Berburu Berkah Ramadhan

  • 0

Berburu Berkah Ramadhan

Category : KEMUSLIMAHAN

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Alhamdulillah, kita jumpa lagi ya. Edisi ke-348 ini bertepatan dengan tanggal 25 Sya’ban 1435 hijriah atau tanggal 23 Juni 2014. Hmm.. itu artinya, menuju bulan Ramadhan tinggal 4 atau 5 hari lagi (karena dalam hitungan bulan hijriah, jumlah harinya kadang 29 tapi nggak pernah lebih dari 30, tergantung informasi terlihatnya hilal awal bulan). So, karena Ramadhan adalah bulan mulia dan penuh barokah, maka kita kudu nyiapin diri bukan saja dalam menyambutnya, tetapi juga mengisinya. Tentu saja mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah dan amal shalih yang sudah dijelaskan tuntunannya. Kabar gembiranya, di Bulan Ramadhan, amal ibadah kita diganjar dengan pahala berlipat ganda. Siapa yang nggak tergiur? Rasa-rasanya semua orang senang jika diberikan bonus berlipat ganda jumlahnya. Betul?

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa di bulan Ramadhan Allah Ta’ala melipatgandakan pahala dari ibadah dan amal shalih yang kita kerjakan. Kamu pasti bakal nyesel bila Ramadhan tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Padahal jelas-jelas di bulan ini ‘obral’ pahala begitu banyaknya. Seperti sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits qudsiy: “Demi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang yang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagiKu. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Tuh, bau mulut orang yang berpuasa harum lho bagi Allah Ta’ala. Tentu saja puasanya juga kudu benar. Niatnya karena mengharap ridho Allah Ta’ala. Namun bukan berarti kamu nggak jaga kesehatan mulut selama bulan Ramadhan dengan alasan bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah (dengan anggapan makin bau makin harum di sisi Allah). Nggak gitu juga kali. Gosok gigi sehabis sahur tetap kudu kamu lakukan. Mau tidur gosok gigi juga. Jangan sampe kamu nutupin rasa malas menjaga kesehatan gigi dengan alasan bau mulut orang berpuasa itu harum bagi Allah Ta’ala.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Hari-hari kita di awal Ramadhan juga sepertinya bakalan tambah rame dan semarak. Namun sayangnya, bukan karena momen Ramadhan ini disambut meriah banget. Tetapi karena ada ajang Piala Dunia di Brasil yang gaungnya semarak di televisi dan Pilpres di negeri kita. Waduh, paling nggak bakalan rame hingga pertengahan bulan Ramadhan nih. Ya, Pilpres aja 9 Juli 2014, final Piala Dunia di 13 Juli 2014. So, jadinya khawatir, semangat bangun malam bukan karena ingin shalat malam atau tadarus al-Quran, tapi karena hendak nonton sepak bola. Khawatir juga datang ke masjid-masjid dan berbagai majlis taklim, bukan karena ingin syiar Islam, tetapi malah kampanye pilpres. Nggak banget dah!

Berkah Ramadhan

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertak­wa,” (QS al-Baqarah [2]: 183)

Ini firman Allah dalam al-Quran. Shaum Ramadhan ini wajib lho bagi kaum muslimin yang sudah baligh, berakal, dan mampu. Artinya kalo kamu pengen nggak diwajibkan puasa, kudu jadi anak kecil atau jadi orang gila. Abisnya kesel juga sih, banyak remaja nggak puasa di bulan Ramadhan. Padahal itu remaja cowok. Emang pada halangan apaan? Meskipun remaja cewek lagi ada halangan alias lagi haidh, tetap aja nggak dibenarkan cacapluk alias makan di tempat terbuka saat siang hari di bulan Ramadhan. Itu sudah tahap mengganggu ibadah Ramadhan bagi kaum muslimin yang lain.

Sobat gaulislam, puasa itu lumayan berat, sehingga memerlukan kekuatan fisik. Itu sebabnya, bagi yang sedang sakit, sedang dalam perjalanan jauh untuk tujuan syar’i, wanita yang sedang hamil dan menyusui, orang yang sudah tua renta, bagi mereka semua memang ada rukhsah alias keringanan, yakni tidak melaksanakan puasa Ramadhan, tetapi wajib meng-qadha di bulan lain jika pada bulan tersebut fisiknya sudah kuat kembali. Tetapi jika sakitnya menahun dan menurut dokter secara medis tak mungkin diharapkan kesembuhannya, maka dia tidak wajib puasa dan tidak meng-qhadanya, tetapi wajib bayar fidyah.

Shaum Ramadhan juga menjadi jalan agar orang-orang beriman yang melaksanakannya kian tambah takwanya. Iya dong. Maka niatnya harus tetap dijaga, yakni demi meraih ridho Allah Ta’ala. Kalo kita melaksanakan shaum Ramadhan, selain mentaati perintah Allah dalam ibadah shaum tersebut, juga kita akan terikat dengan aturan Allah untuk aktivitas ibadah dan amal shalih lainnya di bulan Ramadhan. Sehingga, biasanya di bulan Ramadhan ini banyak kaum muslimin yang semangat ibadah dan amal shalihnya meningkat pesat karena berburu pahala dan berkah Ramadhan. Subhanallah!

Kerennya lagi nih, penggoda kita, yakni setan, dibelenggu selama Ramadhan. Udah gitu, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup. Abu Hurayrah mengatakan, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila tiba bulan Ramadhan, dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu” (HR Bukhari Muslim)

Mungkin di antara kamu ada yang protes karena melihat faktanya di bulan Ramadhan banyak yang nggak puasa, banyak pula yang maksiat (pacaran, mencuri, narkoba, berzina, korupsi dan sejenisnya). Hmm.. memang sih itu ada juga yang demikian. Namun, pengertian dibelenggunya setan itu makna dzahir alias bukan kiasan. Setannya secara fisik memang dibelenggu. Maka dengan demikian, kemaksiatan yang ada di bulan Ramadhan itu jauh lebih sedikit dibanding di bulan biasa. Jadi ada pengurangan. Kamu bisa saksikan sendiri kan berkah Ramadhan seperti dalam hadis di atas, acara televisi banyak yang lumayan bagus, majlis taklim penuh padat, masjid semarak dengan orang-orang yang tarawih dan tadarus al-Quran dan di hari-hari terakhir Ramadhan banyak yang i’tikaf, ini menunjukkan bahwa setan memang dibelenggu sehingga berkurang orang yang berbuat maksiat. Nah, kalo pun ada yang tetap maksiat di bulan Ramadhan, maka jawabannya bahwa kemaksiatan tak selalu karena godaan setan, tetapi juga karena jiwa yang buruk (akibat kebanyakan tergoda setan di bulan sebelumnya), kebiasaan yang jelek dan juga godaan setan dari golongan manusia. Nah, yang terakhir itu kayaknya yang paling banyak menggoda agar manusia berbuat maksiat. Waspadalah!

Bro en Sih rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Jangan lupa dalam berburu berkah Ramadhan, kita juga kudu menggiatkan lagi membaca al-Quran di setiap kesempatan. Bila perlu ditentukan target, misalnya sebulan kudu khatam. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Shaum dan Quran itu memintakan syafaat seseorang hamba di hari Kiamat nanti. Shaum berkata: Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Dan berkata pula al-Quran: Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memintakan syafaat.” (HR Ahmad, hadits hasan)

Di bulan Ramadhan juga ada malam yang mulia, yakni malam qadar. Jika kita mendapatkannya dalam keadaan sedang beribadah, maka kita laksana ibadah selama 1000 bulan, Luar biasa. Subhanallah! Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS al-Qadr [97]: 1-5)

Abu Hurayrah ra berkata, bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:“Siapa saja yang bangun pada malam Qadr karena dorongan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang lalu.” (HR Bukhari, Muslim)

Nah, selain berburu berkah Ramadhan dalam hal ibadah dan amal shalih, kita juga bisa memanfaatkan Ramadhan yang penuh barokah ini untuk bertaubat. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

“Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS al-Furqân [25]: 71)

Sobat gaulislam, memang sih kalo mau bertaubat nggak kudu nunggu bulan Ramadhan datang, Detik ini juga kalo kamu berbuat maksiat segera bertaubat. Hanya saja memang ada momen tertentu seperti bulan Ramadhan ini yang jika kesempatan untuk bertaubat itu memang datangnya di bulan Ramadhan. Setelah Ramadhan berlalu, tentu jangan berbuat maksiat lagi.

 

Sebenar-benarnya puasa

Bro en Sis, kita kudu benar-benar menjaga shaum kita agar sesuai dengan tuntunan Islam. Jangan sampe kita shaum tetapi maksiat jalan terus. Itu sih STMJ alias Shaum Terus, Maksiat Jalan. Rugi dah! Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersaba: Puasa adalah perisai (dari api neraka). Jika seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan bertengkar. Jika dimaki-maki orang lain, katakanlah: ‘Saya sedang berpuasa’ (HR Bukhari)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurayrah radhiallahu ‘anhu.: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan dusta dan berbuat buruk pada bulan Ramadhan, Allah tidak butuh kepada usahanya meninggalkan makan dan minum.” (HR Bukhari)

Begitulah Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Semoga pemaparan di buletin kesayangan kamu dalam menyambut Ramadhan ini bisa memberikan inspirasi dan tambahan ilmu agar shaum kita barokah dan ibadah serta amal shalih lainnya juga diganjar pahala berlipat ganda. Maka, niatkan semata untuk meraih ridho Allah dan caranya juga benar sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Selamat menyambut Ramadhan dan semoga kita bisa melaksanakan ibadah shaum dengan penuh barokah. Aamiin. [solihin | Twitter @osolihin]

 

Sumber Buletin Gaul Islam Edisi 348


  • 0

Yuuk Muslimah.. Maknai Shahih Bukhari Mengenai Puasa Ramadhan ^^

  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda “Puasa adalah perisai diri (dari api neraka)”. Maka seseorang yang sedang berpuasa janganlah menggauli istrinya, berkata kotor dan berbuat jahil, jika dia diajak bertengkar atau dicaci  hendaklah dia mengatakan, “Saya sedang berpuasa”. Rasulullah Saw mengulanginya dua kali. “Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya! sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah SWT lebih harum daripada bau misik/kesturi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Hambaku meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena aku. Puasa itu bagi-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali.[Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1894].
  2. Pintu Rayyan di Surga Bagi Orang-orang Yang Berpuasa: Diriwayatkan dari Sahl r.a bahwa Nabi Muhammad Saw pernah bersabda : “Di surga ada sebuah pintu bernama Ar-Rayyan yang kelak pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa, tanpa ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Dikatakan pada hari itu, “mana orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun bangkit untuk memasuki pintu itu tanpa seorangpun selain dari mereka yang memasukinya. Ketika mereka sudah masuk semua, pintu itu ditutup dan tidak ada lagi seorangpun yang memasukinya. [Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1896]
  3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang memberikan dua macam harta dijalan Allah akan dipanggil untuk memasuki pintu-pintu surga, Hai hamba Allah! inilah balasan harta yang kau infaqkan untuk kebaikan. Orang yang melaksanakan shalat akan dipanggil dari pintu shalat, orang yang berjihad akan dari pintu jihad, orang yang berpuasa akan dipanggil dari pintu Rayyan dan orang yang bersedekah shalat akan dipanggil dari pintu sedekah”. Abu Bakar r.a mengatakan : “Saya pertaruhkan ayah dan ibu saya kepada anda (ungkapan untuk memohon izin bertanya atau berbicara), ya Rasulullah! sungguh tidak ada kesedihan sedikitpun bagi orang yang dipanggil dari semua pintu-pintu tersebut, dan apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu ?” Rasullah Saw menjawab : “Ya, ada, dan aku berharap kaulah salah satunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadis : 1897].
  4. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu surga terbuka.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1898].
  5. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu langit/surga terbuka, semua pintu neraka tertutup dan setan-setan dibelenggu”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1899].
  6. Apakah Ramadhan atau bulan Ramadhan perlu disebutkan dan orang yang melihat hilal (bulan sabit di awal tanggal) ? Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, dia berkata : Saya pernah mendengar Rasullah Saw bersabda : “Apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Ramadhan), maka berpuasalah dan apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Syawal), maka hentikan puasa, dan apabila di langit diselimuti awan (sehingga hilal tidak terlihat), maka genapkan Ramadhan (30 hari)”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1900].
  7. Orang berpuasa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek: Diriwaytkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang berpuasa tanpa meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek, maka Allah tidak membutuhkan puasa”. [Hadits ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadits : 1903].
  8. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, “Semua amal ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”. Pada bagian akhir hadis disebutkan : “Orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan, dia merasa senang ketika bertemu dengan Tuhannya, dia juga merasa senang dengan pahala puasanya.” [Hadis ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadist 1904].
  9. Puasa bagi orang-orang yang tidak mampu menikah untuk mengendalikan syahwat Diriwayatkan dari ‘Alqamah bahwa Abdullah r.a mengatakan : Suatu ketika kami bersama Nabi Muhammad Saw, kemudian beliau bersabda : “Laki-laki yang sudah mampu menikah hendaklah ia menikah, karena menikah akan membuat pandangan matanya lebih merunduk dan membuat kemaluannya lebih terjaga. Siapa yang belum mampu menikah hendaklah ia berpuasa, karena puasa akan melerai nafsunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1906]
  10. Mengenai hitungan hari puasa bulan Ramadhan: Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, bahwa Rasulullah bersabda : “Satu bulan itu bisa 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa Ramadhan sebelum kamu melihat hilal dan apabila langit berawan (sehingga kamu tidak melihat hilal), maka genapkanlah Sya’ban 30 hari.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1907]
  11. Diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a, bahwa Nabi Saw pernah bersumpah untuk menjauhi istri-istrinya selama sebulan. Setelah berlalu 29 hari beliau datang pada pagi atau sore hari, lalu ditanyakan kepada beliau : “Anda telah bersumpah menjauhi istri-istri Anda selama satu bulan (mengapa sekarang anda datang ?)”. Rasulullah Saw menjawab : “Satu bulan itu kadang-kadang 29 hari.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1910]
  12. Dua bulan Id tidak berkurang keutamaannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah berkata : “Dua bulan Id, Ramadhan dan Dzul Hijjah tidaklah berkurang keutamaannya (meskipun kadang-kadang 29 hari).” (Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1912]
  13. Sabda Nabi Saw :”Kami tidak pandai menulis dan berhitung” Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a bahwa Nabi Saw bersabda : “Kami adalah umat ummiy. Kami tidak pandai menulis dan berhitung. Satu bulan itu sekian dan sekian”. Maksudnya : Kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1913]
  14. Larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Janganlah seseorang dari kamu mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa sunnat yang kebetulan waktunya pada hari itu, maka ia boleh berpuasa.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1914]
  15. Firman Allah SWT (yang artinya : “Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Quran, Surah Al-Baqarah : 187) Diriwayatkan dari Adiy bin Hatim r.a, dia berkata : Ketika turun ayat (yang artinya :”…. hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam”, saya mengambil dua utas tali pengikat masing-masing hitam dan putih, kemudian saya meletakkannya di bawah bantal saya. Pada malam hari saya melihat tali tersebut namun tidak tampak jelas pebedaan keduanya. Pada pagi hari saya menemui Rasulullah Saw untuk memberitahukan kepada beliau apa yang telah saya lakukan itu, kemudian beliau bersabda : “Benang hitam maksudnya gelapnya malam dan benang putih maksudnya terangnya siang (yakni fajar).” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1916]
  16. Perkiraan jeda antara sahur dengan shalat subuh Diriwayatkan dari Anas r.a bahwa Zaid bin Tsabit r.a mengatakan : Kami makan sahur bersama Rasulullah Saw, kemudian beliau berdiri untuk melaksanakan shalat (Subuh). Ditanyakan kepada Zaid : Berapa lama kira-kira antara azan dengan sahur ? Dia menjawab : Kira-kira bacaan 50 ayat Al-Quran. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits 1921]
  17. Sahur tidak wajib tetapi mengandung berkah Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah bersabda : “Makan sahurlah, karena makan sahur itu mengandung berkah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1923]
  18. Orang yang berpuasa dalam keadaan junub ketika subuh Diriwayatkan dari Aisyah dan Ummu Salamah r.a bahwa ketika fajar tiba, Rasulullah Saw pernah dalam keadaan junub sehabis menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1925]
  19. Memeluk istri bagi orang yang berpuasa Diriwayatkan dari Aisyah r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah mencium dan memeluk istrinya ketika beliau sedang berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan diri dibanding kalian semua. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1927]
  20. Makan dan minum karena lupa pada saat berpuasa Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Apabila seseorang lupa (bahwa ia sedang berpuasa) kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia lanjutkan puasanya, karena demikian itu berarti ia diberi makan dan minum oleh Allah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1933]

 

Sumber : http://adacerita1.blogspot.com/p/shahih-bukhari-mengenai-puasa-ramadhan.html


  • 0

Puasa Yuuk ^^

Category : KEMUSLIMAHAN

Puasa? Asyiik! Ada buka shaum bersama, gratis lagi! Ada sanlat Ramadhan, tarawih rame-rame, dll. Kalau dilanda malas gimana? Apa pula hubungan puasa dan diet?

“SENENG dong, bulan puasa. Meski rada-rada berat ngejalanin, tapi gimana lagi, kan Islam mewajibkan,” begitu kata Wati, pelajar SMP yang tinggal di Jalan Pajajaran Bogor ini. Syukur, ternyata doi termasuk yang sadar menjalankan ibadah shaum. Ada banyak kegiatan yang Wati suka lakukan. “Yang paling terkesan kalo ada acara Pondok Ramadhan di sekolah. Wah, heboh habis! Jarang-jarang kan kita bisa makan rame-rame bareng guru dan temen-temen,” ceritanya gembira.

Lia juga sama, gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Cewek yang kuliah di salah satu STIE di Bogor ini mengaku banyak mengikuti kegiatan positif saat puasa di lingkungan tempat tinggalnya. “Kebetulan aktif di DKM Masjid dekat rumah. Masjid jadi rame kalo bulan Ramadhan gini. Tiap hari bisa buka shaum gratis, he..he..he…,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Selain itu, di kampusnya dia juga lumayan aktif di rohis. Biasanya, dia dan teman-teman segeng rohisnya juga ngadain buka puasa? bersama meski nggak tiap hari, sanlat Ramadhan, dll. “Kalau itu sih, udah tradisi,” katanya seperti model iklan Biskuit Roma di teve itu. Pernah nggak seh malas? ”Yah, namanya orang puasa. Aku juga suka lemes, malas dan kadang mudah emosi. Tapi, kita kan musti bisa menahan diri, kalo nggak puasanya sia-sia dong!” katanya rada-rada ngeles. Padahal, emang ada benernya sih.

Puasa vs Wanita

Kewajiban berpuasa, diperintahkan Allah SWT bagi laki-laki maupun wanita. Sebagaimana dalam surat Al Baqarah 183 (kamu pasti hafal kan!) yang artinya ‘Hari orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kami, agar kamu bertaqwa.’ Begitu pula Sabda Rasulullah: ‘Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu’ (HR Ashabus Sunan dari Abu Hurairah).

Seruan itu bersifat aam atawa umum baik bagi cowok maupun cewek. Artinya, nggak ada alasan buat ninggalin kewajiban itu. Kendati kamu cewek, kamu pasti kuat menjalankan puasa, sama dengan kaum Adam. Karena, Allah SWT Zat Yang Maha Mampu mengukur kemampuan kamu.

Memang, ada saatnya di mana kamu haram meneruskan puasa, yakni jika mendapatkan haid dan nifas (keluar darah sehabis melahirkan). Hanya saja, meski kamu bebas tugas puasa pada saat itu, kamu musti menggantinya (mengqadha’) di hari lain. Ceritanya, kamu tuh ngutang puasa sama Allah SWT yang musti kamu bayar segera di luar Bulan Ramadhan.

Selain itu, kalo kamu tiba-tiba jatuh sakit yang mengganggu fisik atau mental kamu, maka boleh membatalkan puasa. Syaratnya tetap, wajib mengganti di hari lain. Bagaimana dengan wanita yang hamil dan menyusui? Bila wanita hamil itu ada perasaan takut dengan berpuasa bisa membawa mudharat diri dan janin dalam kandungannya, maka dia boleh tidak puasa. Sebagai gantinya, wajib meng-qadha di hari lain. Sementara jika pertimbangannya karena khawatir akan keselamatan janinnya semata, maka harus meng-qadha di lain hari sekaligus membayar fidyah.

Puasa dan Kesehatan

Selain hukumnya memang wajib, sebetulnya apa sih manfaat puasa? Mungkin ada sudut hatimu yang usil bertanya begitu. Meskpun memang, harusnya nggak perlu kamu tanyakan kenapa musti puasa. Sebab itu kewajiban dari Allah SWT yang nggak perlu dipertanyakan latar belakangnya, tujuan, misi, visi dan manfaat kegiatan itu. (kayak proposal seminar aja). Tapi, wajar kalo kamu penasaran. Orang lapar kok dilarang makan, haus dilarang minum. Aneh, kan! Namun dari sisi medis, bisa dijelasin kok kira-kira manfaat puasa itu apa. Rasulullah sendiri bersabda: Shuumuu nashimuu yang artinya berpuasalah supaya kamu sehat.

Pada waktu melakukan puasa, terjadi perubahan metabolisme tubuh kita akibat penghentian total asupan energi, bahan pembangun serta air selama periode aktif di siang hari. Karena tidak ada asupan energi, tubuh menggunakan cadangan energi yang ada dalam tubuh. Di sisi lain, sisa-sisa bahan makanan yang tidak diperlukan tubuh tidak menumpuk, melainkan langsung dibuang sehingga tubuh lebih sehat. Pada keadaan puasa ini, kerja lambung dan perangkat pencernaan lain juga berubah. Tentu saja kerjanya jadi lebih enteng, sehingga organ-organ pencernaan bisa sedikit santai dan fungsinya bisa berjalan dengan lebih baik.

Secara keseluruhan, perubahan metabolisme pada seseorang akan tampak secara objektif dan dirasakan dalam bentuk penurunan berat badan. Wajar jika ada yang menjalankan puasa bila ingin melakukan diet penurunan berat badan. Karena memang terbukti, puasa adalah cara yang aman dan sehat untuk menurunkan berat badan.

Nah, selama puasa banyak perubahan yang terjadi. Pertama, perubahan kebiasaan waktu makan dan minum. Lebih kurang 14 jam mulai terbit fajar sampai terbenam matahari kita tidak makan dan minum. Makan dan minum hanya dilakukan malam dan menjelang pagi. Hal tersebut akan menimbulkan rasa lapar dan haus. Karena perubahan pola makan ini, akan terjadi pula perubahan pada pengosongan lambung. Lamanya pengosongan lambung tergantung isi lambung. Isi lambung yang cair lebih cepat kosong daripada yang padat. Makanan padat banyak yang mengandung karbohidrat akan meninggalkan lambung dalam 2-3 jam. Sedangkan bila banyak mengandung lemak akan lebih lama berada di dalam lambung. Bila kita berbuka atau sahur, kandungan makanan yang kita makan akan mempengaruhi waktu timbulnya rasa lapar.

Saat puasa juga terjadi perubahan pola tidur. Kita harus bangun dini hari untuk makan sahur. Bagi yang tidak biasa bangun shalat malam atau subuh di awal waktu, ini sangat berat. Namun akan segera diterima dan tubuh akan menyesuaikan diri.

Selain itu, juga terjadi perubahan emosi. Ingat, orang lapar biasanya gampang marah. Nah, disinilah diuji untuk mengendalikan amarah, takut, benci, sedih, dll. Pokoknya, semua yang termasuk keluarga stres musti dihindari agar puasanya sukses. Manifestasi fisik dari emosi disalurkan melalui sistem saraf somatik dan otonom. Orang yang marah misalkan, akan terlihat tegang, jantung berdebar keras, dan tekanan darah tinggi. Hal itu tergolong gangguan psikosomatik. Nah, dengan berlatih mengendalikan emosi dan bebas dari rasa berdosa, dapat membebaskan orang dari gangguan psikosomatis itu. So, kejiwaan kamu lebih sehat!

Boks ================

Kiat Tampil Bugar di Bulan Ramadhan

MALAS, lemes, nggak bergairah, bawaannya pengin tidur. Itu diantara yang kamu-kamu alami ketika menjalankan ibadah shaum. Akibatnya, kewajiban yang harusnya kelar, kadang jadi terbengkalai gara-gara nuruti nafsu malasmu. Padahal, banyak cara untuk menghindari rasa malas-masalan kamu itu, lho! Nih, ada beberapa kiat yang mudah-mudahan bisa bikin kamu tetep tampil seger buger di Bulan Ramadhan. Simak ya!

Pertama, mengatur pola makan, sesuaikan dengan kondisi tubuh. Hal ini berarti kita harus memperbanyak makan pada waktu sahur dan buka, dengan tidak melupakan keterbatasan dan kapasitas perut kamu. Yang lebih diutamakan adalah peningkatan kualitas makanan, bukan hanya kuantitasnya. Misal, agar tidak merasa lemas, makanlah makanan yang mengandung energi tinggi dan mudah dicerna, terutama saat berbuka. Jenis makanan ini harus mengandung kadar gula tinggi, seperti kurma, buah-buahan, kolak, dll. Makanan yang lama dicerna menyebabkan lambung bekerja keras sehingga membuat kita ngantuk. Kasihan dong lambung kamu, abis istirahat dari pagi ampe sore, tiba-tiba suruh kerja rodi.

Jadi, sebaiknya jangan langsung makan besar saat buka shaum tiba. Karena, nasi yang banyak mengandung karbohidrat lama dicerna lambung. Ntar keburu ngantuk abis makan. Padahal kita kan butuh shalat Isya dan Tarawih. Jadi, begitu bedug maghrib terdengar, segera batalkan puasa, tetapi jangan makan berat. Setelah itu shalat Magrib, baru makan besar. Itupun jangan terlalu rakus karena bisa-bisa nggak kuat Tarawih. Makan sahurpun sebaiknya ditutup dengan makanan yang manis karena energi yang terkandung di dalamnya akan tersimpan di tubuh sehingga kita punya cadangan energi yang cukup untuk beraktivitas sehari-hari. Dengan begitu kita nggak lemes.

Kedua, mengatur pola kegiatan. Aktivitas sehari-hari memang nggak boleh kendor meski sedang puasa, apalagi yang wajib-wajib. Misalnya ke sekolah, belajar, ngaji, membantu orangtua dan juga berdakwah. Tapi, waktunya harus diatur agar tidak seharian penuh semua aktivitas dilakukan. Jadi, tenaga jangan diforsir. Adapun aktivitas yang mubah, boleh-boleh saja tidak dilakukan atau dikurangi frekuensinya. Daripada nonton TV atau jalan-jalan ke mal misalnya, mending buat tidur untuk hemat energi. Lagian, tidurnya orang puasa kan berpahala. (Eit, ini bukan pelegalan untuk tidur melulu, ya!) Atau, mending buat baca buku yang nggak terlalu meres keringet.

Demikian pula olahraga, tetep bisa dilakukan. Tapi, kuantitasnya diturunin, sesuaikan dengan energi. Kalo biasanya kuat fitness berjam-jam misalnya, kurangi jadi cukup 30 menit aja. Sebaiknya olahraga dilakukan sore hari menjelang buka puasa. Sehingga, begitu energi kamu habis, gak pake nunggu lama bisa menggantinya karena waktu berbuka tiba. Perlu dicatat, kalo aktivitas sehari-hari kamu telah menuntut kegiatan yang mirip olahraga, misal banyak lari (kegiatan apa yang banyak lari, ya??), banyak jalan atau naik-turun tangga, itu cukup sebagai pengganti olahraga.

Ketiga, mempersiapkan mental, hati dan pikiran kita. Dalam mensikapi bulan Ramadhan, dibutuhkan penataan dari sisi psikologi. Sertai aktivitas kamu dengan nilai ruhiyah, yakni kesadaran akan hubungan kamu dengan Allah SWT, bahwa puasa dalam rangka taqarub, mendekatkan diri pada-Nya. Jadi, bukan dengan motivasi lain, menurunkan berat badan misalkan. (Hitung-hitung sekalian diet). Sikap positif, ikhlas, sabar dan tenang dalam menjalankan ibadah Ramadhan akan berpengaruh pada aktivitas kita. Kita jadi nggak malas-malasan, bahkan malah bersemangat empat lima untuk menjalankannya. Bagaimana tidak, wong apapun yang kita lakukan, bila bernilai pahala maka akan mendapat ganjaran berlipat-lipat kok. Bunga rentenir aja kalah. So, buang rasa malas kamu! Bukankah Allah SWT berfirman: Fastabiqul khairat, berlomba-lombalah dalam kebaikan! Tunggu apa lagi! Yuk? berlomba-lomba mengejar pahala buat bekal di Hari Akhir!![asri]

Sumber Buletin Gaul Islam 31 Mei 2009