SKI FKIP UNS Sambut Kunjungan Rohis SMA N Kerjo, Karanganyar

  • 0

SKI FKIP UNS Sambut Kunjungan Rohis SMA N Kerjo, Karanganyar

IMG_7876

Open House yang diadakan hari Ahad, 14 Juni 2015 ini merupakan bentuk kunjungan dari Rohis SMA Negeri 1 Kerjo, Karanganyar ke SKI FKIP UNS. Kunjungan yang diselenggarakan di Aula Gedung E lantai 3 ini dihadiri oleh 31 ikhwan dan 57 akhwat. Acara dimulai pukul 09.00 WIB sampai 12.00 WIB. Sebagaimana kunjungan–kunjungan biasanya, acara dimulai dengan pembukaan oleh MC yaitu akh Akbar dan pembacaan susunan acara. Acara dilanjutkan tilawah oleh akh  Oki. Kemudian sambutan–sambutan dari Ketua Umum SKI FKIP UNS, akh Taufik Ahmad Fahrudin dan sambutan dari pembina Rohis SMA Negeri 1 Kerjo yaitu Drs. Muhammad Sidiq. Sebelum memasuki acara inti yaitu diskusi, ada pemutaran video singkat tentang kegiatan–kegiatan SKI. Lalu acara berikutnya yaitu pemaparan singkat dari ketua SKI FKIP UNS dan dilanjutkan pemaparan dari Rohis SMA Negeri 1 Kerjo oleh Ketua Bidang Tarbiyah yaitu akh Bayu Anam. Lalu tiba di acara inti, yaitu sesi diskusi.

Sesi diskusi ini dimulai dengan pembahasan pertama berupa bagaimana cara menjaga keistiqomahan pengurus. Hal ini masih berhubungan dengan pembahasan selanjutnya yaitu cara membuat pengurus “betah” setelah open recruitment. Ada dua cara utama yaitu melalui pengurus dan sistem. Melalui pengurus dapat berupa membuat lingkungan dan suasana yang nyaman. Sediakan apa yang pengurus butuhkan. Sedangkan melalui sistem, hal yang dapat dilakukan ialah menyediakan program–program yang sekiranya dapat pengurus lebih dekat satu sama lain. Program–programnya dapat berupa SMS khusus, kajian pengurus atau agenda rutin lain yang non formal. Agenda rutin non formal dapat berupa olahraga bersama untuk ikhwan dan memasak bersama untuk akhwat.

Diskusi yang kedua, yakni tentang Dakwah melalui media sosial karena masyarakat saat ini tidak bisa lepas dari hal satu ini. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, cari media yang paling ampuh. Lihat siapa dulu sasarannya kemudian lihat media sosial manakah yang paling banyak dan sering mereka gunakan. Kedua, kita harus tahu medannya dan mempunyai kemampuan untuk menguasainya. Misalkan, di salah satu media sosial yang paling menonjol adalah melalui gambar–gambar yang menarik. Kita bisa menguasainya dengan cara membuat desain yang menarik perhatian mereka, seperti yang di MDC (Muslim Design Community).

IMG_7852

Acara berlangsung dengan lancar. Tidak terasa tibalah di ujung acara. Acara ini ditutup dengan penyerahan vandel dari keduanya. Dan diharapkan, ke depannya SKI FKIP UNS dan Rohis SMA Negeri 1 Kerjo bisa tetap menyambung tali silahturahim. Kemudian sebelum perpisahan, diadakan foto bersama di depan Masjid Nurul Huda UNS. Usai melaksanakan sholat dhuhur semua rombongan dari Rohis SMA N 1 Kerjo berpamitan pulang untuk melajuntkan kunjungan ke dua yakni ke LDK IAIN Surakarta.


  • 0

Kajian Dusun Binaan 1: Jangan Mengorbankan Agama demi Dunia

IMG_7694

Acara JIDAN 1 (Kajian Dusun Binaan 1) yang bertemakan “(Janganlah) Mengorbankan Aqidah Agama demi Sebentarnya Rona Dunia” ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 Juni 2015 di Desa Dayu, Karanganyar. Acara ini meliputi dua kegiatan yakni bakti sosial dan kajian. Kegiatan bakti sosial tersebut berupa alat tulis dan makanan ringan yang dibagikan kepada anak-anak TPA sembari pengurus SKI mengajar TPA. TPA dilaksanakan pada waktu sore sedangkan kajian bersama warga dilaksanakan pada malam hari.

Kegiatan TPA di buka pengurus TPA Desa Dayu  kemudian pengelolaannya diserahkan kepada Pengurus SKI. Dari Pengurus SKI dibuka oleh Saudara Arfan sekitar pukul 15.45 WIB. Anak-anak terlihat sangat antusias dengan kegiatan tersebut, terbukti dengan anak-anak TPA yang datang lebih banyak daripada biasanya. Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca iqra’ satu persatu dengan disimak oleh Pengurus SKI yang hadir.

IMG_7607

Pengurus TPA Desa Dayu membuka kegiatan TPA

Seusai semuanya membaca iqra’, anak-anak tersebut kemudian diajak untuk bermain game diluar masjid. Ada beberapa jenis permainan, untuk yang putra di antaranya kucingan, angkat dan turunkan botol aqua dengan rafia (model berkelompok), dan berjalan memutar dengan bernyanyi. Untuk yang putri permainan yang dilakukan diantaranya menyalurkan karet gelang dengan menggunakan sedotan dari orang satu ke orang yang lain, dan menyebutkan nama anggota. Dalam kegiatan permainan ini melibatkan seluruh Panitia JIDAN dan anak-anak TPA Desa Dayu sehingga terjalin interaksi yang baik.

IMG_7624

Kegiatan permainan dengan anak-anak TPA Desa Dayu.

Kegiatan permainan ini selesai sekitar pukul 17.15 WIB. Setelah Permainan selesai adik-adik TPA kita ajak kembali masuk ke masjid. Sebelum kegiatan TPA dibubarkan ada pembagian alat tulis dan makanan ringan, serta foto bersama. Setelah kegiatan foto bersama, adik-adik TPA diperkenankan untuk pulang dan untuk Panitia JIDAN persiapan untuk sholat Magrib. Seusai Sholat Magrib, Panitia JIDAN dijamu oleh warga disana, yakni diminta untuk makan bersama.

IMG_7702

Kegiatan makan bersama dengan warga Desa Dayu.

Acara berikutnya setelah kegiatan makan bersama selesai, untuk yang akhwat melanjutkan untuk pulang, sedangkan yang ikhwan melanjutkan untuk mempersiapkan takjil dan kajian malamnya. Kajiannya malamnya dimulai sekitar 19.35 WIB. Warga Desa Dayu sangat antusias dengan adanya kajian tersebut, terbukti jumlah warga yang hadir sekitar 50 orang yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak. Kajian ini diisi oleh Ustadz Sukidi. Dalam kajian tersebut Ustadz Sukidi memaparkan tentang pentingnya aqidah islam dan juga tentang kristenisasi.

Kajian tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat disana mengenai kristenisasi yang sekarang ini sedang marak di masyarakat, agar nantinya masyarakat disana tidak terjerumus oleh adanya kristenisasi. Kegiatan ini usai pukul 21.00 WIB, akhirnya kajian ini ditutup dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh Ustadz Sukidi dan ucapan terima kasih dari Panitia JIDAN.

DSC01214

Kegiatan Kajian Kristologi malam harinya


  • 0

Urgensi Pendidikan dalam Islam

Category : UMUM

Pendidikan sejatinya merupakan elemen terpenting dalam membangun kepribadian masyarakat yang Islami dan dengan pendidikanlah derajat manusia diangkat oleh Allah SWT karena ilmu yang dimilikinya, sebagaimana Allah jelaskan dalam QS.al-Mujaadilah ayat 11: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dengan ayat tersebut setiap muslim tentu akan terdorong untuk terus memperdalam ilmunya. Bahkan ada sebuah ungkapan “tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China”, artinya seseorang muslim bisa menuntut ilmu ke mana pun bahkan sampai tempat yang paling jauh sekalipun. Di sisi lain, prinsip seorang muslim adalah “al-‘ilmu qabla qaul wal amal”, artinya setiap perkataan dan perbuatan kita harus berlandaskan imu karena sebagai seorang mukallaf, di akhirat kita harus mempertanggugjawabkan setip amal perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

Islam sangat menekankan pendidikan dilakukan sejak usia dini. Rasulullah SAW sendiri berpesan kepada setiap pendidik atau orang tua untuk mengutamakan pedidikan bagi anak-anaknya, hal ini terlihat jelas dalam sabda beliau: “(Menuntut) ilmu pada masa kecil ibarat mengukir di atas batu.” (HR. Baihaqi dan Ath-Thabrani dalam Al Ausath)

Lebih jauh lagi, Islam memandang bahwa pendidikan juga merupakan aspek terpenting dalam pembangunan manusia untuk mencapai ketinggian peradaban, serta menjawab tantangan zaman yang semakin besar ini. Tantangan pendidikan zaman modern yang kita hadapi saat ini berbagai budaya yang lahir dari nilai-nilai rusak yang sengaja disuntikkan Barat ke dalam tubuh umat Islam yang berupa individualisme, hedonisme, sekulerisme, materialisme, dsb. Secara faktual kita melihat bahwa pendidikan di Indonesia belum mampu menjawab tantanga tesebut. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai perilaku remaja yang masih jauh dari akhlak Islami -yang merupakan salah satu tujuan dari pendidikan Islam-, misalnya masih maraknya remaja yang melakukan tindak kriminalitas, narkoba, tawuran, pacaran, pornografi, seks bebas, dsb. Data menunjukkan bahwa di Indonesia ada 2,5 juta aborsi setiap tahun, yang lebih parah ini dilakukan sebagian besar oleh kalangan remaja. Sebuah stasiun televisi swasta bahkan pernah menginformasikan bahwa Indonesia masuk ke dalam peringkat ke lima dunia sebagai pengakses konten/situs pornografi di internet. Sebuah survey menunjukkan bahwa kondisi moralitas remaja Indonesia sedang berada di titik terbawah atau dengan kata lain terjadi degradasi moral yang amat parah. Dari survey tersebut diperoleh data mengenai presentase remaja yang pernah melakukan seks bebas di kota-kota besar: Bandung (54%), Jakarta (51%), Medan (52%), dan Surabaya (47%). Hal ini menujukkan bahwa di kota-kota besar seks bebas merupakan suatu hal yang biasa. Na’udzubillah min dzalik.

Menghadapi fakta kerusaka (fasad) seperti itu sebagai seorang pendidik tentu kita harus cerdas dalam menentukan sikap, terlebih kita telah dibekali dengan akidah Islam. Bangsa ini sesungguhnya membutuhkan sebuah konsep tentang pendidikan yang tangguh dan teruji dalam menghadapi tantangan zaman sehingga manusia dapat menggapai kemuliaan dan ketinggian peradaban, yang unggul dalam imtaq maupun IPTEK. Oleh karena itu, tantangan ini harus mampu kita jawab agar ke depan lahir generasi-generasi muda Indonesia yang cerdas dan beraklahk mulia serta bermanfaat bagi umat, bukan generasi ‘pembebek’ atau lost generation seperti sekarang ini.

Islam sebagai sebuah agama yang sempurna mengatur setiap aspek kehidupan manusia telah mengatur secara jelas dan gamblang bagaimana pendidikan seharusnya dilakukan. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas tentang keberhasilan Islam dalam menerapkan sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi yang berkualitas dan diakui oleh pihak lawan. Sehingga sistem pendidikan Islam pantas dinobatkan sebagai role model pendidikan yang ideal.

Cukuplah pengakuan dari Robert Briffault dalam buku Making of Humanity yang menyatakan: “Di bawah kekuasaan orang-orang Arab dan Moor (kaum Muslimin) kebangkitan terjadi, dan bukan pada abad ke-15 Renaissance sesungguhnya berlangsung.  Spanyol-lah tempat kelahiran Eropa, bukan Italia.  Setelah terus menerus mengalami kemunduran, Eropa terperosok ke dalam masa kegelapan, kebodohan dan keterbelakangan.  Sedangkan pada saat yang sama, kota-kota Sarasin (kaum Muslimin) seperti Baghdad, Kairo, Cordova dan Toledo menjadi pusat-pusat peradaban dan aktivitas pendidikan.” (Robert Briffault, The Making of Humanity, London.1938).

Sejarah mencatat bahwa bangsa Arab yang buta huruf, dengan pendidikan Islam yang khas, yang diterapkan oleh Rasulullah SAW, telah berubah menjadi bangsa pelopor yang telah mampu menerangi dunia dan menjadi guru bagi dunia. Generasi terbaik ini selain mereka ilmuan kebanyakan dari mereka juga ulama. Sebenarnya kebanyakan  ilmuan Islam lebih dahulu menemukan penemuan besar dibandingkan ilmuan barat. Masih kita ingat beberapa nama terkenal ilmuan Islam seperti  al-Khawarizmi (penemu angka nol),  Abbas Ibnu Firnas (peletak dasar teori pesawat terbang), Ibnu Hayyan (ahli kimia, astronomi), Ibnu Sina (kedokteran), Abu al-Rahyan (ilmu bumi,matematika, dan astronomi, antropologi, psikologi dan kedokteran), Abu Ali Hasan Ibn al-Haitsam (fisikawan terkenal dalam hal optik dan ilmu ilmiah), dsb. Itu semua bisa dicapai hanya dengan pendidikan Islam yang bertujuan untuk melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam, serta menguasai ilmu kehidupan (sains, teknologi, seni) sesuai syariat Islam. Kesadaran ruhiyah inilah yang perlu terus dibangun untuk mewujudkan pendidikan yang bermartabat di dunia maupun akhirat. [Ibrahim Hasan]