Category Archives: KEMUSLIMAHAN

  • 0

Muhasabah diri, perlukah itu ?

Category : KEMUSLIMAHAN

muhasabah_fix

Wahai muslimah tahukah engkau ketika seseorang melakukan muhasabah maka akan tampak jelas di hadapannya atas dosa-dosa yang dilakukan. Bagaimana mungkin seorang manusia dapat melihat kesalahan diri kita dosa dan aibnya tanpa melakukan adanya muhasabah diri ?!

Pertanyaan di atas mungkin banyak menghampiri benak seorang muslimmah , ada di antara mereka yang memilih untuk menyibukkan diri dengan urusan dunianya tanpa memikirkan apa yang akan menjadi bekalnya di akhirat. Ada pula yang beribadah sebagaimana apa yang Allah perintahkan, namun ibadahnya hanyalah sebagai rutinitas. Mereka shalat lima waktu setiap harinya, berpuasa dan mengeluarkan zakat setiap tahunnya akan tetapi semua itu tidak berdampak pada akhlak dan pribadinya, maksiat pun terkadang masih dilakukan. Motivasi untuk memperbaiki amalan-amalan yang ada tak kunjung hadir, penyebabnya satu karena melupakan muhasabah diri sehingga orang-orang seperti ini sudah merasa cukup dengan amalan yang telah dilakukan. Di sinilah pentingya muhasabah, ada beberapa hal lainnya yang menjadi alasan kenapa muhasabah perlu dilakukan, diantaranya:

1. Muhasabah merupakan perintah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

2. Muhasabah merupakan sifat hamba Allah yang bertaqwa

Seseorang yang bertaqwa adalah mereka yang membawa sebaik-baik bekal, dan dalam perjalanan mencari bekal tersebut tak jarang seseorang merasa lelah dan bosan yang mengakibatkannya tak mawas diri sehingga tergelincir dan terjatuh dalam futur (lemah semangat untuk melakukan amal shalih). Muhasabah akan membantu seseorang untuk menghadapi berbagai rintangan yang ia temukan dalam pencariannya akan bekal tersebut. Maimun bin Mahran rahimahullah berkata:

لَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يَكُوْنَ لِنَفْسِهِ أَشَدُّ مُحَاسَبَةً مِنَ الشَّرِيْكِ الشَّحِيْحِ لِشَرِيْكِهِ

“Tidaklah seorang hamba menjadi bertaqwa sampai dia melakukan muhasabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit yang membuat perhitungan dengan temannya”.

3. Buah manis dari muhasabah adalah taubat

Ketika seseorang melakukan muhasabah maka akan tampak jelas di hadapannya atas dosa-dosa yang dilakukan. Bagaimana mungkin seorang anak cucu Adam dapat melihat dosa dan aibnya tanpa melakukan muhasabah?!

Banyak di antara manusia yang melakukan kemaksiatan, namun Allah masih memberikan nikmat kepadanya, dia tidak menyadari bahwa ini adalah bentuk istidraj (penangguhan menuju kebinasaan) dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’raf: 182).

Orang-orang yang memahami ayat Allah ini, akan takut atas peringatan Allah tersebut dan dia akan senantiasa mengintrospeksi dirinya, jangan sampai nikmat yang Allah berikan kepadanya merupakan bentuk istidraj. Muhasabah yang mengantarkan kepada pertaubatan di awali dengan memasuki gerbang penyesalan. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

النَّدَامَةُ تَوْبَةٌ

Menyesal adalah taubat.” (HR.Ibnu Majah no. 4252,

Mari muslimah kita bersama mengingatkan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan senantiasa mengingat akan kesalahan diri kita untuk lebih dekat dengan Rabb kita .., semoga senantiasa dalam kebaikan shalihah

Wallahu A’lam.

Sumber : http://www.muslim.or.id

Sumber gambar : http://www.pondokalmaidah.com

Dengan beberapa perubahan.

 

 


  • 0

Menjaga dan bukan merubah

Category : KEMUSLIMAHAN

healthy_logo

Assalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokatuh

Sahabat muslimah yang cantik dan sholihah,

Semoga senantiasa dalam keistiqomahan untuk berhijrah dan belajar menjadi baik ya. Kali ini kita akan membahas soal bagaimana seorang muslimah merawat diri yang termasuk di dalamnya soal berhias. Langsung saja yuuk,,,

Pada prinsipnya, Islam membolehkan seorang muslimah untuk berpenampilan menarik, berwibawa dan anggun. Adapun dalam masalah berhias, ada beberapa prinsip yang harus dipegang oleh seorang muslimah.

Dalam merawat diri, seorang muslimah haruslah menyadari bahwa pada prinsipnya berhias yang sesuai dengan syariat Islam adalah merawat bukan merubah. Allah berfirman, “… Dan benar-benar akan aku perintahkan mereka merubah ciptaan Allah, lalu mereka benar-benar merubagnya.” (QS. An-Nisa:119).

Sahabat muslimah, prinsip merawat diri untuk menjadi cantik di dalam Islam adalah bagaimana menjadikan apa-apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita, seperti kulit, mata, rambut dan sebagainya, tidak menjadi rusak sebelum waktunya. Perawatan yang dimaksudkan adalah membersihkan dari berbagai jenis kotoran, mengangkat sel kulit mati, serta melindungi dari cuaca panas maupun dingin dan juga dari debu.

Kebersihan dalam hal ini juga meliputi kebersihan tubuh seperti kulit, rambut, dan pakaian. Sahabat muslimah, menggunakan pakaian dan kerudung yang bersih dapat melindungi kita dari cuaca yang panas maupun dingin, debu dan polusi saat kita beraktivitas.

Rasulullah bersabda, “Kebersihan sebagian dari iman.” (HR. Muslim). Demikian pula sabdanya, “Bersih-bersihlah, karena sesungguhnya Islam itu bersih”. (HR. Ibnu Hibban).

Jika kita lihat dengan seksama di sekeliling kita, banyak sekali di kalangan wanita yang merubah bentuk ciptaan Allah yang dianugerahkan kepadanya. Seperti tatto, mengikir gigi, operasi untuk kecantikan misalnya merubah hidung agar mancung, mengerok atau menipiskan alis sampai menyambung rambut. Padahal sudah dijelaskan bahwa yang harus dilakukan seorang muslimah adalah merawat bukan merubah.

Sahabat muslimah, menjadi cantik adalah gaya hidup. Bukan hanya sekedar memperolehnya begitu saja tetapi dengan aktivitas merawat yang menjadi kebiasaan. Sebagai contoh, jika seorang muslimah rajin mencuci muka dengan air wudhu tentu akan menghilangkan kotoran yang melekat pada wajahnya dan mencegah timbulnya jerawat. Jika seorang muslimah rajin mandi, menggosok gigi, menggunakan pakaian dan jilbab yang bersih pasti akan membuatnya tampil lebih menarik dan anggun dibandingkan dengan yang malas dan kumal.

Sahabat muslimah, cantik itu bukan soal mahal tapi cantik itu soal penjagaan dan keistiqomahan. Sebagai seorang muslimah, memang sudah seharusnya kita memiliki wawasan yang luas. Tak sekedar mengenal merk kosmetik atau jenis perawatan yang modern. Tapi kita juga harus benar-benar memahami dari segi manfaat dan mudharatnya bagi tubuh kita dalam jangka pendek maupun panjang. Tentu kita tidak menginginkan apabila yang kita lakukan dalam memperoleh kecantikan itu menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh kita sebelum waktunya.

Sahabat muslimah, mari kita awali dari diri kita sendiri. Bahwa kita harus menjaga dan bukan merubah. Dan mari kita ajak muslimah lainnya agar senantiasa terjaga kecantikannya yang alami dan senantiasa mensyukuri anugerah yang telah Allah berikan sebagai keistimewaan seorang muslimah. Karena cantikmu istimewa. Karena cantik tak sekedar soal penilaian mata manusia.

Wassalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokatuh

Semoga bermanfaat. [WR]

 

Daftar pustaka : Afra, Afifah.2008.Panduan Amal Wanita Salihah: Thaharah,85.INDIVA:Surakarta.

sumber gambar : http://gudangilmu18.blogspot.co.id/2012/05/bagaimana-menjadi-pribadi-muslimah-yang.html


  • 0

Wahai muslimah , Taukah kamu Nikmatnya menjaga Pandangan ?

Category : KEMUSLIMAHAN

muslimah-harus-menjaga-pandangan

Assalamuhalaykum … Sahabat Muslimah, indah dan nikmat ketika kita menjaga pandangan , tahukah itu ?

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya…”

Sahabat Muslimah tentunya sudah tidak asing lagi mendengar terjemahan ayat di atas, yaitu firman Allah yang terdapat pada Al-Qur’an surat an-Nur ayat 31 yang menjelaskan tentang beberapa hal, diantaranya kewajiban untuk menahan pandangan (godhul bashor).

Apa yang salah dengan pandangan? Bukannya kita diberi mata untuk memandang??  Kita memang diberi mata untuk melihat ciptaan Allah, namun semua itu ada aturannya. Kita diminta untuk memalingkan pandangan dari hal-hal yang Allah haramkan, seperti lawan jenis yang bukan mahrom.

Lalu, kenapa ya kita harus menjaga pandangan ini? Berikut ini beberapa alasannya, yaitu:

  1. Pandangan yang tidak seharusnya adalah sarana menuju yang haram
    Tentang keharamannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim)
  2. Membiarkan pandangan lepas adalah bentuk kemaksiatan kepada Allah
    Allah berfirman dalam Al Qur’an surat An-Nur ayat 30, yang artinya, “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
  3. Masuknya setan ketika seseorang itu memandang
    Masuknya setan  lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Parahnya, setan akan menjadikan wujud yang dipandang sebagai berhala tautan hati, mengobral janji dan angan-angan. Lalu ia menyalakan api syahwat dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Pintarnya lagi, setan  akan menyesatkan manusia secara bertahap. Ada pepatah yang mereka pegangi; berawal dari pandangan, lalu berubah menjadi senyuman, kemudian beralih menjadi percakapan, kemudian berganti menjadi janjian, yang pada akhirnya berubah menjadi pertemuan. Begitu hebatnya setan  melemparkan panah beracun pada diri kita  dan setan  melemparkannya secara bertahap sehingga kadang kita tidak menyadarinya. Astaghfirullah…Tidak percaya? Masih ingat dengan kisah Yusuf dan para bangsawati yang mengiris-ngiris jari ‘kan?
  4. Pandangan tersebut akan menyibukkan hati
    Seseorang yang hatinya sibuk akan menyebabkannya lupa akan hal-hal yang bermanfaat baginya. Akhirnya, ia akan selalu lalai dan hanya mengikuti hawa nafsunya.
  5. Kita dapat merusak hati orang lain
    Seringkali, pandangan seorang wanita kepada laki-laki tak hanya merusak hati si pemandang. Ketika dicampur dengan senyum, tunduk atau berbisik dengan rekannya sesama perempuan, lalu bayangan ini tertangkap oleh laki-laki yang dipandang atau yang merasa GR (gede rasa) karena merasa dipandang, pasti ada lagi hati yang rusak. Wah, hanya menambah dosa saja!!

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa antara mata dan hati ada kaitan erat. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hatipun akan rusak dan hancur. Hati ini bagaikan tempat sampah yang berisikan segala najis. Kalau kita membiarkan pandangan lepas, berarti kita memasukkan kegelapan di dalam hati. Sebaliknya, bila kita menundukkan pandangan karena Allah berarti kita memasukkan cahaya ke dalamnya.

Allah lagi-lagi mengingatkan, masih pada surah An Nur, di ayat 35, Allah berfirman, yang artinya, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) , yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Bila hati ini telah bersinar, berbagai amal kebaikan akan berdatangan dari berbagai penjuru, untuk dilaksanakan. Jangan sampai kita masih terus melanggar perintah-Nya karena tidak merasa diawasi oleh Allah. Bukankah Allah Maha Mengetahui apa yang kita perbuat?? Jadi, kita tinggal memilih, ingin memiliki pandangan yang terjaga atau tidak ?? Tentunya, dengan segala konsekuensi yang ada.

Wahai muslimah maka jagalah pandanganmu dari sesuatu yang haram untukmu, jagalah pandangan dari sesuatu yang meneruskanmu pada kemaksiatan, karena muslimah begitu mualinaya engkau maka jagalah kemuliaan itu dengan sesuatu yang mudah yaitu dari menjaga pandanganmu .. semoga bermanfaat

sumber  : muslimah.or.id dengan beberapa perubahan dan penambahan redaksi

sumber gambar :komunitashijabsyari.org

 

 


  • 0

Wanita Inspiratif “Khadijah binti Khuwailid “

Category : KEMUSLIMAHAN

 

khadijah2

Karena keistimewaan seorang wanita bukan terletak pada paras ayunya, tapi kemuliaannya.

Bukan hanya pada prestasinya, tapi juga penjagaan terhadap dirinya.

Bukan hanya sekedar terlihat hebat di mata manusia, tapi juga bisa menginspirasi di setiap sisi kehidupannya.

 

Sahabat muslimah, saat ini banyak sekali sosok wanita-wanita inspiratif di Indonesia. Baik itu dalam bidang Pendidikan, bidang Ekonomi, bidang Sosial, bidang Budaya dan yang lainnya. Wanita-wanita yang bukan hanya mampu memperjuangkan dirinya agar dapat meningkatkan kualitas diri dengan berpendidikan tinggi, memiliki karya atau menjadi seorang aktivis di berbagai bidang.

Jika kita ditanya, siapa sosok wanita inspiratif dalam pandangan kita? Siapa yang akan kita sebut namanya pertama kali?

Sahabat muslimah, mari sejenak kita refleksikan pikiran kita dan kembali mengingat sosok wanita inspiratif yang namanya akan selalu diingat sepanjang keberjalanan hidup umat manusia. Beliau adalah Khadijah R.A, istri Rasulullah SAW,. Nama lengkapnya Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abd Al Uzza’. Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya.

Pada masa jahiliyah ia dipanggil Ath Thaharoh (wanita suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Orang-orang Quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita Quraisy. Ayahnya, Khuwailid bin Asad, adalah tokoh pembesar Quraisy yang terkenal hartawan dan dermawan. Khuwailid sangat mencintai anggota keluarga dan kaumnya, menghormati tamu dan suka memberdayakan serta membantu kaum miskin. Ibunya bernama Fatimah binti Zaidah. Neneknya adalah Halah Binti Abdul Manaf yang tersambung sampai Lu’ai bin Ghalib.

Khadijah biasa dipanggil dengan nama Ummu Hindun dan mendapat gelaran ath-thhirah (wanita suci) atau ummul mukminin (ibu orang-orang mukmin). Gelaran ath-thahirah diperolehi sebelum kedatangan Islam kerana kesucian budi pekertinya, kedudukannya yang mulia di tengah-tengah kaumnya, dan kesucian dirinyaKhadijah juga diberi gelar ummul mukminin (ibu orang-orang mukmin) kerana ia adalah sebaik-baik isteri yang dan mempunyai suri teladan yang baik bagi insan yang mahu mengikutinya.

Pada tahun 575 Masehi, Siti Khadijah ditinggalkan ibunya. Sepuluh tahun kemudian ayahnya menyusul. Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya. Kekayaan warisan menyimpan bahaya. Ia bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan hidup berfoya-foya. Pada awalnya, Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.

Tak lama kemudian suamianya meninggal dunia. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia. Saat itu Siti Khadijah menjadi wanita terkaya di kalangan bangsa Quraisy. Karenanya, banyak pemuka dan bangsawan bangsa Quraisy yang melamarnya.

Suatu ketika, Muhammad berkerja mengelola barang dagangan milik Siti Khadijah untuk dijual ke Syam bersama Maisyarah.Maysarah menceritakan mengenai perjalanannya, mengenai keuntungan-keuntungannya, dan juga mengenai watak dan kepribadian Muhammad. Kian hari Khadijah semakin mengagumi sosok Muhammad dan muncul juga perasaan-perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad. Tibalah hari suci itu. Maka dengan maskawin 20 ekor unta muda, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah pada tahun 595 Masehi. Pernikahan itu berlangsung diwakili oleh paman Khadijah, ‘Amr bin Asad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah. Pada saat menikah, Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun.

Setelah menikah dengan Rasulullah SAW, beliau dikaruniai 6 orang anak, yaitu 2 orang putra dan 4 orang putri. Ia adalah wanita yang dekat dengan sumber-sumber keimanan. Sebelum berpijaknya Islam, Khadijah menganut agama hanif (agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s) yang berpegang kepada manhaj tauhid. Setelah Khadijah dipilih oleh Allah SWT menjadi pendamping hidup Muhammad SAW, ia menjadi wanita yang pertama memeluk Islam, percaya dan beriman kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.

Siti Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, Seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya, Sayyidah Siti Khadijah al-Kubra binti Khuwailid wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketika itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.

 

Sahabat muslimah, berikut keistimewaan-keistimewaan dari sosok Khadijah R.A :

  1. Ia adalah wanita yang pertama kali memeluk Islam. Ia beriman kepada Nabi disaat semua orang kafir padanya.
  2. Ia adalah wanita pertama yang dijamin masuk surga bahkan ia mendapat kabar gembira dari Allah, bahwa Allah telah membangunkan bagi rumah di surga.
  3. Manusia pertama yang mendapat salam dari Allah yang disampaikan dari langit ke tujuh. Ia pantas menerimanya karena selalu setia mendampingi Nabi dalam kondisi seperti apapun.
  4. Wanita pertama yang layak dikategorikan shiddiq di antara wanita mukmin lainnya.
  5. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan Nabi
  6. Wanita yang memberikan keturunan bagi Nabi.
  7. Wanita yang matang dan cerdas, pandai menjaga kesucian, dan terpandang bahkan sejak   masa jahiliyah dan diberi gelar Ath Thahiroh (wanita yang suci). Ia adalah orang yang terhormat, taat beragama dan sangat dermawan.
  8. Seluruh hidupnya di berikan untuk mendukung dan membela dakwah Nabi.
  9. Orang yang pertama shalat bersama Nabi SAW.

Banyak wanita yang dapat kita jadikan sosok inspirasi, akan tetapi kita perlu mengingat sosok wanita pertama yan dijamin masuk surga dan wanita pertama yang memeluk agama Islam ini. So, tunggu apa lagi? Tentukan sosok inspiratifmu…

 

Dikutip dari :

http://dunia-ilmu1945.blogspot.co.id dengan beberapa perubahan

Sumber gambar : http://risalah.net

 


  • 0

Kenapa Setiap ‘Datang Bulan’, Iman Saya Turun?

Category : KEMUSLIMAHAN

Assalamualaykum Wr. Wb Sahabat Muslimah….., Alhamdulillah bisa kembali membersamai sahabat sekalian, kemuslimahan SKI FKIP UNS kembali hadir untuk berbagi inspirasi, Kami In shaa Allah senantiasa membersamai sahabat sekalian dengan mengupdate artikel-artikel muslimah setiap pekannya, jadi terus ikuti kami yaa… semoga menginspirasi

Kali ini kita akan belajar Fiqih dengan tema Kenapa Setiap ‘Datang Bulan’, Iman Saya Turun?

 

plants-691414_960_720-e1454982951678

Ibadah seringkali juga dimaknai sempit, sebatas ibadah-ibadah khusus. Sehingga wajar jjika muslimah merasa kehabisan peluang untuk beribadah ketika haidh

Tak ada yang salah dalam takdir Allah. Tak ada yang tak adil dalam segala kebijakan-Nya. Semua tergantung bagaimana para hamba meyikapinya. Begitupun dalam perkara haidh. Tentu banyak hikmah yang terkandung di balik itu. Kalaupun akhirnya banyak muslimah yang mengalami penurunan iman secara drastis setiap kali mengalami haidh, itu lebih karena salah dalam persepsi, atau keliru dalam menyikapi. Di antara faktor-faktor itu salah satunya adalah;

Minimnya Ilmu , Krisis ruhiyah bisa terjadi karena minimnya pengetahuan muslimah terhadap jenis-jenis ibadah, terutama ibadah hati. Padahal ibadah hati lebih luas cakupannya, lebih kontinyu tuntutan untuk dikerjakan dan tetap diperintahkan dalam situasi apapun, termasuk ketika haidh, maupun nifas,

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Sesungguhnya amal hati lebih agung dan lebih berat daripada amal jawārih (anggota badan).” Beliau juga berkata, “Amalan hati adalah inti, sedangkan amal anggota badan mengikuti dan melengkapi.”

Inilah perkara yang kebanyakan luput dari perhatian kita. Amal hati dituntut adanya secara dawwām (kontinyu). Baik berupa mencintai Allah, takut kepada Allah, berharap kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, merasa diawasi oleh-Nya, dan inābah kepada-Nya.

Ibadah seringkali juga dimaknai sempit, sebatas ibadah-ibadah khusus. Sehingga wajar jjika muslimah merasa kehabisan peluang untuk beribadah ketika haidh. Tidak boleh shalat, tidak boleh shaum. Padahal, definisi ibadah itu luas. Sehingga memungkinkan bagi seorang muslimah untuk merealisasikan ibadah setiap waktu, dua puluh empat jam sehari semalam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mendefinisikan ibadah, “Yakni seluruh perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.” Ibadah tetap kontinyu meski muslimah dalam keadaan haidh, sehingga hubungan antara dirinya dengan Allah tidaklah putus karenanya, hatipun tetap hidup.

Yang kedua adalah Jauh dari Dzikrullah

Berangkat dari minimnya ilmu terhadap jenis ketaatan, maka sibuk dengan perkara yang mubah dan lalai dari dzikrullah juga sering menjadi tradisi wanita yang sedang haidh. Padahal Ibnu Taimiyah –rahimahullāh– berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan, maka bagaimana nasib ikan bila dikeluarkan dari air?”

Kondisi hati yang tak disiram dengan dzikir laksana ikan yang di luar air. Cepat atau lambat, ia akan mati. Lebih dari itu, Nabi telah mengumpamakan hati yang kosong dari dzikir bagaikan orang yang mati,

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dan yang mati.” (HR Al-Bukhari No. 5928)

Tak ada dalil sharih yang melarang wanita haidh untuk berdzikir, menyebut asma` Allah, memuji dan mengingat-Nya. Tak ada nash, baik Al-Quran maupun Al-Hadits, yang mengecualikan wanita haidh untuk masuk ke dalam golongan ulil albāb yang dikabarkan oleh Allah dalam firman-Nya,

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَ عَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّموَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)

Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya sebagaimana tercantum dalam Fatāwā al-Mar`ah yang disusun oleh al-Musnid hal. 25, “Apakah Allah ‘azza wa jalla menerima doa dan istighfar wanita haidh?”

Ya, diperbolehkan, bahkan dianjurkan, bagi wanita haidh untuk memperbanyak doa, istighfar, dzikir, dan merendahkan diri kepada Allah, apalagi di waktu-waktu yang mulia. Apabila terpenuhi sebab-sebab dikabulkannya doa, maka Allah menerima doa wanita yang sedang haidh dan selainnya.

Intinya, kondisi haidh tidak menggugurkan kewajiban wanita untuk tetap berdzikir maupun berdoa, karena tidak ada dalil yang menyebutkan larangannya.

Jadi wahai muslimah janganlah engkau khawatir akan ibadah saat haid, Allah begitu mencintaimu, sehingga masih banyak bentuk ibadah yang bisa kita lakukan saat haid, berdzikir , bersedekah, menebarkan manfaat, sampai pada hanya duduk dalam majelis ilmu saja sekalipun, maka tetaplah produktif muslimah. –semoga bermanfaat–

Sumber: www.muslimah.or.id (dengan sedikit penambahan)


  • 0

Adab-Adab Bersisir

Category : KEMUSLIMAHAN

-Bismillah…

Sebagai seorang muslimah yang lebih sering menggunakan jilbab, pasti banyak ya yang kurang memperhatikan kesehatan Rambut nya, selain diperhatikan rambut juga perlu untuk dijaga karena , Rambut merupakan salah satu perhiasan pada diri wanita yang wajib dijaga. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk memuliakan rambut

Rambut merupakan salah satu perhiasan pada diri wanita yang patut dijaga. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk memuliakan rambut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ

Artinya: “Barangsiapa memiliki rambut, hendaklah ia memuliakannya.” (HR. Abu Dawud dan dishahikan Al-Albani)

Bentuk memuliakan rambut ialah dengan membersihkannya, mencucinya, meminyakinya, menyisirnya, dan merapikan ujung-ujungnya agar tidak acak-acakan. Bahkan ini merupakan perintah dalam agama Islam yang harus ditaati sebagai bentuk takwa. Di antara hadist yang menjelaskannya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku,

فَرَأَى رَجُلاً شَعِثًا قَدْ تَفَرَّقَ شَعْرُهُ فَقَالَ « أَمَا كَانَ يَجِدُ هَذَا مَا يُسَكِّنُ بِهِ شَعْرَهُ ». وَرَأَى رَجُلاً آخَرَ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ وَسِخَةٌ فَقَالَ « أَمَا كَانَ هَذَا يَجِدُ مَاءً يَغْسِلُ بِهِ ثَوْبَهُ »

Artinya: “Beliau melihat seorang lelaki yang acak-acakan rambutnya. Rasulullah bersabda, ‘Tidakkah orang ini mendapatkan sesuatu untuk merapikan rambutnya?’ Kemudian beliau melihat seorang lelaki yang kotor pakaiannya. Beliau bersabda, ‘Tidakkah orang ini mendapatkan air untuk mencuci pakaiannya?‘” (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Dalam merapikan (menyisir) rambut pun memiliki adab-adab yang perlu diperhatikan. Adab-adab ini sebaiknya dipegang teguh karena seluruh kebaikan ialah memegang teguh sunnah dalam segala urusan.

 

Di antara adab-adab menyisir rambut ialah sebagai berikut:

1. Memulai dari rambut sebelah kanan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

Artinya: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan sebelah kanan dalam semua pekerjaannya, ketika bersuci, memakai sandal, dan bersisir.” (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari no. 186 dan Muslim no. 268).

2. Meminyaki rambut dan merapikannya dengan air apabila acak-acakan.

Berdasar pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat orang yang rambutnya acak-acakan,

أَمَا كَانَ يَجِدُ هَذَا مَا يُسَكِّنُ بِهِ شَعْرَهُ

Artinya: “Tidakkah orang ini mendapatkan sesuatu untuk merapikan rambutnya?” (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i).

3. Tidak mencukur sebagian dan sebagian yang lainnya.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْقَزَعِ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang al-qaza’.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Qaza’ ialah mencukur kepala sebagian dengan meninggalkan rambut pada bagian sebalah depan (cukur kuncung). Potongan rambut seperti ini banyak merebak di kalangan para pemuda dan dianggap sebagai mode. Itu merupakan tipu daya iblis terhadap umat manusia yang didukung pula oleh kaum Yahudi dan Nasrani dalam menyebarkan pemikiran busuk dan kesesatan sebagai upaya untuk merusak kaum muslimin.

4. Tidak berlebih-lebihan mengurus rambut dan menyisirnya.

Apabila seseorang sudah menghabiskan waktunya untuk mengurus dan menghias rambut, maka ini merupakan tindakan berlebih-lebihan dan makruh hukumnya. Dari hadits Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يمتشط أحدنا كل يوم

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami bersisir setiap hari.” (HR. Hakim).

Maksudnya ialah Rasulullah melarang menyisir rambut secara berlebihan, apabila rambut masih terlihat bagus dan rapi. Berlebihan dalam bersisir memungkinkan seseorang untuk berpaling dari mengurus perkara-perkara yang lebih penting, dan lebih parah, dapat melalaikannya dari dzikrullah.

Banyak wanita muslimah yang senang pergi ke salon untuk mengurus rambut, padahal itu merupakan salah satu sikap berlebih-lebihan dalam mengurus rambut. Selain itu, sering pergi ke salon dapat membuang harta secara mubazir (boros). Ditambah lagi, kebanyakan salon masih mencampurbaurkan antara laki-laki dan wanita, sehingga memungkinkan wanita untuk memperlihatkan rambutnya kepada laki-laki asing. Karena itu, wajib bagi kita sebagai muslimah untuk menghindari tempat semacam itu yang mana banyak sekali kemungkarannya.

Semoga bermanfaat shalihah, menjaga salah satu Aurat kita Rambut, meskipun keseharian kita banyak berjilbab, tapi tetap kesehatan, keteraturan rambut perlu diperhatikan yaa

Sumber : Penulis: Dyah Iffah Novitasari Artikel muslimah.or.id (dengan beberapa perubahan)


  • 0

HARI PAHLAWAN, JANGAN LUPAKAN SUMAYYAH BINTI KHAYYAT

Category : KEMUSLIMAHAN

kisahsumayyah

 

Tanggal 10 November merupakan Hari Pahlawan Nasional. Bangsa Indonesia bisa mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan negara Indonesia dari tangan-tangan kotor penjajah.

Memperingati Hari Pahlawan bukan berarti melupakan perjuangan para pejuang Islam, yang syahid membela agama Allah.

Salah satunya yaitu seorang Muslimah yang syahid pertama dalam Islam. Ia rela mengorbankan nyawanya demi iman Islamnya.

Inilah kisah seorang hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah yang menggetarkan jiwa, Sumayyah binti Khayyat itulah namanya.

Sumayyah adalah istri Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekah. Yasir juga seorang hamba sahaya dari Hudzaifah, setelah menikah mereka pun dimerdekakan, maka sempurnalah kehidupan keluarga ini dengan penuh kebahagiaan.

Tidak berselang lama dari pernikahan tersebut, Sumayyah dan Yasir dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ammar.

Ketika Ammar beranjak dewasa, dia mendengar kabar tentang agama baru yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Ammar bin Yasir berfikir dan Allah pun memberi hidayah kepadanya sehingga ia memeluk agama Islam.

Ammar kemudian kembali kepada kedua orangtuanya dan menceritakan apa yang dia alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah. Ia pun menawarkan dakwah tersebut kepada kedua orangtuanya. Atas berkat rahmat Allah, Sumayyah dan Yasir menerima dakwah yang penuh berkah itu dan mengumumkan keislamannya, sehingga keluarganya termasuk dalam golongan pertama yang memeluk agama Islam dan Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.

Dari sinilah dimulai sejarah yang agung bagi Sumayyah.

 

Ibadah Secara Sembunyi-Sembunyi

Awal kisah Summayah bertepatan dengan permulaan dakwah Islam, yaitu ketika Rasulullah mendapat wahyu dari Allah Subhana Wa Ta’ala untuk melakukan dakwah untuk memeluk agama Islam secara sembunyi-sembunyi.

Pada masa itu, kaum Quraisy sangat benci dan memusuhi agama Islam. Mereka tidak segan-segannya menyiksa orang-orang yang masuk ke agama Islam, mereka bagaikan manusia berhati batu yang tidak memiliki perasaan belas kasihan yang menyiksa dengan penuh kekejaman.

Hal inilah yang membuat para Muslimin melakukan ibadah kepada Allah secara diam-diam dan melakukan shalat sembunyi-sembunyi di rumah serta di gua-gua supaya tidak ketahuan oleh kaum Quraisy.

Namun, Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat sehingga orang-orang kafir menyikapinya dengan menentang dan memusuhi mereka.

Penyiksaan Quraisy Terhadap Keluarga Sumayyah

Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari dien mereka. Mereka memaksa dengan cara menyeret ke padang pasir tatkala cuaca sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan diatas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad….Ahad…., beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang diucapkan juga oleh Yasir, ‘Ammar dan Bilal.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa dengan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru,

 

صَتْرًاآلَ يَاسِرٍفَإِ نِّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

 

“Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Sumayyah binti Khayyat mendengar seruan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bertambah tegar dan optimis. Dengan kewibawaan imannya, dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Ada riwayat lain menyebutkan, ketika Ammar disiksa dengan kejam dan ia pun tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan karena paksaan dari Abu Jahal, sehingga dia mengikuti apa yang mereka ucapkan.

Ketika kembali sadar Ammar menyadari apa yang telah dia ucapkan. Dia menyesal dan beberapa sahabat yang menyaksikan perbutan itu dengan segera menceritakannya kepada Rasullulah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Rasul tersenyum seraya membaca firman Allah:

 

مَن كَفَرَ بِاللَّـهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَـٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّـهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١٠٦﴾

 

“Sesiapa yang kufur kepada Allah sesudah ia beriman (maka baginya kemurkaan dan azab dari Allah), kecuali orang yang dipaksa (melakukan kufur) sedang hatinya tenang tenteram dengan iman; akan tetapi sesiapa yang terbuka hatinya menerima kufur maka atas mereka tertimpa kemurkaan dari Allah, dan mereka pula beroleh azab yang besar.” (QS. An-Nahl :106)

Tatkala para taghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah binti Khayyat maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan tombak yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah binti Khayyat. Terbanglah nyawa beliau dari raganya yang beriman dan suci bersih. Beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi umat Islam dalam hal keberanian dan keimanan, beliau telah mengerahkan segala yang beliau miliki dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya demi meraih keridhaan Rabbnya. Mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanan.

Kesabaran keluarga Yasir itu yang tiada taranya mengundang doa Rasullulah kepada Allah untuk memberi ganjaran surga.

Itulah ganjaran bagi mereka yang mempunyai keteguhan iman. Sabar dalam keadaan samada susah ataupun senang. Jangka masa keislaman Sumayyah singkat, tidak lama tetapi namanya tetap harum sepanjang zaman. Dialah wanita yang melahirkan sahabat yang begitu dicintai Rasullulah. Dalam sabdanya, Nabi Muhammad berkata: “Sesiapa yang memusuhi Ammar maka dia akan memusuhi Allah. Dan sesiapa yang membenci Allah, maka dia akan dibenci Allah.”

Wahai umat Islam yang ditaburi cinta dan rahmat oleh Allah, renungkanlah kisah-kisah para pejuang yang rela mengorbankan nyawanya demi negaranya dan demi agama Islam.

Sudah sepatutnya para Muslimin dan Muslimah mengikuti jejak para Mujahid yang sabar, ikhlas dan tawakal menghadapi rintangan yang begitu sulit, namun mereka tak pernah pantang menyerah, bahkan rela kehilangan nyawanya demi mendapatkan ridha Rabbnya.

 

Sumber:

http://mirajnews.com/id/artikel/feature/hari-pahlawan-jangan-lupakan-sumayyah-binti-khayyat/

Sumber gambar:

mselim3.blogspot.com


  • 0

Berkilaulah Karena Akhlaqmu, Shalihah

Category : KEMUSLIMAHAN , UMUM

Cantik, pintar, shalihah? Hmm… siapa sih yang tidak ingin menjadi muslimah seperti itu? kalian pasti juga kan? Tentunya :’) Sejatinya, memang seorang wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang diberi kelebihan dibanding dengan laki-laki. Wanita memiliki paras yang cantik, kelembutan hati, dan kesabaran. Wanita memang makhluk yang indah, iyaa… indah. Semuanya, dari anggota tubuh bagian atas (rambut, mata, hidung,),  bahkan ketika seorang wanita mengenakan perhiasan pun ia akan terlihat semakin indah. Sehingga, tidak berlebihan jika wanita banyak disukai oleh laki-laki, apalagi dengan kelebihan yang dimiliki tersebut. Namun cukupkah hanya dengan kecantikan fisik saja seorang wanita terlihat cantik?

Tahukah kalian bahwa wanita yang berakhlaq mulia adalah dambaan setiap laki-laki? Iya, laki-laki sholeh pastinya. Akhlaq mulia itu bisa dididik sejak dini, salah satunya adalah dengan menjaga kehormatan dan harga diri seorang muslimah (iffah dan izzah), maka ia akan lebih dihormati daripada wanita kebanyakan. Nah, untuk menjaga kehormatan itu maka seseorang perlu memiliki akhlaqul karimah. Iya, akhlaq yang baik. Menghiasi diri dengan akhlaqul karimah bisa kita tunjukkan dengan kehalusan bahasa, kelembutan sikap atau perilaku, dan keluhuran budi pekerti serta mampu menjaga diri sebagai seorang muslimah. Sikap lemah lembut, halus dan berbudi pekerti yang baik dapat memelihara kehormatan wanita shalihah dari godaan laki-laki yang nakal atau iseng. Selain itu, akhlaqul karimah tidak hanya ditunjukkan dengan sikap lemah lembut dan keluhuran akhlaq saja tetapi juga harus tercermin dari cara berpakaian atau berbusana. Kalau orang jawa mengatakan ‘’ajining raga ana ing busana’’. Dari pepatah itu bisa disimpulkan bahwa akhlaq seseorang bisa dilihat dari caranya berpakaian. Apalagi kita sebagai seorang yang ngakunya ‘’Muslimah’’ nih tentunya harus menutup aurat ya, karena kan menutup aurat itu wajib seperti yang telah disampaikan dalam surah Al-Ahzab ayat 59 yang berbunyi

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Namun sayang, sekarang ini banyak dari kita yang mempertontonkan perhiasan yang ada pada wanita (kecantikan wajah, dan kemolekan tubuhnya). Naudzubillahimindzalik. Padahal kita tahu, semua itu merupakan pemberian atau nikmat dari Allah swt yang seharusnya kita jaga dan syukuri bukan untuk kita banggakan dan diperlihatkan oleh laki-laki yang bukan mahrom. Dimana letak rasa malumu ukhty? Tak malukah keindahan tubuhmu itu dinikmati oleh laki-laki yang belum tentu menjadi suamimu? Selain itu, di jaman yang modern seperti sekarang ini pergaulan antara laki-laki dan perempuan tidak lagi dibatasi, mereka bercampur baur, sehingga terkadang menimbulkan fitnah.

Ketahuilah ukhty, bahwa sesungguhnya kecantikan seorang wanita itu terletak pada akhlaqnya. Rasulullah sangat menyukai orang yang berperangai halus, baik bertutur kata maupun perilakunya. Beliau bersabda ‘’tiada sesuatu yang lebih berat timbangannya (pahalanya) melebihi (pahala) akhlaq mulia. Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi. Selain itu, kemuliaan seorang wanita adalah terdapat pada rasa malunya terhadap laki-laki yang bukan mahromnya. Jika seorang wanita tidak lagi mampu menjaga dirinya dengan baik, tidak memiliki rasa malu dan masih bangga memperlihatkan auratnya, apakah dia tidak takut terhadap dosa-dosa yang ia perbuat? Apakah tidak takut terhadap azab dan siksa Allah swt?  Astaghfirullah… Masih pantaskah disebut sebagai wanita yang shalihah?

Wanita shalihah itu adalah wanita yang menutup auratnya dengan baik, mampu menjaga diri dengan benteng keimanan, memiliki akhlaq yang mulia, menjauhkan diri dari segala bentuk maksiat serta menjadikan alquran dan hadist sebagai pegangan hidupnya. Nah, yuk kita bermuhasabah diri lagi.. sudah sejauh mana akhlaq kita selama ini? Apakah sudah baik atau masih perlu perbaikan? Mumpung masih diberi kesempatan sama Allah, mari kita perbaiki diri ini, semakin mendekat sama Allah, insya Allah.. Allah juga akan semakin sayang dan dekat dengan kita. Jaga diri dan kehormatan kita sebagai seorang muslimah, dan tentunya jagalah hanya untuk suami kita kelak.

Jadikan Alquran dan hadist sebagai pedoman hidup, janganlah menyakiti oranglain, hilangkan sifat su’udzon, marah, iri, dengki, tebarkanlah senyum dan kebaikan dimanapun kita berada, tak lupa selalu bekali diri kita dengan ilmu agama..karena dengan semakin wanita menguasai ilmi-ilmu agama maka akan semakin terpancar pula dari wajahnya sinar keimanan dan keshalihannnya.  Tampilah indah..indah..dan indah selalu di mata Allah :’) Hiasilah dirimu dengan Akhlaq yang mulia, dengan begitu engkau akan terlihat semakin berkilau, shalihah ^_^

 

 

 


  • 0

Pernahkah kau mengingatnya ?

Category : KEMUSLIMAHAN

Warga-Riau-kena-kabut-asap

Pandai bersyukur merupakan salah satu tanda baiknya iman seseorang. Karena bersyukur adalah amalan hati yang meyakini bahwa sesuatu yang telah terjadi berasal dari Allah, atas kehendak Allah, dan karena kasih sayang Allah. Sehingga tatkala kita mendapatkan sesuatu (lebih seringnya nikmat) maka Allah lah yang pertama kita ingat. Bukan semata karena usaha kita, bantuan orang lain, atau yang lainnya.

 

Lalu hal apa yang paling sering kau syukuri? dan kapan waktu tersering mu untuk bersyukur?

 

ketika kau meminta dilapangkan rizki lalu Allah mengabulkannya?

ketika kau punya cita-cita setinggi langit lalu Allah mewujudkannya?

ketika kau meminta disembuhkan dari sakit lalu Allah menyembuhkan?

ketika kau terkena musibah lalu Allah memberi pertolongan?

Dan keinginan-keinginan mu yang lain

Memang tidak salah ketika kita bersyukur untuk hal-hal diatas. Karena biasanya kita lebih sering mensyukuri nikmat yang sesuai dengan yang kita inginkan, kejadian-kejadian yang menakjubkan, dan rizki-rizki yang tak terduga.

 

Lalu bagaimana dengan udara? Ya, udara.

Bukankah udara pun sebuah nikmat dari Nya? Tapi pernahkah kau mengingatnya sebagai suatu nikmat? Lalu kau mensyukurinya dengan khidmat?

 

Kita tidak pernah meminta diberi udara tapi Allah berikan untuk semua manusia tanpa terkecuali. Bahkan tidak hanya manusia tapi semua makhluk Allah (hewan dan tumbuhan), semuanya menikmati udara. Dan meski udara dihirup oleh semua makhluk, tapi ia tak habis-habis sepanjang zaman. Masya Allah.

Kita tidak perlu membeli udara, semuanya gratis dari Allah untuk makhlukNya. Kitapun tak perlu pergi ke suatu tempat untuk mengambil udara, semua sudah Allah sediakan sedemikian rupa. Bahkan disaat kita tak sadarpun (saat sedang tidur) udara masih membersamai kita. Ya, seperti itulah karunia Nya, kecil tapi sesungguhnya besar. Dekat tapi sering terlupakan.

 

Coba kau jepit yang keras hidungmu dengan jempol dan jari telunjuk mu (dipraktekan).

Bagaimana rasanya?

Jika tak ada udara rasanya sulit untuk bernafas bukan? Padahal itu baru beberapa detik saja. Bandingkan dengan saudara-saudara kita yang harus menutup hidungnya berbulan-bulan akibat kabut asap. Bukankah udara nikmat yang teramat besar untuk kita?

Mari bersyukur untuk udara yang hingga saat ini Allah berikan cuma cuma untuk kita. Karena, jika kita tahu penderita kekurangan oksigen harus membayar begitu mahal oksigen yang dijual di rumah sakit.

 

Korban kabut asap, mereka tak punya udara seperti yang kita hirup saat ini. Mereka tak punya tawa seceria tawa kita sekarang.

Ayo kawan muslimah kita ulurkan kepedulian untuk saudara kita. Bantulah mereka dengan apapun yang kau punya. Hartamu, tenagamu, pikiranmu, atau mungkin sebaris doa di sujud panjang mu. Semua yang mampu dilakukan untuk meringankan beban mereka, maka lakukanlah. Beri tahu mereka bahwa mereka memiliki saudara sesama muslim yang begitu mencintai dan merasa sepenanggulangan dengan mereka. Kita beri tahu mereka bahwa kita ada untuk mereka. Beri mereka semangat agar mereka mampu melawan asap. Paling tidak bantuan kita menjadi secercah penyejuk di tengah sesaknya nafas yang mereka rasakan saat ini. Karena pemerintah mungkin belum Allah mampukan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Jadi, ayo bangun ! kita bergerak sebisa yang kita mampu. #UntukSaudaraTercinta #UntukBumiMilikNya #UntukINDONESIA.

 

Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menyelesaikan urusan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barang siapa memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan di akhirat…”

sumber gambar: www.pekannews.com

 


  • 0

AL KHANSA : IBUNDA 4 MUJAHID SEJATI

Category : KEMUSLIMAHAN

Assalamualaykum shalihah ,, simak yuuuk kisah yang satu ini In shaa Allah menginspirasi kalian 🙂

Empat putera Khansa yang gugur menyongsong syahadah…

Siapakah gerangan di balik mereka?

Ada pepatah yang tak asing di telinga kita, di belakang tokoh mulia, pasti ada wanita yang mulia.

 

Dialah al-Khansa’2, wanita Arab pertama yang jago bersyair. Para sejarawan sepakat bahwa sejarah tak pernah mengenal wanita yang lebih jago bersyair dari pada al-Khansa’, sebelum maupun sepeninggal dirinya. Konon mulanya ia tak pandai bersyair, ia hanya bisa melantunkan dua atau tiga bait saja.

 

Namun di zaman jahiliyah, tatkala saudara kandungnya yang bernama Mu’awiyah bin Amru as -Sulami terbunuh, ia meratapi kematiannya dalam beberapa bait syair.

Lalu menyusullah saudara seayahnya yang terbunuh pula, namanya Shakhr.

Konon al-Khansa’ amat mencintai saudaranya yang satu ini, karena ia amat penyabar, penyantun, dan penuh perhatian terhadap keluarga. Kematiannya menyebabkannya sangat terpukul, lalu muncullah bakat bersyairnya yang selama ini terpendam. Dan mulailah ia melantunkan bait demi baik meratapi kematian saudaranya. Semenjak itulah ia mulai banyak bersyair dan syairnya semakin indah.

 

Keislaman al-Khansa’ dan Kaumnya

Tatkala mendengar dakwah Islam, al-Khansa’ datang bersama kaumnya Bani Sulaim menghadap Rasulullah dan menyatakan keislaman mereka. Ahli-ahli sejarah menceritakan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah menyuruhnya melantunkan syair, kemudian karena kagum keindahan syairnya, beliau mengatakan, “Ayo teruskan, tambah lagi syairnya, wahai Khansa’!” sambil mengisyaratkan dengan telunjuk beliau.

 

Wasiat al-Khansa’ Bagi Keempat Anaknya

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa al-Khansa’ dan keempat putranya ikut serta dalam perang al-Qadisiyyah.

 

Menjelang malam pertama mereka di al-Qadisiyyah, al-Khansa berwasiat kepada putera-puteranya,

 

“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haqq selain Dia. kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian.

 

Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana. Allah Azza wa Jalla berfirman,

 

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Qs. Ali Imran: 200)

Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi.

 

Apabila pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah berkecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan.”

 

Kepahlawanan Keempat Anaknya

Terdorong oleh nasihat ibunya, keempat puteranya tampil dengan gagah berani. Mereka bangkit demi mewujudkan impian sang ibunda. Dan tatkala fajar menyingsing, majulah keempat puteranya menuju kamp-kamp musuh.

 

Sesaat kemudian, dengan pedang terhunus anak pertama memulai serangannya sambil bersyair,

 

Saudaraku, ingatlah pesan ibumu

tatkala ia menasehatimu di waktu malam..

Nasehatnya sungguh jelas dan tegas,

“Majulah dengan geram dan wajah muram!”

Yang kalian hadapi nanti hanyalah

anjing-anjing yang mengaum geram..

Mereka telah yakin akan kehancurannya,

maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram

atau kematian yang penuh keberuntungan

 

Ibarat anak panah, anak pertama melesat ke tengah-tengah musuh dan berperang mati-matian hingga akhirnya gugur. Semoga Allah merahmatinya.

 

Berikutnya, giliran yang kedua maju menyerang sembari melantunkan,

 

Ibunda adalah wanita yang hebat dan tabah,

pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana

Ia perintahkan kita dengan penuh bijaksana,

sebagai nasihat yang tulus bagi puteranya

Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka

dan raihlah kemenangan yang nyata

Atau kematian yang sungguh mulia

di jannatul Firdaus yang kekal selamanya

 

Kemudian ia bertempur hingga titik darah yang penghabisan menyusul saudaranya ke alam baka. Semoga Allah merahmatinya.

 

Lalu yang ketiga ambil bagian. Ia maju mengikuti jejak saudaranya, seraya bersyair,

 

Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu

perintah yang sarat dengan rasa kasih sayang

Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran

maka majulah dengan gagah ke medan perang..

hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu,

bagaimana cara berjuang

Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan

raihlah kemenangan meski maut menghadang

 

Kemudian ia terus bertempur hingga mati terbunuh. Semoga Allah merahmatinya.

 

Lalu tibalah giliran anak terakhir yang menyerang. Ia maju seraya melantunkan,

 

Aku bukanlah anak si Khansa’ maupun Akhram

tidak juga Umar atau leluhur yang mulia,

Jika aku tak menghalau pasukan Ajam,

melawan bahaya dan menyibak barisan tentara

Demi kemenangan yang menanti, dan kejayaan

ataulah kematian, di jalan yang lebih mulia

 

Lalu ia pun bertempur habis-habisan hingga gugur. Semoga Allah meridhainya beserta ketiga saudaranya.

 

Tatkala berita gugurnya keempat anaknya tadi sampai telinga al-Khansa’, ia hanya tabah sembari mengatakan,

“Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.”

 

dari buku: Ibunda Para Ulama, Penyusun: Sufyan bin Fuad Baswedan, penerbit Wafa Press, hal 109-116 [↩]

 

http://jilbab.or.id/archives/896-al-khansa-ibunda-4-mujahid-sejati/#sthash.BAkNz5Gb.dpuf