Kenapa Setiap ‘Datang Bulan’, Iman Saya Turun?

Assalamualaykum Wr. Wb Sahabat Muslimah….., Alhamdulillah bisa kembali membersamai sahabat sekalian, kemuslimahan SKI FKIP UNS kembali hadir untuk berbagi inspirasi, Kami In shaa Allah senantiasa membersamai sahabat sekalian dengan mengupdate artikel-artikel muslimah setiap pekannya, jadi terus ikuti kami yaa… semoga menginspirasi Kali ini kita akan belajar Fiqih dengan tema Kenapa Setiap ‘Datang Bulan’, Iman Saya Turun?  

plants-691414_960_720-e1454982951678

Ibadah seringkali juga dimaknai sempit, sebatas ibadah-ibadah khusus. Sehingga wajar jjika muslimah merasa kehabisan peluang untuk beribadah ketika haidh Tak ada yang salah dalam takdir Allah. Tak ada yang tak adil dalam segala kebijakan-Nya. Semua tergantung bagaimana para hamba meyikapinya. Begitupun dalam perkara haidh. Tentu banyak hikmah yang terkandung di balik itu. Kalaupun akhirnya banyak muslimah yang mengalami penurunan iman secara drastis setiap kali mengalami haidh, itu lebih karena salah dalam persepsi, atau keliru dalam menyikapi. Di antara faktor-faktor itu salah satunya adalah;

Minimnya Ilmu , Krisis ruhiyah bisa terjadi karena minimnya pengetahuan muslimah terhadap jenis-jenis ibadah, terutama ibadah hati. Padahal ibadah hati lebih luas cakupannya, lebih kontinyu tuntutan untuk dikerjakan dan tetap diperintahkan dalam situasi apapun, termasuk ketika haidh, maupun nifas,

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Sesungguhnya amal hati lebih agung dan lebih berat daripada amal jawārih (anggota badan).” Beliau juga berkata, “Amalan hati adalah inti, sedangkan amal anggota badan mengikuti dan melengkapi.” Inilah perkara yang kebanyakan luput dari perhatian kita. Amal hati dituntut adanya secara dawwām (kontinyu). Baik berupa mencintai Allah, takut kepada Allah, berharap kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, merasa diawasi oleh-Nya, dan inābah kepada-Nya. Ibadah seringkali juga dimaknai sempit, sebatas ibadah-ibadah khusus. Sehingga wajar jjika muslimah merasa kehabisan peluang untuk beribadah ketika haidh. Tidak boleh shalat, tidak boleh shaum. Padahal, definisi ibadah itu luas. Sehingga memungkinkan bagi seorang muslimah untuk merealisasikan ibadah setiap waktu, dua puluh empat jam sehari semalam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mendefinisikan ibadah, “Yakni seluruh perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.” Ibadah tetap kontinyu meski muslimah dalam keadaan haidh, sehingga hubungan antara dirinya dengan Allah tidaklah putus karenanya, hatipun tetap hidup. Yang kedua adalah Jauh dari Dzikrullah Berangkat dari minimnya ilmu terhadap jenis ketaatan, maka sibuk dengan perkara yang mubah dan lalai dari dzikrullah juga sering menjadi tradisi wanita yang sedang haidh. Padahal Ibnu Taimiyah –rahimahullāh– berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan, maka bagaimana nasib ikan bila dikeluarkan dari air?” Kondisi hati yang tak disiram dengan dzikir laksana ikan yang di luar air. Cepat atau lambat, ia akan mati. Lebih dari itu, Nabi telah mengumpamakan hati yang kosong dari dzikir bagaikan orang yang mati, مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dan yang mati.” (HR Al-Bukhari No. 5928) Tak ada dalil sharih yang melarang wanita haidh untuk berdzikir, menyebut asma` Allah, memuji dan mengingat-Nya. Tak ada nash, baik Al-Quran maupun Al-Hadits, yang mengecualikan wanita haidh untuk masuk ke dalam golongan ulil albāb yang dikabarkan oleh Allah dalam firman-Nya, الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَ عَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّموَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali ‘Imran: 191) Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya sebagaimana tercantum dalam Fatāwā al-Mar`ah yang disusun oleh al-Musnid hal. 25, “Apakah Allah ‘azza wa jalla menerima doa dan istighfar wanita haidh?” Ya, diperbolehkan, bahkan dianjurkan, bagi wanita haidh untuk memperbanyak doa, istighfar, dzikir, dan merendahkan diri kepada Allah, apalagi di waktu-waktu yang mulia. Apabila terpenuhi sebab-sebab dikabulkannya doa, maka Allah menerima doa wanita yang sedang haidh dan selainnya. Intinya, kondisi haidh tidak menggugurkan kewajiban wanita untuk tetap berdzikir maupun berdoa, karena tidak ada dalil yang menyebutkan larangannya. Jadi wahai muslimah janganlah engkau khawatir akan ibadah saat haid, Allah begitu mencintaimu, sehingga masih banyak bentuk ibadah yang bisa kita lakukan saat haid, berdzikir , bersedekah, menebarkan manfaat, sampai pada hanya duduk dalam majelis ilmu saja sekalipun, maka tetaplah produktif muslimah. –semoga bermanfaat– Sumber: www.muslimah.or.id (dengan sedikit penambahan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *