TOKOH MUSLIMAH #2 – Zubaidah binti Ja’far bin al-Manshur al-‘Abbasi

Zubaidah binti Ja’far bin al-Manshur al-‘Abbasi berasal dari kota yang kukuh, Baghdad, ibu kota peradaban Irak. Dia adalah seseorang yang menulis masa kegemilangan Islam dengan jari-jarinya di Istana Keabadian. Khalifah Harun ar-Rasyid berjalan diantara taman-taman dan bersenandung, serta bersenda gurau dengan awan-awan yang lewat di langit sambil berkata, “Turunkanlah hujan di mana kamu suka. Sesungguhnya pajak dan upeti akan datang kepadaku sebentar lagi.”

Zubaidah tertawa dan dia percaya pada kekuatan pedang kebenaran yang akan menumpas peguasa zalim. Khalifah Harun ar-Rasyid telah memberikan hadiah kepadanya, yaitu dengan memberi pelajaran kepada para raja Romawi dan memaksa mereka membayar upeti yang berlipat ganda. Zubaidah berdiri menghadap Allah, lalu bersyukur atas nikmat-Nya karena dia dapat hidup di zaman para pembesar yang mulia tersebut dan kedudukannya tidak kalah penting dengan mereka.

Zubaidah binti Ja’far bin al-Manshur al-Hasyimiyah hidup di antara tiang-tiang Istana Keabadian. Dia menikah dengan anak pamannya (dari pihak ayah), Harun ar-Rasyid dan melahirkan al-Amin. Ar-Rasyid adalah satu-satunya Khalifah Bani Abbas yang berasal dari keturunan Bani Hasyim.

Zubaidah Ummu al-Amin memperoleh apa yang tidak didapatkan para perempuan sepanjang masa. Dia dianugerahi kehidupan para putri raja yang manja dalam asuhan kakeknya, Khalifah al-Mansur, dan pamannya, al-Mahdi, serta suaminya, Khalifah Harun ar-Rasyid, juga memberikan seluruh kenikmatan dunia untuknya. Kehidupannya dicatat oleh sejarah dengan tinta emas yang menceritakan tentang kehidupan di sebuah negeri dongeng seolah-olah kisahnya termasuk dalam kisah-kisah dongeng Seribu Satu Malam.

Di samping kemewahan yang dia dapatkan, Zubaidah adalah seorang istri khalifah cerdas dan pintar yang mengambil berbagai macam ilmu dari sumbernya, sebagaimana orang-orang muslim pada zamannya yang mengambil air dari Sungai Tigris.

Zubaidah juga seorang penyair. Dia sering mengirimi suaminya, Khalifah Harun ar-Rasyid, surat-surat dalam bait-bait syair. Bahkan, dia menggunakan sastra yang indah dalam surat-menyurat, yang tersimpan rapi dalam buku-buku sejarah. Dia pernah menulis surat kepada Khalifah al-Makmun. Surat yang dia tulis setelah peristiwa pembunuhan anaknya, al-Amin. Surat ini menunjukkan betapa tingginya derajat dan kedudukannya dalam seni politik, siasat, sastra, dan syair.

Dalam surat itu Zubaidah menulis:

“Aku mengucapkan selamat atas naiknya engkau menjadi Khalifah. Aku mengucapkan selamat juga atas diriku sebelum aku melihatmu. Walaupun aku telah kehilangan seorang anak yang pernah menjadi khalifah, aku telah digantikan dengan anak lain sebagai khalifah. Anak yang tidak pernah kulahirkan. Rugilah orang yang meminta pengganti raja sepertimu. Engkau bukan orang yang celaka. Aku memohon kepada Allah pahala atas apa yang telah diambil-Nya dan meminta nikmat dari yang Allah gantikan.”

Kemudian, dia bersyair:

Sebaik-baik imam dari keturunan termulia berdiri di atas tiang-tiang mimbar. Seorang yang mewarisi ilmu dan kemuliaan dari orang sebelumnya. Dia juga mendapat kekuasaan dari Abu Ja’far. Aku menulis dengan berlinang air mata, karenanya wahai putra pamanku. Aku beruntung menjadi kerabat dekatmu dan jika tidak aku tak mampu bersabar

Zubaidah hidup dalam kemakmuran duniawi sehingga apa yang dia inginkan akan didapatkannya. Selain itu, dia juga menegakkan agamanya dan mempersiapkan akhiratnya dengan sungguh-sungguh. Disebutkan bawa dia adalah seorang ahli fiqih, ahli ibadah, dan memiliki 100 jariah (budak perempuan) yang hafal Al-Qur’an dan melantunkan untuknya ayat-ayat Allah. Setiap hari Zubaidah menggilir mereka dengan menyelesaikan sepersepuluh Al-Qur’an.Kedudukannya di Kedaulatan Abbasiyah Zubaidah pergunakan untuk ketaatan dan berinfaq yang tidak ditandingi oleh kaum laki-laki.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Zubaidah berhaji ke Baitullah. Di sana dia mendapati orang-orang yang berhaji susah mendapatkan air minum. Kemudian, dia memanggil bendaharanya dan memerintahkannya untuk memanggil insinyur dan tukang bangunan dari seantero negeri. Para pekerja tersebut membuat saluran air hingga sepuluh kilometer dari Makkah hingga ke Hunain. Saat ini amal jariyah Zubaidah ini akan terus mengalir seperti air tersebut. Kebaikan yang dia berikan kepada tamu-tamu Allah tersebut Allah menghabiskan 1.700.000 dinar pada masa itu.

Zubaidah juga memerintahkan untuk membuat jalan yang menghubungkan Irak dan Makkah serta menggali sumur-sumur. Dia juga membuat perkampungan dengan nama Darbu Zubaidah. Semuanya itu menghabiskan dana sekitar 54 juta dirham.

 

Sumber: 150 Perempuan Sholihah (Abu Malik Muhammad bin Hamid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *