Yuk Muhasabah Diri

Kondisi spiritualitas atau keimanan seseorang condong bersifat fluktuatif. Ada kalanya kita sangat semangat dalam beribadah dan ada kalanya keimanan kita turun. Seringnya kehidupan dunia melalaikan kita, hingga kita lupa untuk apa kita diciptakan. Karena itu kita perlu untuk senantiasa bermuhasabah, salah satunya adalah dengan mengingat kematian.

Muhasabah (intropeksi diri) sangat perlu dilakukan, karena setiap dari kita tidaklah senantiasa dalam keadaan baik. Muhasabah merangkum cara, waktu, kegiatan ketika kita mencoba melihat (scanning) diri kita sendiri secara utuh.

Muhasabah (dari kata hisab) artinya mengitung. Maka wujudnya adalah dengan menghitung kesalahan, mengabsensi amalan mencatat kemajuan kualitas, mengevaluasi, serta memperbaiki. Yang kurang baik di up grade, yang tidak baik dibuang (cleaning), yang belum ada di “install”. Adapun metodologinya bisa bermacam-macam: tadabur, dzikir, isthigosah, banyak membaca dll.

Mengingat kematian adalah kunci muhasabah. Dengan mengingat kematian berarti kita selalu ingat bahwa segala sesuatu ada umur dan waktunya. Tidak ada yang tau kepastian ajal sesorang. Siapa saja dan dimana saja bisa menemui ajalnya tanpa disadari, demikan juga dengan kita.

Muhasabah diri dapat kita bangun dengan beberapa cara, yaitu:

  • Menghitung berapa banyak hal yang sesuai dengan plan kita dan yang tidak sesuai dengan plan kita. Pasti banyak yang tidak sesuai dengan plan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa
  • Sering membesuk orang sakit dan ziarah kubur agar senantiasa sadar bahwa ajal bisa datang sewaktu-waktu.
  • Mengingat sudah berapa lama kita ditinggal oleh orang-orang tercinta, agar menjadi orang yang senantiasa bersyukur.

Oleh karena itu, mari kita gunakan momentum Ramadhan ini untuk senantiasa bermuhasabah dan selalu meng up grade keimanan kita. Jangan sampai kita lalai seperti kisah penyelam pencari mutiara. Terlena dengan keindahan bawah laut, lupa dengan tugas utamanya, hingga alarm tabung oksigen ‘memaksanya’ pulang ke darat. Dalam antrian panjang dan lama menghadap majikan, diantara banyak penyelam lain, ia merasa takut luar biasa dan tubuhnya pun gemetaran. Ketika di tanya : “Apa yang kamu bawa?” dan ia hanya bisa menunjukkan ikan yang telah busuk, terumbu karang yang rapuh tanpa membawa mutiara. Naudzubillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *