Urgensi Pendidikan dalam Islam

Pendidikan sejatinya merupakan elemen terpenting dalam membangun kepribadian masyarakat yang Islami dan dengan pendidikanlah derajat manusia diangkat oleh Allah SWT karena ilmu yang dimilikinya, sebagaimana Allah jelaskan dalam QS.al-Mujaadilah ayat 11: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dengan ayat tersebut setiap muslim tentu akan terdorong untuk terus memperdalam ilmunya. Bahkan ada sebuah ungkapan “tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China”, artinya seseorang muslim bisa menuntut ilmu ke mana pun bahkan sampai tempat yang paling jauh sekalipun. Di sisi lain, prinsip seorang muslim adalah “al-‘ilmu qabla qaul wal amal”, artinya setiap perkataan dan perbuatan kita harus berlandaskan imu karena sebagai seorang mukallaf, di akhirat kita harus mempertanggugjawabkan setip amal perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

Islam sangat menekankan pendidikan dilakukan sejak usia dini. Rasulullah SAW sendiri berpesan kepada setiap pendidik atau orang tua untuk mengutamakan pedidikan bagi anak-anaknya, hal ini terlihat jelas dalam sabda beliau: “(Menuntut) ilmu pada masa kecil ibarat mengukir di atas batu.” (HR. Baihaqi dan Ath-Thabrani dalam Al Ausath)

Lebih jauh lagi, Islam memandang bahwa pendidikan juga merupakan aspek terpenting dalam pembangunan manusia untuk mencapai ketinggian peradaban, serta menjawab tantangan zaman yang semakin besar ini. Tantangan pendidikan zaman modern yang kita hadapi saat ini berbagai budaya yang lahir dari nilai-nilai rusak yang sengaja disuntikkan Barat ke dalam tubuh umat Islam yang berupa individualisme, hedonisme, sekulerisme, materialisme, dsb. Secara faktual kita melihat bahwa pendidikan di Indonesia belum mampu menjawab tantanga tesebut. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai perilaku remaja yang masih jauh dari akhlak Islami -yang merupakan salah satu tujuan dari pendidikan Islam-, misalnya masih maraknya remaja yang melakukan tindak kriminalitas, narkoba, tawuran, pacaran, pornografi, seks bebas, dsb. Data menunjukkan bahwa di Indonesia ada 2,5 juta aborsi setiap tahun, yang lebih parah ini dilakukan sebagian besar oleh kalangan remaja. Sebuah stasiun televisi swasta bahkan pernah menginformasikan bahwa Indonesia masuk ke dalam peringkat ke lima dunia sebagai pengakses konten/situs pornografi di internet. Sebuah survey menunjukkan bahwa kondisi moralitas remaja Indonesia sedang berada di titik terbawah atau dengan kata lain terjadi degradasi moral yang amat parah. Dari survey tersebut diperoleh data mengenai presentase remaja yang pernah melakukan seks bebas di kota-kota besar: Bandung (54%), Jakarta (51%), Medan (52%), dan Surabaya (47%). Hal ini menujukkan bahwa di kota-kota besar seks bebas merupakan suatu hal yang biasa. Na’udzubillah min dzalik.

Menghadapi fakta kerusaka (fasad) seperti itu sebagai seorang pendidik tentu kita harus cerdas dalam menentukan sikap, terlebih kita telah dibekali dengan akidah Islam. Bangsa ini sesungguhnya membutuhkan sebuah konsep tentang pendidikan yang tangguh dan teruji dalam menghadapi tantangan zaman sehingga manusia dapat menggapai kemuliaan dan ketinggian peradaban, yang unggul dalam imtaq maupun IPTEK. Oleh karena itu, tantangan ini harus mampu kita jawab agar ke depan lahir generasi-generasi muda Indonesia yang cerdas dan beraklahk mulia serta bermanfaat bagi umat, bukan generasi ‘pembebek’ atau lost generation seperti sekarang ini.

Islam sebagai sebuah agama yang sempurna mengatur setiap aspek kehidupan manusia telah mengatur secara jelas dan gamblang bagaimana pendidikan seharusnya dilakukan. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas tentang keberhasilan Islam dalam menerapkan sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi yang berkualitas dan diakui oleh pihak lawan. Sehingga sistem pendidikan Islam pantas dinobatkan sebagai role model pendidikan yang ideal.

Cukuplah pengakuan dari Robert Briffault dalam buku Making of Humanity yang menyatakan: “Di bawah kekuasaan orang-orang Arab dan Moor (kaum Muslimin) kebangkitan terjadi, dan bukan pada abad ke-15 Renaissance sesungguhnya berlangsung.  Spanyol-lah tempat kelahiran Eropa, bukan Italia.  Setelah terus menerus mengalami kemunduran, Eropa terperosok ke dalam masa kegelapan, kebodohan dan keterbelakangan.  Sedangkan pada saat yang sama, kota-kota Sarasin (kaum Muslimin) seperti Baghdad, Kairo, Cordova dan Toledo menjadi pusat-pusat peradaban dan aktivitas pendidikan.” (Robert Briffault, The Making of Humanity, London.1938).

Sejarah mencatat bahwa bangsa Arab yang buta huruf, dengan pendidikan Islam yang khas, yang diterapkan oleh Rasulullah SAW, telah berubah menjadi bangsa pelopor yang telah mampu menerangi dunia dan menjadi guru bagi dunia. Generasi terbaik ini selain mereka ilmuan kebanyakan dari mereka juga ulama. Sebenarnya kebanyakan  ilmuan Islam lebih dahulu menemukan penemuan besar dibandingkan ilmuan barat. Masih kita ingat beberapa nama terkenal ilmuan Islam seperti  al-Khawarizmi (penemu angka nol),  Abbas Ibnu Firnas (peletak dasar teori pesawat terbang), Ibnu Hayyan (ahli kimia, astronomi), Ibnu Sina (kedokteran), Abu al-Rahyan (ilmu bumi,matematika, dan astronomi, antropologi, psikologi dan kedokteran), Abu Ali Hasan Ibn al-Haitsam (fisikawan terkenal dalam hal optik dan ilmu ilmiah), dsb. Itu semua bisa dicapai hanya dengan pendidikan Islam yang bertujuan untuk melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam, serta menguasai ilmu kehidupan (sains, teknologi, seni) sesuai syariat Islam. Kesadaran ruhiyah inilah yang perlu terus dibangun untuk mewujudkan pendidikan yang bermartabat di dunia maupun akhirat. [Ibrahim Hasan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *