KARDUS Perdana

Yang kemaren tdk sempat ikut kardus tak usah khawatir ini ada sedikit cuplikan materi yang disampaikan akh Ardhi..Semoga bermanfaat.

KARDUS (Kajian Rutin Dua Minggu Sekali) #1
SKI FKIP UNS
27 Februari 2014 @Lobi gd.D Pukul 16.30-17.45 wib
Bersama Akh Ardi Amsir Amran
“Bencana, Nikmat atau Laknat??!

Bismillah..
Ada yang tahu kisah tentang seorang pelukis yang begitu mengagumi Putri Diana? Adakah yang tahu unggas apa yang diberi kesempatan hidup dua kali oleh Allah?? Yang belum tahu pasti nyesel nggak datang KARDUS… hehe. Next time datang yaa..
Jadi, begini kisahnya. Dahulu ada seorang pelukis yang sangat kagum pada putri Diana (ratu Inggris). Pelukis tersebut ingin sekali memberi hadiah teristimewa kepada sang putri di hari penobatannya menjadi ratu. Di atas sebuah gedung, ia membuat lukisan terbaik dan terindah untuk dipersembahkan kepada sang putri. Begitu lukisan itu jadi, ia sangat mengagumi kesempurnaan karyanya. Dari dekat, indah. Sedikit mundur, tetap indah. Mundur lagi, masih indah. Mundur, mundur, dan mundur lagi, memang sempurna. Tanpa disadari, kekagumannya membawanya ke bibir gedung. Mundur satu langkah lagi mungkin ia akan terjun bebas dan menemui ajalnya. Tetapi di saat terakhir itu, datanglah pemuda yang dengan tiba-tiba mencoret-coret lukisannya. Dengan marah sang pelukis menghampiri si pemuda dan ingin menghajarnya. “Tunggu dulu!”, kata si pemuda. Kemudian ia menjelaskan kenapa ia merusak karya indah itu. Tidak lain karena ia ingin menyelamatkan sang pelukis yang sudah berada di bibir gedung. Jika pemuda itu berteriak “Awas!” mungkin sang pelukis justru kaget dan jatuh, sehingga dia berinisiatif untuk merusak lukisan agar sang pelukis berlari menghampirinya.
Ada apa di balik kisah itu?? Lhoo.. apa hubungannya dengan bencana???
Begini sahabat, terkadang apa yang kita sukai itu belum tentu baik untuk kita, dan sebaliknya kita terkadang justru membenci hal-hal yang baik untuk kita. Sang pelukis tadi marah ketika melihat lukisannya dicoret-coret, tetapi itu justru cara terbaik untuk menyelamatkan nyawanya. Sama halnya dengan bencana yang menimpa saudara-saudara

kita baru-baru ini, walaupun menyakitkan tapi bisajadi itu adalah cara terbaik untuk menyelamatkan kita, khususnya menyelamatkan iman kita. Bagi orang kafir, mungkin bencana adalah musibah. Tapi bagi orang-orang beriman, bencana adalah ujian, cobaan, sekaligus teguran. Teguran bagi kita disaat kita lalai, sebagai tanda bahwa Allah masih sayang pada kita dan Dia ingin kita selalu mendekat pada-Nya. Dengan bencana Allah ingin menunjukkan kepada manusia bahwa Dia ada, dan Dia berkuasa atas bumi ini, sehingga kita harus kembali mengingat-Nya dan mengagungkan nama-Nya. Jika dibandingkan dengan umat Rosul terdahulu, bisa dibilang kita masih beruntung. Dahulu Allah bisa langsung menghancurkan suatu negeri ketika kaumnya mengingkari Allah. Seperti pada masa Nabi Nuh, Allah menurunkan hujan hingga airnya menenggelamkan seluruh negeri beserta kaumnya. Kita masih beruntung karena di negeri kita Allah hanya menghadirkan bencana-bencana kecil sebagai teguran. Walaupun teguran itu datang berkali-kali sejatinya itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Cobalah perhatikan, semakin sering kita ditegur, semakin sering kita diingatkan dan dinasihati saat kita salah melangkah, itu tandanya semakin kita dicintai dan diperhatikan. Allah akan menahan hancurnya dunia ini selama masih ada kita yang menyebut nama-Nya. Satu detik saja tidak disebut nama Allah di dunia ini, maka dunia akan hancur. Itulah alasan adanya perbedaan waktu shalat di tiap-tiap daerah, agar adzan senantiasa berkumandang di bumi ini dan selalu ada hamba yang menyebut nama Allah, tak terputus.
Sahabat, ketika musibah itu datang terkadang kita menjadi lemah. Tetapi setelah lemah itu kita harus bangkit dan menjadi lebih kuat. Tahukah kamu sebuah fakta tentang elang? Elang adalah unggas yang diberi Allah kesempatan hidup dua kali. Dua kali disini bukan berarti dia mati dan hidup kembali, tetapi dia harus bertransformasi disaat lemah menghampiri agar bisa kembali kuat. Pada usia 40 tahun paruh elang akan menebal, kuku-kukunya memanjang, dan bulunya menjadi lebat. Hal itu membuat tubuhnya semakin berat dan sulit untuk terbang, kuku-kukunya yang panjang juga membuatnya kesulitan untuk menangkap mangsa. Di usia itu elang akan dihadapkan pada dua pilihan, mati atau transformasi. Elang yang memilih bertransformasi akan mematuk-matukkan paruhnya ke batu, mencabuti kuku-kukunya, dan merontokkan bulu-bulu dengan cakarnya yang tajam. Walaupun menyakitkan hingga tubuhnya berdarah-darah. Namun, beberapa bulan kemudian ia akan bisa terbang kembali, ringan, dan kembali muda dengan paruh baru, kuku-kuku baru dan bulu-bulu yang baru. Ia menjadi elang baru yang kuat dan mengangkasa, terbang setinggi pesawat di langit biru. Sahabat, kita harus bisa seperti elang. Menjadi kuat setelah berbagai sakit mendera, setelah berbagai bencana melanda. Kuat dan menguatkan yang lemah.
Sahabat, tahukah kamu? Salah satu hal yang mencegah musibah adalah sedekah. Dan sedekah di jalan Allah itu akan menghasilkan balasan yang baik. Walaupun secara zahiriyah harta kita berkurang, namun Allah senantiasa melipatgandakannya. Sedekah kita adalah ibarat sebuah pohon. Dia akan tumbuh, tumbuh batangnya, tumbuh daunnya dan kemudian muncul buahnya, buah yang nikmat. Dan nikmatnya buah sedekah kita, kita yang akan merasakannya. Ada sebuah kisah tentang sepasang suami istri. Kala itu sang suami tengah mendekati ajalnya, ia melihat gambaran pahala atas amal-amalnya dan ia mengigau “Andaikan masih baru..”, kemudian sang istri menanyakan maksudnya kepada sang suami. Ternyata pernah suatu ketika, disaat hujan lebat, sang suami keluar rumah dengan membawa dua jaket. Satu jaket ia pakai dan satu yang lain ia pegang, sayangnya jaket yang ia pegang usianya lebih tua dari yang ia pakai. Di jalan ia bertemu dengan seseorang yang kedinginan karena hujan, kemudian ia memberikan jaketnya kepada orang itu. Pahala amalnya terlihat menjelang ajalnya dan ia menyesal karena tidak memberikan jaket baru kepada orang itu. Jika ia memberikan jaket baru maka pahalanya pastilah lebih besar. Demikian juga ketika suami itu menyeberangkan seorang buta dan memberikan separuh roti yang ia miliki kepada pengemis yang kelaparan. Pahalanya terlihat menjelang ajalnya dan ia menyesal “Andaikan masih panjang…” (jalan yang mereka seberangi), “Andaikan semuanya…” (roti yang ia berikan). Jadi sahabat, jangan sampai hal yang sama terjadi pada kita. Jangan sampai kita menyesal karena tak memberikan yang terbaik kepada mereka yang membutuhkan. Mereka saudara-saudara kita. Mereka berhak merasakan nikmat yang kita rasakan. Mari berbagi, mari bersedekah untuk saudara kita yang tertimpa musibah…
Salah satu hal yang mencegah musibah adalah sedekah. Semoga dengan sedekah kita terhindar dari segala bencana. Semoga dengan sedekah kita akan merasakan manisnya buah-buahan dari pohon sedekah yang kita tanam. Semoga dengan sedekah, ridha Allah senantiasa menyertai kita… Aamiin.

‪#‎Harmony2014‬_SKIFKIPUNS_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *