Jangan Sampai Suudzon Menutupi Kebaikan Saudara Kita

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S Ali-Imran :103)

***

Ketika saya belajar sebuah mata kuliah tentang sejarah perkembangan atom, disebutkan bahwa electron yang bermuatan negative ditemukan terlebih dahulu ketimbang ditemukannya proton yang bermuatan positif. Elektorn ini diketahui berada di kulit luar atom dan dapat berpindah-pindah ke kulit yang lain, sedangkan proton terletak di pusat atom bersama dengan neutron.

Merenungi ilmu ini saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ada hubungan yang relevan antara teori atom dengan fenomena kehidupan kita. Dahulu kala para ilmuwan terlebih dahulu menemukan electron yang notabene bermuatan negative, baru kemudian disusul oleh penemuan proton. Hal ini sejalan dengan apa yang sering terjadi dalam kehidupan kita, dimana kita selalu terlebih dahulu menilai saudara kita dengan sisi negatifnya baru kemudian kita mengingat sisi positifnya. Muncul negative dahulu baru kemudian disusul positifnya, ya masih mending kalau sisi positifnya muncul, kalau tidak?

***

Bukan keidentikan antara sejarah penemuan electron-proton dan fenomena suudzan yang mendahului huznudzan-lah yang menjadi point utama pada tulisan ini. Tapi, tulisan ini hanyalah sebagai pengingat untuk kita (khususnya kepada penulis sendiri) bahwa disadari atau tidak, kita hampir selalu mendahulukan prasangka buruk kita ketimbang prasangka baik kita, atau mungkin prasangka buruk selalu hadir mendahului prasangka baik. Entahlah, seperti itu intinya.

Padahal ketika kita mendahulukan suudzan, maka suudzan itu akan menutupi ingatan kita akan seluruh kebaikan yang pernah dilakukan saudara kita kepada kita. Tak ada lagi ruang untuk husnudzan itu tampil, muncul dalam pikiran kita. Hati dan pikiran kita telah ditutupi oleh gelapnya berprasangka buruk.

Padahal ustadz Rahmat Abdullah pernah berpesan bahwa ada 2 hal yang harus kita ingat, dan ada 2 hal yang harus kita lupakan. 2 hal yang harus kita ingat adalah kebaikan saudara kita kepada kita dan kejahatan kita kepada saudara kita, sedangkan 2 hal yang harus kita lupakan adalah kebaikan kita kepada saudara kita dan kejahatan orang lain kepada kita.

Lalu ketika kita mendahulukan suudzan ketimbang huznudzan, bagaimana bisa kita mengingat kebaikan saudara kita?

Ya Allah, Yang Maha Berkuasa, kami berlindung kepada-Mu dari berburuk sangka

Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, lindungilah saudara kami sebagaimana para orang tuamelindungi anaknya, lancarkanlah urusannya, dan satukanlah hati-hati kami dalam ketaatan kepada-Mu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *