Tabligh Akbar “Dari Keluarga Pendidikan Bermula”

  • 0

Tabligh Akbar “Dari Keluarga Pendidikan Bermula”

Category : UMUM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“lebih baik ditertawakan karena belum menikah daripada tidak bisa tertawa setelah menikah”
untaian kata diatas bukanlah pembenaran untuk menunda,
akan tetapi substansinya adalah tentang penting persiapan,
sehingga bukan dianggap sekedar permainan.
karena berkeluarga adalah sunnah bersejarah.
melakukan sunnah,tentunya dijanjikan pahala berlimpah,
bahkan begitu mulia,
bahwa berkeluarga adalah menggenapkan separuh dien.
maka yang separuhnya, genapkanlah dengan langkah langkah penuh berkah dan menyejarah bersama si dia
Bersejarah,
justru disaat saat “sesak dan payah” yang dijalani berdua,
maka itulah kenangan yang tiada dua.
mempersiapkannya, meyakininya bahwa ia bagian dari ibadah dalam melaksanakan sunnah,
dan menjalaninya sebagai bagian dari sejarah,
maka itulah awal mula keluarga penuh berkah.

Memantaskan diri.
diriwayatkan tentang pemuda yang “biasa-biasa” saja dalam aspek ibadahnya.
namun,dia senantiasa berada disisi Rasulullah,
menyediakan air wudlu untuk beliau.
suatu waktu,
Rasulullah menawarkan,
sebagaimana yang kerap ditawarkan ke sahabat yang lain,
yaitu,
“mintalah sesuatu kepadaku,maka akan kudo’akan untukmu”,
maka,
ketika sahabat-sahabat yang lain umumnya menjawab
“mohonkan aku agar masuk surga yaa Rasulullah”,
berbeda dengan pemuda ini.
dia meminta
“mohonkan aku agar aku masuk surga dan ditempatkan di surga bersamamu yaa Rasul”.
Rasulullah sedikit terhenyak,
karena pemuda ini “biasa” saja,
tidak ada hal “istimewa” sehingga dia pantas berada di surga setempat dengan Rasulullah.
Namun,
Rasulullah adalah manusia paling bijak dan paling lembut,
terucaplah untaian nan indah untuk si pemuda,
“bantulah aku memohonkannya dengan memperbanyak sujudmu”.

Begitulah cara pandang tentang memantaskan diri.
begitu membahana keinginan kita untuk berkeluarga dengan siapa,
dengan segenap kriteria nan mulia.
semua itu boleh saja,
asal jangan lupa untuk berkaca,
seperti apa kondisi diri kita.
sambil tetap menaruh harapan dan cita,
berusaha memantaskan diri agar patut mendapatkan yang sesuai dengan kriteria nan mulia.
memperbanyak sujud, memperluas ilmu, dan “menegakkan punggung”.

KESIAPAN MENTAL.

menuju berkeluarga,
akan sangat berbeda
sikap mental
antara
SIAP NIKAH
dan
INGIN NIKAH.
siap nikah,
kata sambungnya adalah “meskipun”,
siap menikah dengan yang telah ditakdirkan Allah “meskipun” ada kekurangan kekurangannya.
karena disini tercermin tentang sadar diri,
bahwa setiap manusia pasti ada lebih dan kurangnya.
Ingin nikah,
kata sambungnya adalah “karena”,
ingin menikah dengan si dia “karena” dia rupawan dan berbagai kesukaan kita yang ada pada dirinya.
yang muncul adalah “menuntut” agar orangnya menjadi seperti yang kita suka.

kadang dua sikap mental ini beda tipis memang,
tapi jika bermula dari hati, tentu kita akan mudah membedakannya.
dan akan lebih terasa jika nanti menjalaninya,
antara yang saling memahami, ataukah yang saling menuntut.


Leave a Reply