TOKOH MUSLIMAH #4 – SHAFIYAH BINTI HUYAY

Kali ini akan dibahas tentang mukjizat haqiqi yang dengannya Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati. Seorang yang mulia ini hidup bersama orang-orang yang hatinya telah mati karena tidak mengenal Rabb mereka, lalu Allah meniupkan keimanan ke dalam hatinya (Shafiyah) agar mengalir bersama kehidupannya. Kita akan membahas Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyai bin Akhtab bin Sa’iyyah, keturunan Al-Lawi bin Nabi Allah Israil bin Ishaq bin Ibrahim, juga keturunan Rasul Allah Harun.

Shafiyyah berasal dari golongan orang-orang Yahudi Khaibar dan ayahnya yaitu Huyai bin Akhtab adalah pemimpin mereka yang ditaati. Ketika ia mulai dewasa, orang-orang terhormat dari kaumnya sangat menginginkan untuk menikahinya. Maka Salam bin Al-Haqiq menikahi Shafiyyah, kemudian dilanjutkan oleh Kinanah bin Abi Al-Haqiq setelah saudaranya tewas. Keduanya merupakan penyair Yahudi dan Kinanah meninggal saat perang Khaibar.

  Cahaya Islam dan Permusuhan Yahudi

Ketika cahaya Islam menyinari bumi Jazirah, timbullah dendam dan dengki dihati kaum Yahudi terhadap Rasulullah SAW serta risalah yang beliau bawa. Mereka sangat berharap agar Rasulullah SAW adalah salah satu dari mereka, bukan dari negara Arab. Shafiyah melihat ada rasa dendam yang muncul dari hati ayahnya (Huyai bin Akhthab) kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Ketika para pasukan kafir berkumpul di perang Ahzab dan mereka ingin menghancurkan Islam bersama seluruh pemeluknya sebenarnya ada perjanjian antara Nabi dan Yahudi Bani Quraizhah agar mereka menghadapi setiap orang yang hendak menyerbu Madinah. Tetapi Huyai bin Akhthab pergi ke Bani Quraizhah dengan membujuk Bani Quraizhah tersebut untuk berkompromi serta menghabisi Nabi SAW, sampailah kabar tersebut kepada Rasulullah. Setelah kaum Yahudi yang dipimpin oleh Huyai bin Akhthab dan Bani Quraizhah berkompromi, Pasukan kaum Muslimin mendatangi dan mengepung mereka selama 25 malam, kemudian Rasulullah meminta Sa’ad bin Mu’adz unutk memberi hukuman kepada kaum Yahudi yang telah melakukan pengkhianatan. Kemudia Sa’ad memberi hukuman yaitu dengan membunuh orang yang ikut berperang, wanita dan anak – anak akan ditawan, dan harta mereka akan dibagikan. Lalu Rasulullah bersabda, “Sungguh engkau telah menghukum mereka dengan hukum Allah SWT dan Rasul-Nya SAW dan Allah menurunkan ayat tentang Bani Quraizhah, QS. Al Ahzab : 26-17.

  Bertemu Kebahagiaan

Shafiyyah binti Huyai merupakan salah satu tawanan dan kemudian Rasulullah SAW memerdekakan dan menikahiya. Dalam riwayat ketiga: “…tawanan pun dikumpulkan dan Dihyah mendatangi mereka seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berikanlah aku budak perempuan dari tawanan ini.” Beliau berkata, “ Pergi dan ambillah budak perempuan yang engkau sukai.” Lalu ia membawa Shafiyah binti Huyai. Datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Nabi Allah, Anda memberikan Shafiyyah binti Huyai kepada Dihyah? Shafiyah adalah putri pemimpin bani Quraizhah dan bani Nadhir. Ia hanya pantas untuk Anda.” Beliau berkata, “Panggillah Dihyah beserta budak perempuan itu.” Ia berkata, “Lalu datanglah Dihyah membawa Shafiyah.” Ketika Nabi memperhatikannya, beliau berkata, “Ambillah budak perempuan lainnya.” Lalu Rasulullah SAW memerdekakan dan menikahinya.

Tsabit berkata kepada Anas, “Wahai Abu Hamzah! Apa yang beliau jadikan mahar? “ Ia menjawab, “Dirinya. Beliau memerdekakannya dan kemudian menikahinya.” Hingga dalam perjalanan Ummu Sulaim mempersiapkan Shafiyah untuk Rasulullah, lalu ia menyerahkan kepada Nabi pada saat malam dan Rasulullah menjadi pengantin pria. Beliau berkata, ‘Siapa saja yang memiliki suatu makanan, bawalah kemari.’ Lalu ia membentangkan permadani. Datanglah seorang membawa susu, ada pula yang membawa kurma dan ada yang membawa minyak samin, lalu mereka membuat hais. Itulah walimah Rasulullah SAW.

Dari Ibnu Umar ia berkata, “Di sekitar mata Shafiyah ada bekas lebam. Kemudian Nabi SAW berkata kepadanya, ’Apa yang membuat sekitar matamu lebam?’ Shafiyah  pun menceritakan sebab lebam tersebut seraya berkata, ‘Dulu aku pernah berkata kepada suamiku, ‘Aku melihat sesuatu di dalam mimpi, seakan-akan bulan berada di kamarku. Seketika itu ia menamparku, lalu berkata, ‘Apakah kamu mau (menjadi istri) raja Yastrib/Madinah (maksudnya adalah Muhammad)?’

Shafiyah pernah berkata kepada Ibnu Umar, “Saat itu, yang paling membuatku marah kepada Rasulullah adalah beliau telah membunuh ayah dan suamiku. Namun beliau mengemukakan alasannya kepadaku dengan berkata, “Wahai Shafiyah, ayahmu adalah orang yang membangkitkan perselisihan kaum Arab kepadaku dan ia berbuat ini dan itu.” Sehingga rasa amarahku pun redam dan hilang dari diriku.

  Di Rumah Kenabian

Shafiyah kembali bersama Rasulullah SAW setelah melakukan pernikahan dalam perjalanan kembali menuju Madinah Al-Munawaroh.

Aisyah binti Abu Bakar cemburu luar biasa setelah ia mendengar kabar pernikahan Rasulullah SAW dengan Shafiyah binti Huyai, putri pemimpin Yahudi. Bagaimana tidak, Shafiyah adalah wanita cantik rupawan yang masih berusia 17 tahun. Dari Aminah binti Qais Al-Ghifariyah, ia berkata, “Aku adalah salah seorang wanita yang membawa pengantin wanita kepada pengantin pria pada hari pernikahannya dengan Rasulullah. Aku mendengarnya berkata, ‘Umurku belum genap mencapai 17 tahun pada hari pernikahanku dengan Rasulullah.’

Tatkala rombongan sampai ke  Madinah Al-Munawaroh, Rasulullah memerintahkan untuk tidak membawanya ke rumah para istrinya yang suci. Beliau lebih suka menurunkannya di rumah sahabatnya ayng mulia, Haritsah bin Nu’man Al-Anshari.”

  Wanita Mulia Berhati Lembut

Ketika pindah ke rumah Nabi, Shafiyah memulainya dengan memberi hadiah kepada mereka. Dari Ibnu Al-Musayyab, ia berkata, “Shafiyah datang dengan anting yang terbuat dari perak menggantung di telinganya, kemudian ia menghadiahkan anting tersebut kepada Fatimah dan wanita yang bersamanya.” Rasulullah bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”

  Kamu Adalah Keturunan Nabi, Pamanmu Nabi dan Kamu Adalah Istri Nabi

Dari Anas, dia berkata, “Telah sampai berita kepada Shafiyah bahwa Hafsah menyebutnya ‘Anak Yahudi.’ Ucapan itu membuatnya menangis. Nabi menemuinya dan berkata, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Hafsah berkata padaku bahwa aku adalah anak Yahudi.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kamu adalah keturunan seorang Nabi, pamanmu adalah Nabi dan kamu saat ini berada dalam naungan Nabi. Lantas dengan alasan apa ia merasa lebih tinggi?” Kemudian beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah.”

Dari Aisyah, ia berkata, “Aku berkata kepada Nabi. Cukuplah bagimu Shafiyah yang begini dan begitu, ‘Maksudnya pendek. Lalu beliau bersabda, “Kamu telah mengatakan ucapan yang apabila dicampurkan dengan air laut, maka akan membuatnya keruh.”

Dari Shafiyah binti Huyai, bahwa Nabi melaksanakan ibadah Haji bersama para istrinya. Unta beliau yang ditunggangi Shafiyah terjatuh sehingga ia menangis. Lalu Rasulullah datang karena kabar yang sampai kepadanya. Beliau mengusap air mata Shafiyah dengan tangannya agar tangisnya mereda. Lalu Rasulullah menemui orang – orang. Ketika hendak pergi, beliau berkata kepada Zainab binti Jahsy, “Pinjamkanlah unta untuk saudarimu.” Ia berkata, “Apakah aku harus meminjamkan unta kepada seorang keturunan Yahudi?” Rasulullah marah dan tidak berbicara dengannya sampai kembali ke Madinah.

  Shafiyah merupakan  Wanita Jujur

Dari Zaid bin Aslam, ketika Nabi sakit yang membuatnya wafat. Shafiyah binyi Huyai berkata, “Demi Allah, Wahai Nabi Allah, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, Rasulullah berkata, “Berkumurlah!” Dengan terkejut mereka bertanya, “Dari apa?” Beliau menjawab, “Dari sinyal mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia telah berkata jujur.”

  Mengejar Ketertinggalan

Shafiyah berusaha keras dalam ketaatan kepada Allah untuk mengejar ketertinggalannya. Ia tidak menghabiskan umurnya berlalu begitu saja tanpa ketaatan kepada Allah. Kedekatannya dengan Nabi membuatnya selalu belajar sesuatu yang bermanfaat dalam agama dan dunianya. Dia mengambil ilmu langsung dari sumbernya yang suci, ia mengambil akhlak Nabi, petunjuk, kasih sayang, kecerdasan dan ilmunya. Bahkan ia banyak menghafal kitab Allah dan menyampaikan sunnah Nabi kepada para wanita di sekitarnya.

  Perpisahan yang Menyakitkan

Hari-hari yang indah berjalan begitu cepat. Shafiyah hidup bersama Nabi di surga dunia yang dikelilingi iman di setiap sudutnya. Namun terus berjalannya suatu kondisi adalah hal yang mustahil. Telah datang suatu hari yang membuat seluruh dunia kehilangan atas kematian Rasulullah. Shafiyah merasa sangat bersedih yang hampir membuat hatinya hancur. Namun ia tetap bersabar dan mengharapkan ridha Allah supaya mendapatkan pahala orang-orang yang bersabar.

  Tiba Saat Berpisah

Shafiyah hidup setelah wafatnya Rasulullah sekitar 40 tahun, yang semuanya dihabiskan untuk taat kepada Allah dengan cara shalat, puasa, shadaqah, menebarkan ilmu dan dakwah kepada Allah. Pada tahun 50 hijriyah, Shafiyah binti Huyai wafat.

 

Sumber :

Judul Buku : Biografi 35 Shahabiyah Nabi

Karya         : Syaikh Mahmud Al-Mishri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *