidak satupun (0 persen) yang menyatakan bahwa hubungan seksual sebelum menikah itu boleh. Hal yang sama ditemukan pada pertanyaan apakah aktivitas petting, anal seks, oral seks diperbolehkan selama belum menikah. Yang diperbolehkan menurut responden adalah masturbasi, disebutkan oleh 44,15 persen responden, ciuman bibir (21,58%), cium kening/pipi (55,85). Tetapi ketika ditanyakan dengan aktivitas mana yang sudah mereka lakukan (dihitung dari yang sudah pernah pacaran), ditemukan data bahwa 2,28 persen sudah melakukan hubungan seksual, dan 0,57 persen sudah melakukan salah satu dari petting, anal seks, oral seks. Ciuman bibir sudah dilakukan oleh 13,12 persen responden yang sudah pernah pacaran, ciuman kening/pipi (26,24%), masturbasi dilakukan oleh 51,63 persen laki-laki, pada perempuan 3,32 persen. Penelitian seksual remaja pada dekade sebelumnya menujukkan hasil yang hampir sama dengan persentase yang sedikit berbeda. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi. Sebagai catatan, kejadian aborsi di Indonesia cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun, 20 persen di antaranya remaja. Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual (Nurul Muzayyanah, 2008). Sungguh menyayat hati kita. Bangsa yang terkenal keramah-tamahannya, bangsa yang terkenal kesantunannya, dan bangsa yang memilki jumlah penduduk muslim terbesar diseluruh dunia harus menerima taburan degradasi moral pemudanya yang kian meningkat kuantitas statistiknya. Apa yang salah dari bangsa ini ? Apakah bangsa ini sudah terlanjur terkutuk ? Jawaban “ya” barangkali bukanlah justifikasi yang tepat tuk menghardik berbagai kenyataan pahit yang terpampang dihadapan mata dzahiriah kita. Hal yang paling penting dan mendesak untuk menepis “dunia hitam” yang bercokol dinegeri kita adalah mengembalikan kesadaran dan mengembangkan potensi pemuda melalui metode pembinaan mental/emosi, pemikiran, dan fisik berbasis spiritual. Hanya inilah jalan satu-satunya. Yakin dan percaya ! Yang paling kita ketahui, melalui rahim pembinaan semacam inilah seorang manusia agung, Rasulullah Muhammad SAW. Memproduct manusia-manusia luar biasa yang mereka itu terdidik sejak usia remaja,sejak usia dini, sejak usia produktif. Saya pikir, Kita telah sangat akrab dengan biografi manusia-manusia luar biasa itu, seringkali kita dibuat takjub dengan apa yang telah mereka karyakan, karya-karya monumental tak tertandingi. Mereka adalah Ja’far bin Abu Thalib (20 tahun), Ali bin Abu Thalib (25 tahun), Fatimah az Zahra, Aisyah binti Abu Bakar, Mush’ab bin Umair (24 tahun) dan Usamah bin Zaid (17 tahun). Direntang periode berikutnya lahir pula generasi yang tak kalah berjaya dan termasyhurnya pada wacana kita yakni Muhammad Al Fatih yang merebut kostantinopel pada usia 24 tahun, ditahun 1928 sebuah gagasan pergerakan yang saat ini mendominasi hampir seluruh bagian dunia, Ikhwanul Muslimin, prakarsa Hasan Al Banna di usianya yang ke 27 tahun. Dalam kenyataannya yang menyejarah inilah pembinaan itu hidup dan kokoh pada diri insan-insan muda yang terbina dengan sentuhan-sentuhan spiritual sehingga kebanggaan spektakuler pun kian membahana dari tangan-tangan mereka. Merangsek kerinduan yang memucuk dihati ini, betapa kita mendambakan kembalinya sosok-sosok itu lagi. Adakah kini sosok-sosok itu tersembunyi dibilik-bilik jiwa para pemuda kita ? sudah saatnya kita membuka lebar-lebar bilik-bilik terkunci itu. Boleh jadi sosok luar biasa itu sedang tertidur pulas disana, inspeksi ini berlaku untuk merongrong, membangkitkan potensi raksasa itu kembali. Kita menginginkan pemuda yang benar imannya ! Kita menginginkan pemuda yang benar ibadahnya ! Kita menginginkan pemuda yang kokoh akhlaknya ! Kita menginginkan pemuda yang luas wawasannya ! Kita menginginkan pemuda yang kuat fisiknya ! Kita menginginkan pemuda yang mandiri kehidupan ekonominya ! Kita menginginkan pemuda yang besar manfaatnya bagi orang lain ! Kita menginginkan pemuda yang menjaga waktunya dengan sungguh-sungguh ! Kita mengnginkan pemuda yang bersungguh-sungguh mengendalikan hawa nafsu ! Kita menginginkan pemuda yang teratur segala urusannya ! Ada yang menarik dari ucapan seorang Umar Bin Khattab saat Ia menjabat sebagai seorang Khalifah, “Setiap kali aku menghadapi masalah-masalah besar maka yang kupanggil pertama kali adalah pemuda”. ~ MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA YANG KE 83 ~ Penulis Adalah Ketua Umum Jamaah Nurul Huda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam ( JN UKMI UNS ) Universitas Sebelas Maret Surakarta periode 2011 Saat ini sedang menempuh studi S1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Teknik Sipil Semester VII Universitas Sebelas Maret Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *