Category NASEHAT

Mahasiswa Kehilangan Wajah, Pemuda Sibuk Mencari Topeng

Oleh: Ardi Amsir Amran

Dan jan­gan­lah dip­ilih hidup ini bagai nyanyian ombak
hanya berbunyi ketika ter­hempas di pan­tai
Tetapi jadi­lah kamu air-bah , men­gubah dunia den­gan amalmu

Kipaskan sayap mu di selu­ruh ufuk
Sinar­i­lah zaman den­gan nur imanmu
Kir­imkan cahaya den­gan kuat yak­inmu
Patrikan segala den­gan nama Muhammad

(M. Nat­sir )

Read More

Hadits: Tanda-tanda Kenabian dan Prediksi Kemenangan Islam telah Dikenali Ahli Kitab

“Abu Sufyan mengabarkan bahwa Hirak­lius menyu­ruh dia datang ke Syam bersama kafi­lah sauda­gar Quraisy. Waktu itu Rasu­l­ul­lah SAW sedang dalam per­jan­jian damai den­gan Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy. Mereka datang meng­hadap Hirak­lius di Ilia, lalu masuk di dalam majelis­nya di hada­pan pembesar-pembesar Romawi. Kemu­dian Hirak­lius memang­gil orang-orang Quraisy itu beserta juru bahasanya.

Hirak­lius berkata, “Siapa diantara Anda yang pal­ing dekat hubun­gan kekelu­ar­gaan­nya den­gan laki-laki yang men­gaku seba­gai Nabi itu?” Abu Sufyan men­jawab, “Saya kelu­arga ter­dekat­nya.” Hirak­lius berkata kepada juru bicaranya, “Suruh dia mendekat kepadaku, dan suruh pula para saha­bat­nya duduk di belakangnya.” Kemu­dian dia berkata kepada juru bicaranya, “katakan kepada mereka aku akan bertanya kepadanya (Abu Sufyan). Jika dia berdusta, suruh­lah mereka men­gatakan bahwa dia berdusta.” Kata Abu Sufyan: “Demi Tuhan! Jika tidak­lah aku takut akan men­da­pat malu karena aku dikatakan pen­dusta, nis­caya maulah aku berdusta.”

Per­tanyaan per­tama, “Bagaimanakah garis nasab­nya di kalan­ganmu?“
Aku jawab, “Dia turunan bang­sawan di kalan­gan kami.“
Hirak­lius bertanya lagi, “Per­nahkah orang lain sebelum­nya men­gatakan apa yang dikatakan­nya?“
Aku men­jawab, “Tidak“
“Adakah diantara nenek moyangnya yang men­jadi raja?“
“Tidak,“
“Apakah pengikut­nya ter­diri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang dhuafa?“
“Hanya ter­diri dari orang-orang dhuafa,“
“Apakah pengkut­nya semakin bertam­bah atau berku­rang?“
“Bahkan selalu bertam­bah“
“Adakah diantara mereka yang mur­tad karena benci kepada agama yang dipeluknya?”

Read More

Saat Embun Menembus Batu

Penge­tahuan kita memang sedikit. Tera­mat sedikit. Hanya seperti setetes embun di lau­tan penge­tahuan Allah. Itupun tidak bisa den­gan sendirinya men­cip­takan peristiwa-peristiwa kehidu­pan kita. Kesala­han kita, den­gan begitu, selalu ada di situ; saat di mana kita menaf­sirkan selu­ruh proses kehidu­pan kita den­gan penge­tahuan seba­gai tafsir tung­gal. Tapi setetes embun itu yang sebe­narnya mem­berikan sedikit kuasa bagi manu­sia atas peserta alam raya lain­nya, dan kare­nanya mem­be­dakan dari mereka.

Walaupun bukan dalam kerangka hubun­gan kausal­i­tas mut­lak, Allah tetap saja menye­but­nya sul­tan; kekuasaan, keku­atan. Penge­tahuan men­jadi kekuasaan dan keku­atan karena Allah den­gan kehendak-Nya meni­up­kan kuasa dan keku­atan itu ke dalam­nya kapan saja Ia menghen­dakinya. Dan karena penge­tahuan itu adalah input Allah yang diberikan­nya kepada akal seba­gai infra­struk­tur komu­nikasi manu­sia dengan-Nya, maka ia men­jadi pent­ing seba­gai penun­tun bagi kehidu­pan manu­sia. Dalam kerangka itu­lah Allah men­gu­langi kata ilmu, den­gan selu­ruh peruba­han mor­fol­o­gis­nya, lebih dari 700 kali dalam Al-Qur’an. Di jalur makna seperti itu pula Rasu­l­ul­lah SAW men­gatakan: “Siapa yang menginginkan dunia hen­dak­lah ia berilmu. Siapa yang menginginkan akhi­rat hen­dak­lah ia berilmu. Siapa yang menginginkan kedua-duanya hen­dak­lah ia berilmu.”

Read More

Malulah Kita Pada Mereka

Seo­rang lelaki mulia, yang fisiknya Allah takdirkan tak sem­purna, tapi kare­nanya Rasul yang mulia per­nah dite­gur Allah dalam Surat ‘Abasa. Seo­rang lelaki luar biasa yang ditu­gasi meng­gan­tikan Rasu­l­ul­lah mengi­mami Sha­lat ketika Rasul sedang berangkat ke medan perang. Dialah Abdul­lah bin Ummi Maktum.

Kisah ini ter­jadi di masa pemer­in­ta­han Umar bin Khat­tab, seruan berji­had diku­man­dan­gkan Khal­i­fah. Khal­i­fah menginginkan semua per­si­a­pan perang semak­si­mal­nya. “Jan­gan ada seo­rang jua pun yang ket­ing­galan dari orang orang bersen­jata, orang yang mem­pun­yai kuda, atau yang berani, atau yang berpiki­ran tajam, melainkan hadap­kan semuanya kepada saya, sesegera mungkin!”, begitu komando khalifah.

Dalam kon­disi ini Abdul­lah ter­ma­suk orang yang punya udzur dan boleh untuk tidak mengam­bil bagian dalam perang. bahkan khal­i­fah pun punya alasan melarangnya ikut,”iya kalau yang ia tebas adalah musuh,bagaimana kalau yang kena tebasan pedan­gnya adalah kawan?”,begitu alasan khal­i­fah Umar. Tapi, Abdul­lah bin Ummi mak­tum teta­plah Abdul­lah bin Ummi Mak­tum, dia adalah manu­sia luar biasa, manu­sia yang tak per­nah meny­erah pada keter­batasan fisiknya, ia selalu punya cara, mencari-cari alasan agar ia tetap dibolehkan ikut berperang.

Read More

Selalu Berinteraksi dengan Al Qur’an

“Segala puji bagi Allah yang telah menu­runkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak men­gadakan kebengkokan di dalam­nya; seba­gai bimbin­gan yang lurus, untuk mem­peringatkan akan sik­saan yang san­gat pedih dari sisi Allah dan mem­beri berita gem­bira kepada orang-orang yang beri­man, yang menger­jakan amal saleh, bahwa mereka akan men­da­pat pem­bal­asan yang baik, mereka kekal di dalam­nya untuk selama-lamanya.” ( Al Kahfi: 1–3)

Salawat serta salam bagi Nabi yang mu’jizatnya Al Qur’an, imam­nya Al Qur’an, akhlaqnya Al Qur’an, dan penghias dadanya, cahaya hatinya juga penghi­lang kesedi­han­nya adalah Al Qur’an: Nabi Muham­mad bin Abdul­lah, dan kelu­ar­ganya serta para saha­bat­nya, yang beri­man den­gan­nya, men­dukung dan mem­ban­tunya, serta mengikuti cahaya yang ditu­runkan kepadaanya, mereka adalah orang-orang yang berun­tung, dan selu­ruh orang yang mengikuti mereka den­gan baik hingga hari kiamat.

Rabb kita telah mem­berikan kemu­li­aan kepada kita –seba­gai kaum Mus­limin– den­gan men­ganuger­ahkan kitab suci yang ter­baik yang ditu­runkan kepada manu­sia. Rabb kita juga, telah memu­li­akan kita den­gan mengutus nabi yang ter­baik yang per­nah diu­tus kepada manu­sia. Sesuai fir­man Allah SWT:

Read More

Syeikh Yusuf Qardhawi: Jauhilah Segala Sesuatu Yang Berhubungan Dengan Natal!

Ini­lah tau­jih yang dis­am­paikan oleh Syeikh Yusuf Al Qard­hawi di sta­siun tele­visi Qatar, belum lama ini. Isi tau­ji­h­nya den­gan jelas dan tegas melarang umat Islam untuk ter­li­bat dalam kegiatan Natal. Berikut petikannya.

Saudara-saudara,

Saya ingin berbicara berbicara ten­tang apa yang sedang ter­jadi di seke­lil­ing kita sekarang ini. Saya ingin bertanya bagaimana ben­tuk rupa masyarakat kita hidup di negara dimana ada Mus­lim dan Kris­ten. Apa yang ter­jadi di toko-toko dan di jalan-jalan Doha (mis­al­nya); semua per­ayaan yang dise­but kelahi­ran Yesus, atau Natal? Seolah-olah kita hidup di negara Eropa Kristen.

Kita bahkan tidak mer­ayakan kelahi­ran dari Nabi Muham­mad, tetapi kita mer­ayakan Natal?! Pohon Natal, 4 atau 5 meter, yang didirikan di toko-toko, dan tokok-toko itu dim­i­liki oleh kelu­arga mus­lim. Apa ini?! Ini berarti bahwa umat ini mening­galkan iden­ti­tas­nya yang mus­lim. Islam menginginkan kita untuk mem­per­ta­hankan keu­nikan Islam.

Read More

Amanah

Rasu­l­ul­lah saw. bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)

Amanah adalah kata yang ser­ing dikaitkan den­gan kekuasaan dan materi. Namun sesung­guh­nya kata amanah tidak hanya terkait den­gan urusan-urusan seperti itu. Secara syar’i, amanah bermakna: menunaikan apa-apa yang diti­tip­kan atau diper­cayakan. Itu­lah makna yang terkan­dung dalam fir­man Allah swt.: “Sesung­guh­nya Allah memer­in­tahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah kepada pemi­liknya; dan apa­bila kalian mene­tap­kan hukum di antara manu­sia hen­dak­lah kalian mene­tap­kan hukum den­gan adil.” (An-Nisa: 58)

Ayat di atas mene­gaskan bahwa amanah tidak melulu menyangkut uru­san mate­r­ial dan hal-hal yang bersi­fat fisik. Kata-kata adalah amanah. Menunaikan hak Allah adalah amanah. Mem­per­lakukan sesama insan secara baik adalah amanah. Ini diperkuat den­gan perintah-Nya: “Dan apa­bila kalian mene­tap­kan hukum di antara manu­sia hen­dak­lah kalian mene­tap­kan hukum den­gan adil.” Dan kead­i­lan dalam hukum itu meru­pakan salah satu amanah besar.

Read More

Arti Tarbiyah

Tar­biyah berasal dari bahasa Arab yang berarti pen­didikan, sedan­gkan orang yang men­didik dina­makan Murobi. Secara umum, tar­biyah dapat dikem­ba­likan kepada 3 kata kerja yg berbeda, yakni:
Rabaa-yarbuu yg bermakna namaa-yanmuu, artinya berkem­bang.
Rabiya-yarbaa yg bermakna nasya-a, tara’ra-a, artinya tum­buh.
Rabba-yarubbu yg bermakna asla­hahu, tawal­laa amrahu, sasa-ahuu, wa qaama ‘alaihi, wa ra’aahu, yang artinya mas­ing mem­per­baiki, men­gu­rus, memimpin, men­jaga dan memeli­ha­ranya (atau men­didik).

Read More