TOKOH MUSLIMAH #5 – RAMLAH BIN ABU SUFYAN (UMMU HABIBAH)

Ramlah binti Abu Sufyan atau Ummu Habibah adalah salah satu dari istri dari Nabi Muhammad, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin. Ummu Habibah dilahirkan 17 tahun sebelum Nabi Muhammad diutus yaitu pada tahun 35 Sebelum H/589 M dan merupakan putri dari tokoh terkemuka kaum quraisy yaitu Abu Sufyan yang masih merupakan paman dari Rasulullah Muhammad SAW, sedangkan ibunda Ummu Habibah bernama Shafiyyah binti Abdul ‘Ash. Ummu Habibah sosok putri Abu Sufyan yang berani meninggalkan sesembahan ayah dan kaumnya lantas memilih agama Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika kebenaran telah tampak di hadapan matanya dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangi relung hatinya. Ummu Habibah adalah di antara orang-orang yang pertama kali masuk Islam, ia beriman kepada Nabi Muhammad dan membenarkan ajaran beliau. Suami Ummu Habibah sebelum menikah dengan Nabi Muhammad SAW adalah ‘Ubaidullah bin Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah bin Katsir bin Ghanm bin Dawdan bin Asad bin Khuzaimah. Dalam perjalannya menyelamatkan agama untuk meraih kenikmatan tauhid Ummu Habibah beserta suaminya memilih untuk berhijrah ke tanah Habasyah meninggalkan ayahandanya yang tetap berpegang teguh dengan ajaran nenek moyangnya. Namun ditengah perjalan hijrahnya, Ummu Habibah harus menghadapi kenyataan pahit saat suaminya ‘Ubaidullah murtad dari ajaran islam dan menjadi seorang Nasrani dan mengajak Ummu Habibah untuk turut serta, tetapi Ummu Habibah menolak dan memilih meninggalkan suaminya yang murtad dari ajaran tauhid tersebut. Saat itulah keteguhan Ummu Habibah dalam menjaga agamanya diuji. Tiga pilihan berat terbayang amat sangat dekat di pelupuk matanya, menjalani hidup bersama sang suami dengan melepaskan keislamannya seraya menyandang kehinaan di dunia dan di akhirat, mempertahankan prinsipnya dengan tetap tinggal di Habasyah dalam keadaan terasing tanpa kerabat dan keluarga, atau memilih kembali ke Mekah menjadi putri bangsawan yang tinggal di dalam ‘istana’ di bawah naungan sang ayah, tetapi hidup dalam keadaan terjajah agamanya. Akhirnya, Ummu Habibah hidup seorang diri bersama puterinya (Habibah) dalam keteguhannya menjaga dan memegang teguh ajaran agama islam, sampai Rasulullah mengutus ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri kepada Raja Najasyi agar meminta kepada raja tersebut untuk menikahkan Ummu Habibah dengan Rasulullah. Pada saat itu yang menjadi wali nikahnya adalah putera dari pamannya yaitu Khalid bin Sa’id bin Al-‘Ash bin Umayyah. Sedangkan raja Najasyi mewakili Rasulullah. Adapun akad nikahnya, ada yang menyatakan berlangsung di Madinah setelah Ummu Habibah pulang dari Habasyah, ada pula yang menyatakan di Habasyah. Maharnya ketika itu adalah 400 dinar. Pernikahan terdebut berlangsung pada tahun 6 Hijriyah. Selanjutnya, dalam perjalanan hidupnya Ummu Habibah sangatlah ‘itibba dengan petunjuk Rasulullah SAW, hal tersebut dapat dibuktikan melalui hadis mengenai Shalat Rawatib berikut ini Dari Ummu Habibah i, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah (rawatib) dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” Ummu Habibah mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut langsung dari Rasulullah SAW.” ‘Ambasah mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah.” ‘Amr bin Aws mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Ambasah.” An-Nu’man bin Salim mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Amr bin Aws.” (HR. Muslim, no. 728). Selain itu, Ummu Habibah juga merupakan sosok tauladan Wala’ wal Bara’. Hal ini tergambar dari sebuah peristiwa saat Sang Ayah Abu Sufyan dating ke mekah kala Nabi Muhammad hendak menyerang Makkah, Diriwayatkan dari Az-Zuhri, ia berkata, “Kala Abu Sufyan dating ke Madinah saat Nabi Muhammad hendak menyerang Makkah, Abu Sufyan melobi Rasulullah untuk memperpanjang waktu gencatan senjata namun beliau menolaknya. Abu Sufyan kemudian pergi lalu memasuki kediaman putrinya Ummu Habibah. Saat hendak duduk diatas tikar Nabi Muhammad, Ummu Habibah segera melipat tikar tersebut. Abu Sufyan sontak berkata ‘Wahai Putriku ! Apakah kau melipat tikar itu agar aku tidak duduk diatasnya atau menyingkirkannya dariku?’ Ummu Habibah Menjawab, ‘(Bukannya seperti itu), tapi ini tikar milik Rasulullah, sementara kau orang najis, orang musyrik, ‘Putriku, ada yang tidak beres denganmu setelah kau berpisah dariku. Ummu Habibah radhiallahu’anha sedikitpun tidak bergeming dari prinsipnya, keimanan yang telah terhunjam di dalam hatinya tidak mampu dicabut dan digoyahkan dengan kekuatan serta badai kemarahan sang ayah. Ummu Habibah meninggal dunia di Madinah pada tahun 44 Hijriyah pada masa khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagaimana hal ini ditegaskan oleh kebanyakan ulama. Sebelum meninggal dunia, Ummu Habibah memanggil ‘Aisyah seperti yang diriwayatkan oleh ‘Auf bin Al-Harits, ia mendengar Aisyah i berkata, “Ummu Habibah pernah memanggilku ketika ia akan meninggal dunia. Ia berkata, ‘Di antara kita pasti pernah ada masalah. Semoga Allah mengampuni aku dan engkau dari apa saja yang terjadi di antara kita.” Aisyah pun berkata, “Moga Allah memaafkanmu atas seluruh kesalahanmu dan menghalalkan itu semua.” Ummu Habibah lantas berkata, “Engkau telah membahagiakanku, moga Allah juga memberikan kebahagiaan untukmu.” Ummu Habibah juga menyatakan kepada Ummu Salamah seperti itu pula. Ummu Habibah radhiallahu’anha telah tiada, namun keindahan kisah hidupnya akan senantiasa menghiasi lembaran catatan sejarah manusia, dan keteguhannya dalam menjaga agama menjadi pelajaran besar bagi siapa saja yang mau mengambilnya. Maka renungkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya yang mulia, أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ {3} “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) menyatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *