Loading

Alasan Untuk Tidak Pacaran

Hai Ukhti! Berjumpa lagi..

Apakah kamu sering mendapat reaksi ini dari teman-teman? Pacaran (yang istilahnya berasal dari adat lawas orang Melayu untuk memakaikan pacar air ke pasangan sebagai tanda hubungan) memang sudah jadi norma umum saat ini. Meski tidak semua kalangan menerimanya, termasuk secara Islam. Ketika kamu mencapai umur tertentu, orang-orang akan menuntut supaya kamu punya pacar. Padahal, belum tentu kamu sendiri mau.

Betul kan, ukhti?

Kamu memang merasa baik-baik saja tanpa pacar. Kamu pun nggak mengerti kenapa orang lain begitu terobsesi dengan pacaran. Nah, kalau selama ini kamu kesulitan menjelaskan kenapa kamu merasa nyaman dengan kesendirianmu itu, artikel kali ini mungkin bisa membantumu. Apa saja sih alasan kenapa pacaran itu bukan keharusan?

  1. Kamu Bukan Orang yang Mudah Takluk Pada Tekanan

Semua orang terlahir ke dunia ini dalam keadaan sendiri. Barulah setelah itu kita berangsur-angsur bertemu dan mengenal orang lain. Dari teman TK, SD, SMA hingga kuliah, satu per satu orang lain akan masuk ke hidupmu.

Nah, kata orang zaman sekarang, pacar adalah figur yang akan kamu butuhkan dalam satu titik di kehidupanmu. Banyak banget orang di lingkunganmu yang mengatakan kalau kamu sudah dewasa, dan sudah sepantasnya punya pacar. Namun, kamu adalah orang yang “kebal” terhadap apa kata orang lain. Apapun yang mereka pikirkan, tak akan terlalu memusingkan kamu.

Kamu tidak pernah ikut kelimpungan cuma karena temanmu yang juga jomblo tiba-tiba galau. Kamu sudah merasa terpenuhi dengan apa yang kamu miliki. Tidak ada keinginan untuk memiliki atau mencari pacar saat ini. Dan itu tidak apa-apa, karena berarti kamu benar-benar mengenal dirimu sendiri. Kamu adalah individu yang mengagumkan, karena tidak membiarkan dirimu dibentuk oleh tekanan lingkungan sekitar.

  1. Kamu Nyaman Sendiri, Karena Status Single Juga Disandang Sahabat-Sahabatmu.

Jika pengaruh lingkungan tetap penting buatmu, mungkin alasan yang satu ini yang melatarbelakangi kejombloan-mu. Bisa jadi, kamu memang ada dalam lingkungan dimana ‘pacar’ itu cuma ide, bukan kenyataan. Artinya: sebagian besar temanmu juga nggak punya pacar.

Gara-gara sama-sama single, kalian jadi sering menghabiskan waktu bersama. Ini membuat kalian lupa bahwa di luar sana, banyak orang seumuran kalian yang sibuk pacaran.

Walaupun alasan kalian untuk tak berpacaran berbeda-beda, kehadiran kalian untuk satu sama lain sudah sangat membuat kalian nyaman. Kalian tak berpikiran untuk punya pacar, apalagi kalau itu berarti persahabatan kalian harus merenggang!

  1. Kamu Yakin Bahwa Pacaran Akan Membuat Hidupmu Lebih Rumit

Pacaran akan selalu membutuhkan tenaga dan kerja ekstra. Padahal, mungkin kamu sedang berada dalam titik dimana hidupmu sudah rumit. Kamu tak terbayang apa jadinya jika kamu punya pacar. Apalagi kalau mendengarkan curhatan temanmu tentang pacarnya. Kamu jadi tambah malas untuk menjalin berhubungan. Kamu bersyukur, karena tak harus berhadapan dengan masalah-masalah klasik orang pacaran.

Orang-orang mungkin bilang: walaupun repot, pacaran itu layak diperjuangkan karena bisa membuat bahagia. Tapi kamu toh tidak butuh pacaran untuk bahagia. Apalagi, kamu nggak yakin bisa menyeimbangkan semua aspek kehidupanmu dengan baik. Ini sah-sah saja, karena hubungan cinta tak harus jadi prioritas ketika kamu masih fokus mengejar mimpi.

  1. Belum Ada Yang Tertambat di Hatimu Selama Ini. Jadi Mau Pacaran Sama Siapa, Coba?

Ini nih alasan yang justru sering disepelekan banyak orang. Mungkin teman-temanmu atau keluargamu melihat pacaran dengan prinsip ekonomi kali ya? Asal ada permintaan dan penawaran, titik temunya pasti ada. Asal ada yang nawarin, pacaran bisa kamu coba. Toh kalau gak cocok bisa putus!

Tapi kamu keberatan dengan konsep ini. Kamu tak akan menerima seseorang jadi pacarmu hanya karena kamu tahu dia suka sama kamu. Sebaliknya, kamu menginginkan seseorang yang memang menurutmu tepat.

Kamu bukan orang yang menolak pacaran. Justru sebaliknya, kamu individu romantis yang hanya mau menjalin hubungan dengan ‘the one‘. Sayangnya, karena yang ditunggu nggak juga datang, akhirnya ya kamu tetap memilih menjomblo.

Mungkin orang lain akan beranggapan bahwa kamu sok jual mahal. Atau memasang standar yang terlalu tinggi, sampai-sampai gak dapat pacar. Padahal, kamu cuma ingin memastikan bahwa yang menjalin hubungan dengan kamu suatu saat adalah orang yang benar-benar tepat.

  1. Pacaran Itu Konsep Yang Tidak Diakui Oleh Ajaran Agamamu

Kalau kamu adalah orang yang teguh memegang prinsip-prinsip agama (seperti Dije. :p ), kamu mungkin akan memandang konsep pacaran sebagai hal yang problematis. Ketika kebanyakan orang tak akan keberatan memulainya karena hanya berpikir berlandaskan rasa, kamu menempatkan ajaran agamamu sebagai acuan utama. Itu sah-sah saja, karena memulai atau tak memulai hubungan adalah keputusan yang personal. Jika ajaran agamamu memang tidak menganjurkan (atau justru melarang) pacaran, wajar saja buat kamu untuk memilih tak berpacaran.

Akan sangat sulit menentukan aturan ‘pacaran’ yang bisa berlaku buat semua orang. Bahkan konsep pacaran zaman dulu saja sangat berbeda dengan zaman sekarang. Ajaran agama justru bisa jadi acuan yang konsisten dalam mengatur hubungan kita dengan sesama manusia, termasuk pasangan dan calon pasangan.

  1. Jika Tujuan Akhirnya Adalah Menikah, Mengapa Tidak Langsung Saja?

“Sebenarnya apa sih tujuan utama orang pacaran? Lebih mengenal satu sama lain? Status? Atau untuk akhirnya berakhir di pelaminan?

Kalau hanya untuk mengenal satu sama lain, toh ada banyak cara yang bisa dilakukan selain berpacaran. Kalau untuk status, bukannya itu akan menghambat perkembangan kita sebagai anak muda? Nah… kalau memang ingin berakhir di pelaminan… kenapa nggak langsung saja menikah?”

Jika kamu adalah orang yang berpikiran seperti itu, kamu memang tidak sepaham dengan konsep pacaran sebagai ajang ‘latihan’ sebelum menikah. Apalagi, ajang tersebut justru bisa menimbulkan sakit hati jika tak berjalan sesuai harapan. Menurutmu, kalau kamu dan orang yang membuatmu tertarik sudah sama-sama serius… langsung menikah bukanlah masalah!

sumber : http://duniajilbabindonesia.blogspot.com (dengan beberapa perubahan)

10 Tips untuk Menjadi Muslimah Produktif

Sepuluh tips untuk menjadi seorang Muslimah produktif ini berisi tentang bagaimana cara seorang wanita muslim menjadi lebih produktif dan menjadi yang terbaik dalam menjalankan perannya untuk umat.

Berikut Arrahmah.com sajikan terjemahan tips yang in syaa Allah bermanfaat bagi kaum Muslimah yang bersumber dari SISTERS Magazine dan dimuat ulang oleh Saudari Lotifa Begum di Productive Muslim pada Rabu (12/4/2014) tersebut.

Ada pernyataan yang mendalam yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah yang mengatakan: ‘Wanita adalah setengah dari masyarakat yang melahirkan setengah lainnya sehingga seolah-olah mereka adalah seluruh masyarakat.’

Jika wanita membentuk hampir seluruh masyarakat, bukankah seharusnya kita berjuang untuk menjadi produktif dalam hidup ini untuk ke depannya? Namun kita tahu tidak lah mudah menjadi seorang Muslimah saat ini! Pada kenyataannya, untuk menjadi seorang saudari, ibu, istri, profesional dan lebih berarti, seorang Muslimah di era modern ini bisa mendapati dirinya berjuang untuk menjadi produktif, mencoba untuk menangani semua tugas pada daftar-yang-harus dikerjakan-yang-semakin-banyak. Bagaimanapun, di Productive Muslim kami mengedepankan memulai dengan sebuah niat yang tulus dan bekerja keras untuk mencapai tujuan akhir kita.

Jadi, “Seperti apakah seorang Muslimah Produktif ?” Saya mendengar Anda bertanya. Kami percaya Muslimah produktif adalah wanita yang menggunakan semua sumber daya di sekelilingnya dengan misi untuk menjalani hidupnya untuk menjadi bermutu, dan pada akhirnya berusaha untuk mencapai kedudukan tertinggi di Jannah. Sekali seorang Muslimah di dunia dipersenjatai dengan pedoman ini, ia bisa mencapai beberapa hal besar in syaa Allah!

Dalam artikel ini kita akan mulai menjelajahi 10 tips untuk menjadi Muslimah produktif dan kita akan melihat langkah-langkah praktis yang dapat Anda ambil untuk menjalani kehidupan yang lebih produktif.

 

1. Milikilah niat yang tulus

Di Productive Muslim kami memiliki motto yang menyatakan: ‘Memiliki niat yang tulus dan bekerja keras’. Ini merupakan motto kehidupan seorang Muslimah produktif. Dengan diawali niat yang tulus dalam setiap tindakan kita, baik sebagai seorang pekerja profesional dengan berusaha bekerja dengan niat yang baik untuk membawa perbedaan positif atau pun sebagai istri atau ibu yang sibuk mengawasi keluarga, kita dapat memperoleh manfaat dan berkah dalam tindakan kita yang dimulai dengan niat yang tulus selalu!

 

2. Jadilah proaktif

Salah satu pelajaran terbaik yang pernah saya pelajari dalam hidup adalah bahwa untuk menjadi produktif, kita harus proaktif. Ini tidak berarti untuk menjadi produktif Anda harus sibuk; pada kenyataannya, orang-orang sibuk mungkin justru tidak produktif. Sebaliknya, Anda harus memfokuskan energi Anda untuk menjadi aktif di tempat-tempat yang akan membawa manfaat bagi tujuan hidup Anda secara keseluruhan, in syaa Allah. Sebagai contoh, salah satu cara saya proaktif adalah dengan menghadiri kursus pengembangan pribadi dan spiritual dan kemudian berbagi dengan orang lain melalui menulis artikel atau menyampaikannya melalui pembicaraan. Kami mendapati bahwa dalam contoh tokoh-tokoh sejarah dan kontemporer, menjadi proaktif adalah salah satu ciri-ciri Muslimah sukses.

 

3. Carilah pengetahuan

Sering disebutkan bahwa jika Anda mendidik seorang pria, sama dengan Anda mendidik seorang individu, tetapi jika Anda mendidik seorang wanita, sama dengan Anda mendidik sebuah bangsa, dalam artian pentingnya saudari-saudari [Muslimah] untuk terus mencari pengetahuan.

Untuk menjadi seorang Muslimah produktif, carilah program-program yang tersedia secara online melalui berbagai organisasi Islam untuk seminar offline dan kursus lokal yang akan membantu untuk mengembangkan pengetahuan Anda. Di era modern, mengakses buku-buku di Kindle dan di perpustakaan serta toko buku berarti Anda dapat membaca tentang hampir semua topik yang Anda butuhkan untuk mengembangkan pengetahuan Anda dan kemudian memberikannya pada anak Anda, keluarga dan masyarakat luas.

 

4. Rencanakanlah waktu Anda secara efektif

Salah satu rahasia menjadi produktif adalah bahwa Anda tidak membuang waktu! Salah satu hal pertama yang Muslimah produktif harus lakukan adalah merencanakan waktunya secara efektif. Ini termasuk penjadwalan waktu untuk belajar, bekerja, beribadah dan menghabiskan waktu dengan keluarga dan jika Anda memiliki anak-anak, tetapkan waktu bagi mereka dan diri Anda sendiri sehingga Anda tidak kebingungan. Pilih dengan bijak bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda; Anda dapat menggunakan Taskinator fantastis online kami untuk membantu Anda memulainya. Salah satu perkataan yang mendalam tentang kegunaan memanfaatkan waktu dengan baik adalah perkataan salah seorang ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah yang menyatakan: “Jika Allah menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya, Dia menolongnya dengan waktu dan membuat waktunya sebagai penolong baginya.’

 

5. Refleksikan diri

Sebagai seorang Muslimah proaktif, bisa begitu sulit untuk menilai seberapa efektif Anda menggunakan waktu dan mampu memenuhi semua peran Anda. Dengan pemikiran ini, sebaiknya Anda secara teratur meluangkan waktu untuk refleksi diri, mungkin pada penghujung hari Anda bisa menjurnal apa yang berjalan dengan baik di hari Anda dan juga bersikap kritis terhadap bagaimana Anda bisa menggunakan waktu Anda dengan lebih baik untuk hari berikutnya. Hanya dengan terus-menerus merefleksi diri dan mengumpan balik kita dapat tumbuh, berkembang dan menjadi lebih produktif, in syaa Allah.

 

6. Fokuslah pada kualitas daripada kuantitas

Ada sebuah hadis yang sering mengingatkan saya bahwa sebagai umat Islam kita perlu berusaha untuk menyempurnakan apapun tugas atau proyek yang kita mulai; Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Allah menyukai ketika engkau melakukan sesuatu, engkau melakukannya dengan baik.’ [HR Muslim]. Seorang Muslimah dalam memulai aktivitas apapun, selalu mengingatkan diri sendiri bahwa kualitas lebih difokuskan daripada kuantitas. Lebih baik unggul di satu tempat, seperti menulis atau menjadi ibu yang baik, daripada melakukan pekerjaan yang biasa-biasa saja dengan fokus pada terlalu banyak hal. Seorang Muslimah produktif selalu berusaha untuk unggul dalam apa yang ia lakukan dan tidak puas dengan yang biasa-biasa saja.

 

7. Lakukan yang terbaik!

Beberapa cerita yang paling inspiratif dari istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan banyak Muslimah produktif lainnya menunjukkan bahwa mereka bekerja keras untuk menjadi yang terbaik dalam peran mereka, seperti Khadijah radhiallahu anha yang merupakan seorang wanita pebisnis yang sukses. Sebagai seorang istri atau ibu, Anda dapat fokus pada mendukung suami Anda dan bahwa tindakan kecil saja bisa menjadi salah satu cara Anda menjadi seorang istri yang produktif. Memberikan yang terbaik untuk peran dan tugas yang ada di tangan membutuhkan fokus dan untuk mengeluarkan energi Anda hanya [fokus] untuk tugas yang ada di tangan Anda.

 

8. Manfaatkan wawasan

Hidup di era informasi dan teknologi, kita adalah generasi yang telah dilengkapi dengan banyak alat teknologi, buku, jaringan dan pengetahuan yang berguna yang dapat kita manfaatkan untuk menjadi lebih produktif dan terorganisir dalam hidup kita. Anda dapat menggunakan alat-alat online untuk membantu mengatur waktu Anda, seperti yang ada di bagian Resource kami, untuk mengembangkan pengetahuan Anda dan belajar banyak keterampilan baru secara online dengan kursus yang akan membuat Anda lebih berwawasan. Gunakan sumber daya ini untuk menjalani kehidupan yang lebih produktif.

 

9. Berusahalah untuk bermanfaat bagi orang lain

Banyak Muslimah produktif dari sejarah hingga modern yang telah mencapai hal-hal besar karena pemahaman mereka tentang hadits yang indah ini di mana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Yang terbaik dianara kalian adalah mereka yang bermanfaat bagi umat.’ [HR Bukhari]. Selalu bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan ini: ‘Akankah tindakan saya bermanfaat bagi orang lain?’ Ini akan membantu Anda untuk memutuskan tindakan apa yang berharga dan membantu Anda mengatur inisiatif sebagai ibu, istri, profesional atau mahasiswi untuk membawa manfaat bagi orang di sekitar Anda yang juga akan menguntungkan diri Anda sendiri.

 

10. Bertawakallah pada Allah

Akhirnya, Muslimah produktif, di samping perjuangan dan usahanya, harus selalu sadar bahwa keberhasilan dalam mencapai tujuannya hanya akan datang dari Allah yang berfirman dalam Al-Qur’an: Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman. [QS. 5:23]. Fokus pada produktivitas spiritual adalah bahan rahasia untuk menjadi sukses. Sebagai seorang muslimah, Anda harus bekerja keras, memberikan kontribusi kepada masyarakat dan merencanakan waktu Anda secara efektif dengan doa, kemudian menempatkan kepercayaan Anda pada Allah dengan selalu memohon kepada-Nya untuk menolong Anda mencapai keberhasilan tertinggi dalam kehidupan ini dan akhirat.

***

Artikel ini awalnya terbit di SISTERS Magazine, majalah internasional untuk Muslimah yang luar biasa, yang didirikan dan diedit oleh Na’ima B. Robert, penulis From My Sisters’ Lips.Sementara Saudari Lotifa Begum merupakan Kepala Muslimah Produktif di ProductiveMuslim.com. Ia memiliki wawasan luas dalam berbagai isu terkait produktivitas dan telah memberikan workshop untuk saudari-saudari Muslimah tentang isu-isu yang berkaitan dengan manajemen waktu, pengembangan pribadi dan produktivitas.

(banan/arrahmah.com)

– See more at: http://www.arrahmah.com/muslimah/10-tips-untuk-menjadi-muslimah-produktif.html#sthash.oPYoGv0z.dpuf

Menjadi Wanita adalah Amanah ^^

muslimah amar ma'ruf

Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Terlebih jika jilbab itu tidak hanya sekedar untuk menutupi tubuhnya, akan tapi juga menjilbabkan hati. Dan jika ia tak bersampul, maka ia akan terlihat lebih kusam, ternoda oleh coretan, sobek, karena dia tidak bisa menjaga dirinya, itu karena dia membiarkan auratnya terlihat oleh laki-laki bukan mahramnya.

 

Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Dan sudah seharusnya kita menjaga amanah ini, dengan membentengi diri kita iman dan ilmu. Senantiasa belajar dan berusaha untuk selalu memperbaiki diri. Karena memang menjadi wanita baik itu tidak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman. Lihatlah di luar sana, masih banyak wanita yang dengan bangganya mengobral kehormatan dan kecantikannya, memperlihatkan auratnya kepada non mahram, bahkan ada diantara mereka yang sampai terenggut kehormatannya dikarenakan tidak bisa menjaga dirinya. Astaghfirullah, susahnya menjadi wanita.

 

Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikan diriku seorang wanita. Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini kepadaku. Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun. Dan seperti apa diri kita kelak sangat di pengaruhi oleh bagaimana cara kita bersikap, dan menjaga izzah dan iffah kita.

 

Ukhti, bersyukurlah karena engkau di karunia wajah yang cantik dan tubuh yang sempurna. Dan sudah seharusnya engkau menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Bukan dengan memamerkan aurat kepada laki-laki bukan mahram, sehingga membuat mereka tergoda dan memuja kecantikanmu. Tapi jagalah amanah tersebut dengan menjaga dirimu dari hal-hal yang Allah murkai, karena cantik yang sesungguhnya adalah ketika engkau bisa menjaga dirimu dan kehormatanmu. Bukan dengan berlomba-lomba mempercantik tubuh sehingga tidak mengindahkan batasan-batasan yang telah Allah berikan kepadamu.

 

Sungguh rasanya malu diri ini, ketika aku tidak bisa menjaga amanah yang telah Allah berikan kepadaku. Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tandukku tidak berkenan di hati sahabat-sahabatku . Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya. Aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap titipan Allah ini.

sumber : http://dakwahmuslimah.tumblr.com

Yuuk Muslimah.. Maknai Shahih Bukhari Mengenai Puasa Ramadhan ^^

  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda “Puasa adalah perisai diri (dari api neraka)”. Maka seseorang yang sedang berpuasa janganlah menggauli istrinya, berkata kotor dan berbuat jahil, jika dia diajak bertengkar atau dicaci  hendaklah dia mengatakan, “Saya sedang berpuasa”. Rasulullah Saw mengulanginya dua kali. “Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya! sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah SWT lebih harum daripada bau misik/kesturi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Hambaku meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena aku. Puasa itu bagi-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali.[Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1894].
  2. Pintu Rayyan di Surga Bagi Orang-orang Yang Berpuasa: Diriwayatkan dari Sahl r.a bahwa Nabi Muhammad Saw pernah bersabda : “Di surga ada sebuah pintu bernama Ar-Rayyan yang kelak pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa, tanpa ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Dikatakan pada hari itu, “mana orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun bangkit untuk memasuki pintu itu tanpa seorangpun selain dari mereka yang memasukinya. Ketika mereka sudah masuk semua, pintu itu ditutup dan tidak ada lagi seorangpun yang memasukinya. [Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1896]
  3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang memberikan dua macam harta dijalan Allah akan dipanggil untuk memasuki pintu-pintu surga, Hai hamba Allah! inilah balasan harta yang kau infaqkan untuk kebaikan. Orang yang melaksanakan shalat akan dipanggil dari pintu shalat, orang yang berjihad akan dari pintu jihad, orang yang berpuasa akan dipanggil dari pintu Rayyan dan orang yang bersedekah shalat akan dipanggil dari pintu sedekah”. Abu Bakar r.a mengatakan : “Saya pertaruhkan ayah dan ibu saya kepada anda (ungkapan untuk memohon izin bertanya atau berbicara), ya Rasulullah! sungguh tidak ada kesedihan sedikitpun bagi orang yang dipanggil dari semua pintu-pintu tersebut, dan apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu ?” Rasullah Saw menjawab : “Ya, ada, dan aku berharap kaulah salah satunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadis : 1897].
  4. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu surga terbuka.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1898].
  5. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu langit/surga terbuka, semua pintu neraka tertutup dan setan-setan dibelenggu”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1899].
  6. Apakah Ramadhan atau bulan Ramadhan perlu disebutkan dan orang yang melihat hilal (bulan sabit di awal tanggal) ? Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, dia berkata : Saya pernah mendengar Rasullah Saw bersabda : “Apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Ramadhan), maka berpuasalah dan apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Syawal), maka hentikan puasa, dan apabila di langit diselimuti awan (sehingga hilal tidak terlihat), maka genapkan Ramadhan (30 hari)”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1900].
  7. Orang berpuasa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek: Diriwaytkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang berpuasa tanpa meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek, maka Allah tidak membutuhkan puasa”. [Hadits ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadits : 1903].
  8. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, “Semua amal ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”. Pada bagian akhir hadis disebutkan : “Orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan, dia merasa senang ketika bertemu dengan Tuhannya, dia juga merasa senang dengan pahala puasanya.” [Hadis ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadist 1904].
  9. Puasa bagi orang-orang yang tidak mampu menikah untuk mengendalikan syahwat Diriwayatkan dari ‘Alqamah bahwa Abdullah r.a mengatakan : Suatu ketika kami bersama Nabi Muhammad Saw, kemudian beliau bersabda : “Laki-laki yang sudah mampu menikah hendaklah ia menikah, karena menikah akan membuat pandangan matanya lebih merunduk dan membuat kemaluannya lebih terjaga. Siapa yang belum mampu menikah hendaklah ia berpuasa, karena puasa akan melerai nafsunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1906]
  10. Mengenai hitungan hari puasa bulan Ramadhan: Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, bahwa Rasulullah bersabda : “Satu bulan itu bisa 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa Ramadhan sebelum kamu melihat hilal dan apabila langit berawan (sehingga kamu tidak melihat hilal), maka genapkanlah Sya’ban 30 hari.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1907]
  11. Diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a, bahwa Nabi Saw pernah bersumpah untuk menjauhi istri-istrinya selama sebulan. Setelah berlalu 29 hari beliau datang pada pagi atau sore hari, lalu ditanyakan kepada beliau : “Anda telah bersumpah menjauhi istri-istri Anda selama satu bulan (mengapa sekarang anda datang ?)”. Rasulullah Saw menjawab : “Satu bulan itu kadang-kadang 29 hari.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1910]
  12. Dua bulan Id tidak berkurang keutamaannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah berkata : “Dua bulan Id, Ramadhan dan Dzul Hijjah tidaklah berkurang keutamaannya (meskipun kadang-kadang 29 hari).” (Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1912]
  13. Sabda Nabi Saw :”Kami tidak pandai menulis dan berhitung” Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a bahwa Nabi Saw bersabda : “Kami adalah umat ummiy. Kami tidak pandai menulis dan berhitung. Satu bulan itu sekian dan sekian”. Maksudnya : Kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1913]
  14. Larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Janganlah seseorang dari kamu mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa sunnat yang kebetulan waktunya pada hari itu, maka ia boleh berpuasa.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1914]
  15. Firman Allah SWT (yang artinya : “Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Quran, Surah Al-Baqarah : 187) Diriwayatkan dari Adiy bin Hatim r.a, dia berkata : Ketika turun ayat (yang artinya :”…. hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam”, saya mengambil dua utas tali pengikat masing-masing hitam dan putih, kemudian saya meletakkannya di bawah bantal saya. Pada malam hari saya melihat tali tersebut namun tidak tampak jelas pebedaan keduanya. Pada pagi hari saya menemui Rasulullah Saw untuk memberitahukan kepada beliau apa yang telah saya lakukan itu, kemudian beliau bersabda : “Benang hitam maksudnya gelapnya malam dan benang putih maksudnya terangnya siang (yakni fajar).” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1916]
  16. Perkiraan jeda antara sahur dengan shalat subuh Diriwayatkan dari Anas r.a bahwa Zaid bin Tsabit r.a mengatakan : Kami makan sahur bersama Rasulullah Saw, kemudian beliau berdiri untuk melaksanakan shalat (Subuh). Ditanyakan kepada Zaid : Berapa lama kira-kira antara azan dengan sahur ? Dia menjawab : Kira-kira bacaan 50 ayat Al-Quran. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits 1921]
  17. Sahur tidak wajib tetapi mengandung berkah Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah bersabda : “Makan sahurlah, karena makan sahur itu mengandung berkah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1923]
  18. Orang yang berpuasa dalam keadaan junub ketika subuh Diriwayatkan dari Aisyah dan Ummu Salamah r.a bahwa ketika fajar tiba, Rasulullah Saw pernah dalam keadaan junub sehabis menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1925]
  19. Memeluk istri bagi orang yang berpuasa Diriwayatkan dari Aisyah r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah mencium dan memeluk istrinya ketika beliau sedang berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan diri dibanding kalian semua. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1927]
  20. Makan dan minum karena lupa pada saat berpuasa Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Apabila seseorang lupa (bahwa ia sedang berpuasa) kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia lanjutkan puasanya, karena demikian itu berarti ia diberi makan dan minum oleh Allah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1933]

 

Sumber : http://adacerita1.blogspot.com/p/shahih-bukhari-mengenai-puasa-ramadhan.html

Puasa Yuuk ^^

Puasa? Asyiik! Ada buka shaum bersama, gratis lagi! Ada sanlat Ramadhan, tarawih rame-rame, dll. Kalau dilanda malas gimana? Apa pula hubungan puasa dan diet?

“SENENG dong, bulan puasa. Meski rada-rada berat ngejalanin, tapi gimana lagi, kan Islam mewajibkan,” begitu kata Wati, pelajar SMP yang tinggal di Jalan Pajajaran Bogor ini. Syukur, ternyata doi termasuk yang sadar menjalankan ibadah shaum. Ada banyak kegiatan yang Wati suka lakukan. “Yang paling terkesan kalo ada acara Pondok Ramadhan di sekolah. Wah, heboh habis! Jarang-jarang kan kita bisa makan rame-rame bareng guru dan temen-temen,” ceritanya gembira.

Lia juga sama, gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Cewek yang kuliah di salah satu STIE di Bogor ini mengaku banyak mengikuti kegiatan positif saat puasa di lingkungan tempat tinggalnya. “Kebetulan aktif di DKM Masjid dekat rumah. Masjid jadi rame kalo bulan Ramadhan gini. Tiap hari bisa buka shaum gratis, he..he..he…,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Selain itu, di kampusnya dia juga lumayan aktif di rohis. Biasanya, dia dan teman-teman segeng rohisnya juga ngadain buka puasa? bersama meski nggak tiap hari, sanlat Ramadhan, dll. “Kalau itu sih, udah tradisi,” katanya seperti model iklan Biskuit Roma di teve itu. Pernah nggak seh malas? ”Yah, namanya orang puasa. Aku juga suka lemes, malas dan kadang mudah emosi. Tapi, kita kan musti bisa menahan diri, kalo nggak puasanya sia-sia dong!” katanya rada-rada ngeles. Padahal, emang ada benernya sih.

Puasa vs Wanita

Kewajiban berpuasa, diperintahkan Allah SWT bagi laki-laki maupun wanita. Sebagaimana dalam surat Al Baqarah 183 (kamu pasti hafal kan!) yang artinya ‘Hari orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kami, agar kamu bertaqwa.’ Begitu pula Sabda Rasulullah: ‘Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu’ (HR Ashabus Sunan dari Abu Hurairah).

Seruan itu bersifat aam atawa umum baik bagi cowok maupun cewek. Artinya, nggak ada alasan buat ninggalin kewajiban itu. Kendati kamu cewek, kamu pasti kuat menjalankan puasa, sama dengan kaum Adam. Karena, Allah SWT Zat Yang Maha Mampu mengukur kemampuan kamu.

Memang, ada saatnya di mana kamu haram meneruskan puasa, yakni jika mendapatkan haid dan nifas (keluar darah sehabis melahirkan). Hanya saja, meski kamu bebas tugas puasa pada saat itu, kamu musti menggantinya (mengqadha’) di hari lain. Ceritanya, kamu tuh ngutang puasa sama Allah SWT yang musti kamu bayar segera di luar Bulan Ramadhan.

Selain itu, kalo kamu tiba-tiba jatuh sakit yang mengganggu fisik atau mental kamu, maka boleh membatalkan puasa. Syaratnya tetap, wajib mengganti di hari lain. Bagaimana dengan wanita yang hamil dan menyusui? Bila wanita hamil itu ada perasaan takut dengan berpuasa bisa membawa mudharat diri dan janin dalam kandungannya, maka dia boleh tidak puasa. Sebagai gantinya, wajib meng-qadha di hari lain. Sementara jika pertimbangannya karena khawatir akan keselamatan janinnya semata, maka harus meng-qadha di lain hari sekaligus membayar fidyah.

Puasa dan Kesehatan

Selain hukumnya memang wajib, sebetulnya apa sih manfaat puasa? Mungkin ada sudut hatimu yang usil bertanya begitu. Meskpun memang, harusnya nggak perlu kamu tanyakan kenapa musti puasa. Sebab itu kewajiban dari Allah SWT yang nggak perlu dipertanyakan latar belakangnya, tujuan, misi, visi dan manfaat kegiatan itu. (kayak proposal seminar aja). Tapi, wajar kalo kamu penasaran. Orang lapar kok dilarang makan, haus dilarang minum. Aneh, kan! Namun dari sisi medis, bisa dijelasin kok kira-kira manfaat puasa itu apa. Rasulullah sendiri bersabda: Shuumuu nashimuu yang artinya berpuasalah supaya kamu sehat.

Pada waktu melakukan puasa, terjadi perubahan metabolisme tubuh kita akibat penghentian total asupan energi, bahan pembangun serta air selama periode aktif di siang hari. Karena tidak ada asupan energi, tubuh menggunakan cadangan energi yang ada dalam tubuh. Di sisi lain, sisa-sisa bahan makanan yang tidak diperlukan tubuh tidak menumpuk, melainkan langsung dibuang sehingga tubuh lebih sehat. Pada keadaan puasa ini, kerja lambung dan perangkat pencernaan lain juga berubah. Tentu saja kerjanya jadi lebih enteng, sehingga organ-organ pencernaan bisa sedikit santai dan fungsinya bisa berjalan dengan lebih baik.

Secara keseluruhan, perubahan metabolisme pada seseorang akan tampak secara objektif dan dirasakan dalam bentuk penurunan berat badan. Wajar jika ada yang menjalankan puasa bila ingin melakukan diet penurunan berat badan. Karena memang terbukti, puasa adalah cara yang aman dan sehat untuk menurunkan berat badan.

Nah, selama puasa banyak perubahan yang terjadi. Pertama, perubahan kebiasaan waktu makan dan minum. Lebih kurang 14 jam mulai terbit fajar sampai terbenam matahari kita tidak makan dan minum. Makan dan minum hanya dilakukan malam dan menjelang pagi. Hal tersebut akan menimbulkan rasa lapar dan haus. Karena perubahan pola makan ini, akan terjadi pula perubahan pada pengosongan lambung. Lamanya pengosongan lambung tergantung isi lambung. Isi lambung yang cair lebih cepat kosong daripada yang padat. Makanan padat banyak yang mengandung karbohidrat akan meninggalkan lambung dalam 2-3 jam. Sedangkan bila banyak mengandung lemak akan lebih lama berada di dalam lambung. Bila kita berbuka atau sahur, kandungan makanan yang kita makan akan mempengaruhi waktu timbulnya rasa lapar.

Saat puasa juga terjadi perubahan pola tidur. Kita harus bangun dini hari untuk makan sahur. Bagi yang tidak biasa bangun shalat malam atau subuh di awal waktu, ini sangat berat. Namun akan segera diterima dan tubuh akan menyesuaikan diri.

Selain itu, juga terjadi perubahan emosi. Ingat, orang lapar biasanya gampang marah. Nah, disinilah diuji untuk mengendalikan amarah, takut, benci, sedih, dll. Pokoknya, semua yang termasuk keluarga stres musti dihindari agar puasanya sukses. Manifestasi fisik dari emosi disalurkan melalui sistem saraf somatik dan otonom. Orang yang marah misalkan, akan terlihat tegang, jantung berdebar keras, dan tekanan darah tinggi. Hal itu tergolong gangguan psikosomatik. Nah, dengan berlatih mengendalikan emosi dan bebas dari rasa berdosa, dapat membebaskan orang dari gangguan psikosomatis itu. So, kejiwaan kamu lebih sehat!

Boks ================

Kiat Tampil Bugar di Bulan Ramadhan

MALAS, lemes, nggak bergairah, bawaannya pengin tidur. Itu diantara yang kamu-kamu alami ketika menjalankan ibadah shaum. Akibatnya, kewajiban yang harusnya kelar, kadang jadi terbengkalai gara-gara nuruti nafsu malasmu. Padahal, banyak cara untuk menghindari rasa malas-masalan kamu itu, lho! Nih, ada beberapa kiat yang mudah-mudahan bisa bikin kamu tetep tampil seger buger di Bulan Ramadhan. Simak ya!

Pertama, mengatur pola makan, sesuaikan dengan kondisi tubuh. Hal ini berarti kita harus memperbanyak makan pada waktu sahur dan buka, dengan tidak melupakan keterbatasan dan kapasitas perut kamu. Yang lebih diutamakan adalah peningkatan kualitas makanan, bukan hanya kuantitasnya. Misal, agar tidak merasa lemas, makanlah makanan yang mengandung energi tinggi dan mudah dicerna, terutama saat berbuka. Jenis makanan ini harus mengandung kadar gula tinggi, seperti kurma, buah-buahan, kolak, dll. Makanan yang lama dicerna menyebabkan lambung bekerja keras sehingga membuat kita ngantuk. Kasihan dong lambung kamu, abis istirahat dari pagi ampe sore, tiba-tiba suruh kerja rodi.

Jadi, sebaiknya jangan langsung makan besar saat buka shaum tiba. Karena, nasi yang banyak mengandung karbohidrat lama dicerna lambung. Ntar keburu ngantuk abis makan. Padahal kita kan butuh shalat Isya dan Tarawih. Jadi, begitu bedug maghrib terdengar, segera batalkan puasa, tetapi jangan makan berat. Setelah itu shalat Magrib, baru makan besar. Itupun jangan terlalu rakus karena bisa-bisa nggak kuat Tarawih. Makan sahurpun sebaiknya ditutup dengan makanan yang manis karena energi yang terkandung di dalamnya akan tersimpan di tubuh sehingga kita punya cadangan energi yang cukup untuk beraktivitas sehari-hari. Dengan begitu kita nggak lemes.

Kedua, mengatur pola kegiatan. Aktivitas sehari-hari memang nggak boleh kendor meski sedang puasa, apalagi yang wajib-wajib. Misalnya ke sekolah, belajar, ngaji, membantu orangtua dan juga berdakwah. Tapi, waktunya harus diatur agar tidak seharian penuh semua aktivitas dilakukan. Jadi, tenaga jangan diforsir. Adapun aktivitas yang mubah, boleh-boleh saja tidak dilakukan atau dikurangi frekuensinya. Daripada nonton TV atau jalan-jalan ke mal misalnya, mending buat tidur untuk hemat energi. Lagian, tidurnya orang puasa kan berpahala. (Eit, ini bukan pelegalan untuk tidur melulu, ya!) Atau, mending buat baca buku yang nggak terlalu meres keringet.

Demikian pula olahraga, tetep bisa dilakukan. Tapi, kuantitasnya diturunin, sesuaikan dengan energi. Kalo biasanya kuat fitness berjam-jam misalnya, kurangi jadi cukup 30 menit aja. Sebaiknya olahraga dilakukan sore hari menjelang buka puasa. Sehingga, begitu energi kamu habis, gak pake nunggu lama bisa menggantinya karena waktu berbuka tiba. Perlu dicatat, kalo aktivitas sehari-hari kamu telah menuntut kegiatan yang mirip olahraga, misal banyak lari (kegiatan apa yang banyak lari, ya??), banyak jalan atau naik-turun tangga, itu cukup sebagai pengganti olahraga.

Ketiga, mempersiapkan mental, hati dan pikiran kita. Dalam mensikapi bulan Ramadhan, dibutuhkan penataan dari sisi psikologi. Sertai aktivitas kamu dengan nilai ruhiyah, yakni kesadaran akan hubungan kamu dengan Allah SWT, bahwa puasa dalam rangka taqarub, mendekatkan diri pada-Nya. Jadi, bukan dengan motivasi lain, menurunkan berat badan misalkan. (Hitung-hitung sekalian diet). Sikap positif, ikhlas, sabar dan tenang dalam menjalankan ibadah Ramadhan akan berpengaruh pada aktivitas kita. Kita jadi nggak malas-malasan, bahkan malah bersemangat empat lima untuk menjalankannya. Bagaimana tidak, wong apapun yang kita lakukan, bila bernilai pahala maka akan mendapat ganjaran berlipat-lipat kok. Bunga rentenir aja kalah. So, buang rasa malas kamu! Bukankah Allah SWT berfirman: Fastabiqul khairat, berlomba-lombalah dalam kebaikan! Tunggu apa lagi! Yuk? berlomba-lomba mengejar pahala buat bekal di Hari Akhir!![asri]

Sumber Buletin Gaul Islam 31 Mei 2009