Memaknai Cinta Seperti Rab’iah Al Adawiyah

  • 0

Memaknai Cinta Seperti Rab’iah Al Adawiyah

Untitled-1

Kajian Muslimah Cerdas Indah Akhlaknya (K_MAH CERIA) telah terlaksana pada hari Jumat,6 November 2015 diselenggarakan bertempat di Aula Kbm Lt.2 FKIP UNS. Di kesempatan kali ini  membahas terkait Shirah Sahabiyah dengan mengangkat Tema “Memaknai Cinta Seperti Rab’iah Al Adawiyah” Kajian ini disampaikan oleh Pembicara Anggun Putri Aprilia, Sekertaris DLK BIRO AAI UNS 2015 dipandu oleh seorang pembawa acara ukh Wulan sariningsih, dan dibuka dengan pembacaan tilawah quran .Kajian ini dimulai pada pukul 11.40 berlangsung dengan lancar. Pembicara menyampaikan  kajian dengan menjelaskan,

Rabiah binti Ismail al-Adawiyah al-Qaisiah al-Bashriah. Dengan julukan (kunyah) Ummu Khair. Lahir di Bashrah (Irak). 95 H – 185 H. Rabiah telah menghafal Al-Qur’an sejak belia. Bahkan disebutkan bahwa ia lebih zahid dibandingkan Hasan al-Bashri. Rabi’ah memakna Iman  atas pertannyaan Sufyan al-tsauri “Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka, tidak juga karena mengharap surga. Jika aku menyembah-Nya karena takut neraka atau mengharap surga maka aku seperti buruh yang buruk yang bekerja karena rasa takut. Aku menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya” “Rabiah Al-Adawiyah adalah orang pertama yang mengungkapkan cinta ilahi dengan syair dan narasi.”  Definisi Cinta Ilahi (Imam al-Ghazali) ketaatan yang harus didahulukan, lalu dilanjutkan dengan taat kepada yang ia cintai. Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (9: 24)

Al-Ghazali (dalam Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Diin) mungkin yang dimaksud Rabiah dengan cinta karena diri adalah rasa cinta Rabiah kepada-Nya karena anugerah duniawi yang Ia berikan. Sedangkan cinta karena Allah patut dicintai adalah karena keindahan dan keagungan-Nya yang disingkapkan kepada Rabiah. Cinta yang kedua inilah yang paling luhur dan dalam.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ibadah itu cinta dan tunduk (العبادة: المحبة والخضوع)

  • Cinta tanpa tunduk: perintah tertentu dilakukan dengan penuh cinta, giat, khusyu’, tapi TIDAK SEMUA perintahNya dilaksanakan (ini disebut juz’iyyah, parsial)
  • Tunduk tanpa cinta: semua kewajiban dilakukan tapi beberapa atau semuanya dilakukan dengan terpaksa (ini sifat munafik)
  • Ibadah yang dilakukan mesti disertai rasa harap (اَلرَّجَاءُ) dan cemas (اَلْخَوْفُ)

Keteladanan dalam Zuhu

Zuhud lahir dari teladan sikap zuhud Rasulullah SAW dan sejumlah sahabat. Juga ketercengangan umat atas meninggalnya para sahabat (khalifah) pada masa itu sehingga periodisasi Bani Umayah muncul sebagai kekuatan besar. Kehidupan yang semakin hedonis muncul ke permukaan, sehingga disebutkan bahwa para ulama di masa itu begitut kemudian mendorong lahirnya sikap zuhud tersebut. Rabiah al-Adawiyah merupakan representasi pada abad kedua Hijriah tentang tradisi zuhud atas dasar cinta ilahi (al-hubb). والله أعلم بالصواب Keteladanna cinta Rab’iah kepada Allah yang harus kita contoh, dan keteladannannya dalam beribadah menjadi pribadi yang sangat Taat. Dan tetap mencintaiNya saat sedang dalam kondisi apapun. Kajian muslimah dilanjutkan dengan sesi diskusi, dan ditutup dengan bacaan Hamdalah dan Doa penutup majelis di pandu oleh MC. Kajian Muslimah selesai pukul 12.45 WIB

semoga bermanfaat shalihah

 


Leave a Reply