Refleksi Perjalanan Dakwah SKI FKIP UNS

  • 0

Refleksi Perjalanan Dakwah SKI FKIP UNS

Category : UMUM

a_long_journey_of_dawah

Sebagai hamba-Nya yang tidak luput dari dosa, tak layak rasanya ketika setiap kali kita berbenturan dengan masalah, kita selalu menjudge bahwa masalah itu merupakan ujian kenaikan kelas, tanpa memberikan opsi lain bahwa masalah itu adalah sebuah hukuman.

Allah berfirman dalam Q.S Al Ankabut ayat 2-3,  “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

“Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu” (H.R Ath-Thabrani)

Dua dasar ini memberi tau kita bahwa sepanjang perjalan hidup kita, Allah akan terus menerus menguji kita hingga Allah menunjukkan kepada umat manusia siapa saja hamba-Nya yang memang patas mendapat predikat lulus (kenaikan derajat) serta terkategorikan sebagai orang-orang yang benar.

Akan tetapi perlu kita cermati juga firman Allah dalam surat yang lain. Allah berfirman dalam Q.S Al-Maidah ayat 60,

“Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi[424] dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.”

“Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya) (H.R Ahmad)

Pada dua dalil yang pertama, terlihat bahwa Allah memberikan cobaan kepada manusia lebih sebagai alat seleksi untuk menentukan siapa saja hamba-Nya yang berhak mendapatkan kenaikan derajat. Namun pada dua dalil yang kedua ini, kita lihat bahwa Allah akan memberikan balasan bagi mereka yang fasik (berbuat kerusakan) dengan kesulitan-kesulitan. Dalil ini hendaknya menjadi alarm bagi kita, agar kita berfikir bahwa setiap cobaan kesulitan yang Allah berikan kepada kita barang kali merupakan sebuah balasan atas tindakan maksiat yang selama ini sering kita lakukan.

Dua macam perbandingan dalil ini setidaknya menjadi pedoman yang patut kita ingat dan renungi bersama, bahwa setiap cobaan yang datang tidak selalu berarti bahwa cobaan itu adalah ujian, melainkan bisa bermakna hukuman. Pun kita juga tidak boleh putus harapan terhadap Allah dengan terus menerus memaknai bahwa cobaan ini adalah bentuk hukuman dari Allah.

***

Melihat realitas masyarakat saat ini, entah masyarakat kampus maupun masyarakat umum yang masih banyak melakukan kemaksiatan namun justru bangga dengan kemaksiatannya, saya berpendapat bahwa kemenangan dakwah masih jauh dari kata tercapai. Akan tetapi mereka tidak bisa dijadikan satu-satunya penyebab jauhnya jarak kemenangan dakwah ini, karena pada dasarnya mereka pun hanyalah objek dakwah. Justru kita lah yang perlu berkaca diri terhadap aktivitas harian kita. Sudahkah mencontoh Rasul? Masih kah bernafas islam? Sampai pada akhirnya, rentetan pertanyaan ini akan mengacu pada satu pertanyaan, “Apakah jauhnya titik kemenangan dakwah ini adalah hukuman-Nya kepada kita?”

***

Kita memang meyakini bahwa kaidah jalan dakwah adalah penuh dengan rintangan. Jalan dakwah tidak ditaburi dengan bunga-bunga, tetapi merupakan satu jalan yang susah dan panjang. Kerana sesungguhnya antara yang hak dengan batil ada pertentangan yang nyata. Rintangan-rintangan itu biasanya melintangi di tengah-tengah jalan dakwah, merintangi para da’i, menahannya, melemahkan keazaman, mengelirukan fikirannya, merosakkan usaha dan natijah dakwahnya. Hanya saja, perlu menjadi perhatian bagi kita, bahwa kita tidak pernah tau, apakah rintangan yang Allah hamparkan kepada kita ini bertujuan agar kita semakin kuat ataukah ini merupakan scenario Allah agar kita gugur dan menyingkir dari jalan dakwah?

Allah berfirman dalam Q.S Al-Imran ayat 26

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Imran : 26)

Allah menjadikan satu ayat antara kerajaan dengan kemuliaan, dan juga antara kerajaan dengan kehinaan. Apakah ini pertanda bahwa kerajaan (kekuasaan, amanah) ini diberikan pada kita sebagai jalan Allah untuk memuliakan kita atau untuk menghinakan kita? Wallahu’alam

***

Ya Allah yang Maha Pengampun, ampunilah dosa-dosa kami, jangan Engkau jadikan kami sebagai actor utama belum tercapainya kemenangan dakwah ini.

Ya Rabb, sungguh jelas firman-Mu, “Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki”, kami memohon kepada-Mu ya Rabb, agar segala kerikil yang ada di depan kami ini bukanlah cara-Mu dalam menghukum kami, bukanlah cara-Mu dalam menghinakan kami. Kami mohon agar kerikil yang Engkau hamparkan kepada kami ini adalah cara-Mu untuk mendidik kami agar mampu berjalan di atas kerikil, bukan cara-Mu untuk menjatuhkan kami.

Ya Rabb, sesungguhnya amanah yang kami emban ini adalah kuasa-Mu, kami tak tau kenapa Engkau memberikan amanah ini kepada kami, apakah untuk meninggikan derajat kami ataukah untuk menghukum kami, membuka aib kami atas dosa-dosa kami. Maka dari itu Ya Allah, bimbinglah kami agar senantiasa berada di jalan yang benar, kuatkanlah pundak kami agar mampu mengemban amanah ini, satukanlah hati-hati kami sebagaimana pinta Musa kepada-Mu, hingga kelak amanah dan ukhuwah ini menuntun kami menuju surga-Mu bersama saudara-sauadara perjuangan kami.

Ya Allah, yang Maha Berkuasa, ampunilah dan kabulkanlah doa kami

Aamiin


Leave a Reply